“Urang Sadayana Sadulur”: Temu Unio Regio Jawa di Bogor 18-21 Sept 2018 (2)

0
196 views
Temu Unio Regio Jawa di Keuskupan Bogor, 18-21 September. (Panitia)

DENGAN semangat “Urang Sadaya Sadulur” yang berarti “Kita semua bersaudara”, 174 imam praja (diosesan) dari tujuh  keuskupan di Regio Jawa (Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Purwokerto, Surabaya, dan Malang) berkumpul bersama di wilayah gerejai Keuskupan Bogor. Mereka datang, berkumpul dan wawanhati bersama  untuk menghayati persaudaraan imamat, sambil belajar bersama atas beberapa topik paparan.

Pertemuan Unio di berbagai Regio sudah menjadi tradisi yang bermakna bagi segenap imam diosesan di seluruh keuskupan di Indonesia.

Forum ini digagas untuk menghayati hidup imamat, semangat persaudaraan, dan belajar bersama demi tujuan agar masing-masing imam diosesan di wilayah pastoralnya itu lebih bisa melayani umat dan masyarakat.

Suasana pertemuan Temu Unio Regio Jawa.

Best practice Keuskupan Bogor

Untuk Temu Unio Regio 2018 tema yang dipilih adalah “Potret Karya Pastoral Keuskupan Bogor dalam Membangun Toleransi di Tengah Pluralitas”.

Keuskupan Bogor sejak dipimpin Mgr. NJC Geise OFM dan kemudian sekarang diteruskan oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM saat ini memang selalu berusaha mengedepankan communio bersama masyarakat.

Almarhum  Mgr. NJC Geise OFM adalah doktor antropologi lulusan Universitas Leiden dengan disertasi tentang masyarakat Baduy. Beliau  mengajar Islamologi dan Pancasila, serta sangat dihormati komunitas Islam dan masyarakat Sunda.

Mgr. NJC Geise OFM juga adalah pendiri Universitas Katolik Parahyangan yang merupakan universitas Katolik pertama di Indonesia. Selama lebih dari 20 tahun menjadi Rektor Unpar, Mgr. NJC Geise OFM berhasil membangun universitas Katolik yang sangat terbuka untuk semua orang dari berbagai suku dan agama.

Walkot Bogor

Bima Arya, kini Walikota Bogor dan alumnus Fisip Universitas Katolik Parahyangan, dalam sambutannya di acara pembukaan Temu Unio Regio Jawa memanggil Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM sebagai guru dan tempat bertanya.

Bima Arya adalah orang asli Bogor. Ia  memberi sambutan dengan  memperlihatkan bagaimana masyarakat Bogor senantiasa memelihara persaudaraan lintas agama. Sebagai walikota, Bima Arya mengajak masyarakat untuk secara aktif bekerja sama lintas agama.

Membangun Toleransi di Tengah Pluralitas: Temu Unio Jawa ke-3 di Keuskupan Bogor (1)

Di Bogor,  misalnya,  ada Basolia atau Badan Sosial Lintas Agama yaitu forum kerjasama lintas agama untuk bekerjasama dalam bidang sosial, kesehatan, dll. Badan semacam Basolia ini tidak ditemukan di daerah lain.

Bima Arya tiap Natal selalu mengajak Muspida masuk gereja untuk mengucapkan Selamat Natal langsung ke umat yang sedang merayakan Hari Raya Natal. Berbagai kegiatan keagamaan lain seperti Perayaan Cap Gomeh juga difasilitasi.

Bima Arya mengakui bahwa masalah masih ada misalnya soal Gereja Yasmin, namun kita harus terus menabur harapan.

Kata Bima Arya “keberbedaan adalah keniscayaan dan kerukunan itu harus diperjuangkan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here