Tarcisius Cup di Paroki Kalasan: Memotivasi Misdinar Jadi Generasi Muda Gereja yang Menjanjikan

0
259 views
Gelora semangat para misdinar se Kevikepan DIY mengikuti gelaran Tarcisius Cup di halaman Gereja St. Maria Marganingsih Paroki Kalasan, DIY. (Yusup Priyasudiarja/Paroki Kalasan)

SERING banyak kalangan menyampaikan keprihatinannya terhadap kiprah kaum muda Katolik yang hanya tertarik dengan hal-hal sekuler dan tampak tidak peduli dengan kehidupan menggereja.

Tapi, apakah benar memang demikian? Kesan seperti demikian itu tidak selamanya benar.

Buktinya, lebih dari 1.500 putera-puteri altar yang berasal dari paroki-paroki se-Kevikepan Yogyakarta mau hadir dan terlibat dalam kegiatan Tarcisius Cup yang diselenggarakan pada hari Minggu, 5 Agustus 2018 di Gereja St. Maria Marganingsih Paroki Kalasan, Yogyakarta.

Baca juga: Situs resmi Gereja St. Maria Marganingsih Paroki Kalasan, DIY di sini.

Banyaknya jumlah peserta ini sungguh menggembirakan dan melejitkan optimisme terhadap kiprah kaum muda untuk terlibat aktif dalam mengembangkan Gereja.

Romo Antonius Dadang Hermawan Pr (Pastor Paroki Marganingsih Kalasan) menjelaskan, acara ini istimewa karena bisa mengumpulkan begitu banyak anak muda. Dari sisi jumlah peserta yang berpartisipasi dalam Tarcisius Cup 2018 ini, jumlahnya merupakan catatan terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan Tarcisius Cup.

Mencintai liturgi Gereja dengan menyanyi lagu-lagu gerejani.
Lomba koor antarmisdinar se Kevikepan DIY dalam Tarcisius Cup.

Ini menjadi momen untuk menyapa mereka sekaligus menciptakan kenangan bagi mereka.

Romo Dadang berharap kaum muda yang berkumpul ini mempunyai pengalaman bahwa mereka pernah berjumpa, kemudian bisa berjejaring dan bisa saling menguatkan satu sama lain. “Sebagai bagian dari formatio iman berjenjang, acara ini sangat bagus. Harapan saya, mereka akan menjadi generasi yang memiliki kemampuan sinergis yang bagus dan memiliki militansi iman,” kata Romo Dadang dengan ekspresi romam muka bangga.

Semangat St. Tarcisius

Tarcisius Cup merupakan ajang dua tahunan bagi Putera-puteri Altar paroki se-Kevikepan DIY untuk bertemu, berkumpul, dan berdinamika bersama. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghidupi spiritualitas dan semangat Santo Tarcisius yang teguh dalam iman dan keberaniannya dalam menghadapi tantangan.

Teladan Santo Tarcisius sangat berguna untuk memberikan inspirasi bagi anak dan remaja dalam menghadapi tantangan zaman kini.

Tiga S dalam gelaran sukacita Tarcisius Cup yang berakhir dengan pembagian hadian kenangan dan arena hiburan.

Tarcisius Cup sudah berlangsung sejak tahun 1991 dan penyelenggaran tahun 2018 ini menjadi penyelenggaraan yang ke-14. Artinya, kegiatan ini sudah diselenggarakan selama 28 tahun di Kevikepan Yogyakarta.

Tarcisius Cup kali ini mengusung tema “Berkembang dalam Iman dan Persaudaraan menuju Gereja yang Inklusif, Inovatif, dan Transformatif”.

Tema ini mengajak Putera-puteri Altar untuk berkembang dalam iman dan membangun persaudaraan bukan hanya dengan teman-teman di paroki masing-masing, tetapi juga dengan teman-teman dari paroki lain. Ini dilakukan dengan harapan bahwa mereka akan semakin inklusif dan terbuka kepada siapa saja dan apa pun latar belakangnya.

Acara diawali dengan Perayaan Ekaristi konselebrasi dengan selebran utama Romo Andrianus Maradiyo Pr (Romo Vikep Yogyakarta), sedangkan homili disampaikan Romo AR Yudono Suwondo Pr (Ketua Komisi Liturgi KAS).

Imam lain yang turut mendampingi adalah Romo Antonius Dadang Hermawan Pr (Pastor Paroki Marganingsih Kalasan), Romo Y. Ari Purnomo Pr (Ketua Komisi Liturgi Kevikepan DIY), serta Romo Andreas Khrisna Gunawan Pr.

Penampilan koor siswa-siswi SD Kanisius Kalasan dengan iringan orkestra yang sangat bagus telah ikut menciptakan suasana khusuk sekaligus semarak selama berlangsungnya Perayaan Ekaristi.

