Allah yang Hidup

0
225 views
Mempersiapkan kehidupan sesudah mati

DALAM alam bawah sadarnya, manusia menunjukkan hasratnya akan hidup abadi.
Banyak legenda dari masyarakat kuno yang mengisahkan tentang kehidupan setelah kematian. Pendeknya, kematian itu bukan akhir, melainkan pintu masuk ke dalam hidup yang lain.

Ajaran Kristen bukan legenda, melainkan berdasarkan fakta iman akan Yesus Kristus yang menderita sengsara, wafat dan bangkit. Yesus yang berada di Yerusalem untuk menghadapi peristiwa itu bertemu dengan beberapa orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan dan hidup kekal (Lukas 20: 27).

Menanggapi hal itu Yesus menegaskan tentang Allah yang kita imani. Yesus bersabda, “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Lukas 20: 38). Yesus mengajarkan hal ini ketika mengajarkan tentang kebangkitan orang mati.

Dalam dunia kebangkitan itu, orang-orang yang layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan orang mati tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat, dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan (Lukas 20: 35-36).

Dunia orang bangkit berbeda dari dunia sekarang ini. Di sana, orang tidak kawin dan dikawinkan. Jadi, tujuh bidadari tidak diperlukan. Mereka tidak dapat mati lagi alias mengalami hidup abadi. Mereka seperti malaikat yang senantiasa memuji Allah (lihat Wahyu 4: 8).

Injil hari ini (Lukas 20: 27-38) mengajarkan hal fundamental tentang kehidupan. Pertama-tama, manusia itu diciptakan untuk hidup, karena penciptanya adalah Allah orang hidup (Lukas 20: 38).

Konsekuensinya, kita bertanggungjawab membangun budaya hidup. Kita mesti menghormati hidup, baik hidup kita sendiri maupun hidup orang lain. Mengonsumsi narkoba atau mati dengan bom bunuh diri bertentangan dengan budaya hidup.

Kedua, iman akan kebangkitan memberikan keberanian dalam menjalani hidup yang benar (lihat 2 Makabe 7: 1-2.9-14). Kita didorong untuk berani mati dalam menaati hukum tertinggi, yakni Yesus Kristus. Mereka yang berani mati untuk Dia akan menikmati kebangkitan dan kehidupan abadi.

Mengapa? Karena, “Yesus Kristus adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.” (lihat Kolose 1: 18; Wahyu 1:5a.6b). Dalam Yesus, orang menemukan makna dan menikmati hidup sejati.

Orang Kristen diajak membangun budaya hidup; bukan budaya kematian. Di sana hidup itu dipenuhi dengan iman, pengharapan, dan kasih berdasar pada Yesus Kristus.

Melalui hidup, sengsara, dan wafat-Nya, Dia masuk ke dalam kebangkitan. Pengikut-Nya diajak setia hidup bagi Dia, sehingga kematiannya akan mengubahnya ke dalam hidup abadi bersama-Nya.

Di sana orang berjumpa dengan Allah yang hidup.

Minggu XXXII C, 6 November 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here