Home BERITA 21 April 2026: 125 Tahun Usia Gereja St. Maria Diangkat ke Surga...

21 April 2026: 125 Tahun Usia Gereja St. Maria Diangkat ke Surga Katedral Jakarta

0
54 views
Bangunan kokoh Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga Katedral Jakarta yang di tanggal 21 April 2026 genap merangkai usai 125 tahun. (Gereja Katedral Jakarta)

TANGGAL 21 April 2026, umat di Keuskupan Agung Jakarta, khususnya umat Paroki Katedral Jakarta, mensyukuri rahmat Tuhan atas perayaan 125 tahun Gereja Katedral Jakarta. Gereja ini berlanggam Neo-Gotik, dengan arsitek seorang pastor bernama Antonius Dijkmans, SJ; pembangunannya dilaksanakan oleh Marius Hulswit.

Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 16 Januari 1899 oleh Carolus Wenneker. Gereja ini diresmikan dan diberkati pada tanggal 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen, Uskup Tituler Orope dan Vikaris Apostolik Batavia.

Penampakan Gereja Katedral Jakarta dan Lapangan Banteng tempo dulu kira-kira tahun 1930-an. (Ist)

Gereja Katedral Jakarta bernaung di bawah nama pelindung Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Pemberkatan Gereja Katedral pada tahun 1901 dilaksanakan dalam Misa Pontifikal yang diiringi oleh Paduan Suara Santa Sesilia yang didirikan oleh C.G.F. van Arcken pada tahun 1865.

Silakan melihat lebih detil aneka pernak-pernik Gereja Katedral Jakarta di situs resminya: https://katedraljakarta.or.id

Penampakan arsitektur luar Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga Katedral Jakarta. (Gereja Katedral Jakarta)

Misa syukur bersama Uskup Kardinal Suharyo dan para pastor Katedral

Hari Selasa tanggal 21 April 2026 pekan lalu, diselenggarakan Misa Syukur 125 Tahun Gereja Katedral Jakarta yang dipimpin oleh Ignatius Kardinal Suharyo selaku Uskup Keuskupan Agung Jakarta. Ia didampingi:

  1. Romo Macarius Maharsono Probho SJ selaku Pastor Kepala Gereja Katedral.
  2. Romo Yusup Edi Mulyono SJ selaku Vikaris Episkopal Keuskupan Agung Jakarta.
  3. Romo Yohanes Deodatus SJ selaku Pastor Rekan Gereja Katedral.

Setelah Misa Syukur, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas 125 tahun Gereja Katedral dan perjalanan iman umat selama ini.

Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Pameran Fotografi 125 Tahun Gereja Katedral dengan tema “Upaya Pelestarian yang Berkelanjutan” oleh Bapak Kardinal bersama para romo dan pengurus.

Pernak-pernik penampakan ruang dalam Gereja Santa Maria Katedral Jakarta.(Gereja Katedral Jakarta)

Harapan Uskup Keuskupan Agung Jakarta

“Tentu saja, ucapan selamat ini bukan ditujukan kepada bangunan gerejanya, melainkan kepada seluruh umat beriman yang biasa datang ke sini, khususnya umat Paroki Gereja Katedral Jakarta,” ungkap Uskup Keuskupan Agung jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.

“Sebagai sebuah katedral—yang dikenal sebagai Gereja Induk—semoga kehadirannya menjadi model bagaimana Gereja hidup dan melayani, baik bagi umatnya maupun bagi masyarakat. Semoga Gereja terus mencari cara-cara pelayanan yang kreatif di tengah perubahan zaman, sehingga tetap bermakna dan relevan bagi komunitas dan umat beriman,” demikian harap Kardinal Suharyo.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pelayanan gereja ini: mereka yang berada dalam kepemimpinan, komunitas basis, tingkat paroki, wilayah, serta berbagai bidang pelayanan. Semoga semua upaya ini terus menjadi berkat bagi banyak saudara-saudari kita, serta memuliakan dan memuji Tuhan,” pungkasnya.