Lomba para liturgi.

Tiga “S”

Di awal kotbahnya, Romo AR Yudono Suwondo Pr mengajak anak-anak untuk berdiri dan saling mengucapkan salam “Sawang, Sanja, Srawung”.

“Kalian semua berkumpul di sini untuk saling sawang (melihat), sanja (mendahului untuk menjabat tangan sesamanya) dan srawung (bergaul dengan sesama apapun latar belakangnya),” kata Romo AR Yudono Suwondo.

Imam diosesan KAS ini juga mengingatkan bahwa putera altar diminta untuk semakin menyadari bahwa Perayaan Ekaristi yang dilayani para misdinar itu adalah roti hidup.

Ekaristi selama ini diperjuangkan oleh Gereja dan salah satu orang yang muda seusia putera altar dengan sikap besar sangat menghormati Ekarisi adalah Santo Tarsicius. Itulah sebabnya, Santo Tarsicius diangkat oleh Gereja sebagai santo pelindung putera altar dan diperingati setiap tanggal 15 Agustus.

Sebelum berkat penutup, Romo  Andrianus Maradiyo Pr memukul gong sebanyak tiga kali sebagai pertanda dimulainya Tarcisius Cup. “Anak-anak, selamat mengikui acara Tarcisius Cup. Selamat bergembira,” pesan Romo Vikep DIY.

Usai Perayaan Ekaristi, peserta kemudian terlibat dalam kegiatan lomba koor, lomba paramenta, lomba cerdas cermat, lomba baca Kitab Suci, festival memancing dan festival futsal. Acara festival dikemas dalam suasana yang menyenangkan sehingga tidak terkesan kompetitif dan peserta bisa saling menyemangati.

Ketua umum Tarcisius Cup XIV, Dorothea Devina Krismayanti, menegaskan bahwa kegiatan yang diselenggarakan lebih menitikberatkan pendalaman liturgi serta perjumpaan dan persaudaraan di antara putera-puteri altar se-Kevikepan DIY sehingga unsur kompetisi dan kejuaraan dalam lomba tidak kental terasa.

Sukacita bersama dengan kegiatan lomba mancing.
Lomba mancing dan Romo Sapto Pr pun ikut nimbrung.

Ini pula yang dirasakan oleh Romo Rosarius Sapto Nugroho Pr yang kini bertugas pastoral di Paroki Wonosari.

“Acara berjalan lancar dan bagus. Tempat sangat memadai dan acara dapat dikemas ringkas. Pesertanya joss. Sangat antusias dan ikut terlibat. Saya setuju bahwa Tarcisius Cup tidak berkonsep kompetisi tetapi bermain bersama. Senang-senang dan saling memberi semangat,” ungkap imam diosesan asal Paroki Wedi ini sambil asyik memancing.

Masa depan Gereja

Begitulah yang terjadi.  Pada hari Minggu, 5 Agustus 2018, sedari pagi hingga petang, kaum muda Gereja dihadirkan bersama di Paroki Kalasan untuk bisa saling menyapa dan menyatu untuk membina persaudaran sejati dalam suasana yang menggembirakan. Jumlah peserta dan keterlibatan aktif peserta serta suasana yang sangat menggembirakan ini secara khusus mendapatkan apresiasi dari Romo Vikep Yogyakarta.

“Peserta sangat mengagumkan dan membanggakan. Semua turut ambil bagian. Tempat sangat memadai, dan berkesan ekologis yang kuat. Putera-puteri Altar atau para Misdinar adalah generasi muda Gereja Katolik yang sangat menjanjikan, tidak hanya di DIY tetapi juga di Keuskupan Agung Semarang,” ungkap Romo Maradiyo yang berasal dari Paroki Girisonta ini.

Futsal, jenis olahraga bola sepak yang kini semakin populer.
Lomba futsal demi motto “Mens sana in corpore sano”.

Benar bahwa putera-puteri Altar adalah masa depan Gereja yang sangat menjanjikan dan Tarcisius Cup di Kevikepan Yogyakarta menjadi ajang yang sangat baik untuk menumbuhkan persaudaraan sejati di antara mereka sekaligus menumbuhkan semangat pelayanan dan iman dalam hati kaum muda. Hal lain yang menggembirakan, keberhasilan acara ini tidak terlepas dari hasil kerja keras panitia yang juga didominasi kaum muda sebagaimana diungkapkan Romo AR Yudono Suwondo Pr yang sejak awal mendampingi panitia.

“Orangtua hanya mendampingi dan mendorong saja. Panitia lebih didominasi kaum muda dan mereka telah bekerja keras dan penuh dedikasi. Peserta juga sangat antusias. Saya menemukan masa depan Gereja di sini,” jelas Romo AR Yudono Suwondo Pr.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here