Penampakan ruang dalam Gereja Santa Maria Katedral Jakarta. (Situs resmi Gereja Katedral Jakarta)

Pameran fotografi dan seminar arsitektur

Pameran fotografi ini menampilkan foto-foto bangunan dalam bentuk dua dimensi sesuai kondisi aktual, yang diharapkan dapat menggugah kepedulian untuk merawatnya. Hal ini menjadi penting, mengingat Gereja Katedral telah diresmikan sebagai Cagar Budaya Nasional sejak tahun 2018 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Rangkaian kegiatan berikutnya adalah Seminar Arsitektur bertajuk “Heritage Walk and Talk: Gereja Katedral Jakarta” yang akan diselenggarakan pada hari Jumat, 1 Mei 2026, di Grha Pemuda lantai 4.

Seminar ini memperkenalkan Gereja Katedral Jakarta sebagai studi kasus praktik pelestarian warisan yang bertanggung jawab. Diharapkan kegiatan ini memberikan pembelajaran bagi para pendidik, arsitek, kontraktor, dan masyarakat luas dalam merawat bangunan bersejarah dengan kesadaran etis.

Acara seminar ini juga akan mengajak peserta mengikuti jelajah arsitektur yang dipandu oleh tim Museum Katedral. Jelajah ini menyoroti desain Neo-Gotik, organisasi ruang, simbolisme dalam karya seni, perabot liturgi, serta elemen interiornya.

Seminar ini bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Jakarta dan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu:

  • Ar. Gregorius Yori Antar Awal dari IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) sekaligus mewakili PT Han Awal & Partners.
  • Dr. Johannes Wibowo (Pusat Data Arsitektur).
Logo perayaan 125 tahun Gereja St. Maria Diangkat ke Surga Katedral Jakarta. (Ist)

Konsep Logo 125 Tahun Gereja Katedral Jakarta

Dalam rangka memperingati 125 tahun berdirinya Gereja Katedral Jakarta, Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga menyiapkan logo khusus dengan beberapa konsep penting sebagai dasar.

Logo ini berlandaskan ayat Kitab Suci dari Injil Yohanes 15:5: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Teks ini menyiratkan bahwa kehidupan bersumber dari Tuhan sebagai pokok yang memberi kelimpahan bagi umat manusia yang terhubung dengan-Nya.

  1. Angka 1 digambarkan dengan tiga helai daun berwarna hijau di bawahnya, melambangkan keutuhan alam ciptaan yang perlu dijaga sebagai anugerah Tuhan.
  2. Angka 3 juga melambangkan Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera, dan Roh Kudus sebagai dasar iman Katolik.
  3. Hubungan manusia dan Tuhan digambarkan melalui tangan yang saling bertumpuk sebagai satu kesatuan, terinspirasi dari lukisan The Creation of Adam karya Michelangelo.

Dalam logo tersebut, tangan Tuhan berada di atas sebagai simbol bimbingan dan anugerah, sedangkan tangan manusia berada di bawah sebagai tanda ketergantungan dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Warna biru dan hijau yang saling mengalir melambangkan kesatuan unsur alam—air, udara, dan kehidupan. Warna biru diambil dari identitas Katedral Jakarta sebagai simbol kerudung Bunda Maria, yang melambangkan kesabaran, kesetiaan, dan ketulusan.

Jenis huruf yang digunakan bersifat modern, sederhana, dan mengalir, melambangkan perjalanan ke depan yang tulus, tegas, dan berkelanjutan.

Tagline yang diusung melanjutkan tema sebelumnya, yaitu: “Merawat ciptaan, menumbuhkan iman.”

Tulisan “merawat ciptaan” ditempatkan lebih besar sebagai fokus tahun 2026, sedangkan “menumbuhkan iman” menjadi dasar sekaligus buah dari upaya merawat ciptaan Tuhan.

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo