Artikel Kesehatan: Pekan Menyusui Sedunia 2020

0
103 views
Pekan Menyusui Sedunia Tahun 2020 by Lactation Org

PEKAN Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) dirayakan setiap tahun mulai tanggal 1 hingga 7 Agustus, untuk mendorong pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan meningkatkan kesehatan bayi di seluruh dunia.

Apa yang perlu dicermati?

Pekan Menyususi Sedunia tahun 2020 dirayakan dengan tema dukung menyusui untuk bumi yang lebih sehat (support breastfeeding for a healthier planet).

Perayaan tahun 2020 ini akan fokus pada dampak pemberian makan bayi pada lingkungan dan perubahan iklim. Selain itu, juga untuk keharusan melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI untuk kesehatan bumi dan penghuninya.

Tema ini selaras dengan kampanye SDG 2030 tentang hubungan antara menyusui dan perubahan lingkungan atau iklim global.

Peringatan ini dimotori oleh The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) atau Aliansi Dunia untuk Menyusui, yang menerapkan pendekatan (the warm chain approach) kerjasama lintas sektor terkait masalah lingkungan dalam menekankan hubungan antara menyusui dan lingkungan.

Inti utama kampanye adalah menyusui sebagai keputusan cerdas atas iklim (a climate-smart decision) untuk meningkatkan kesehatan bumi dan para penghuninya.

Natalie Shenker, Research Associate in the Faculty of Medicine, Imperial College London dan Amy Brown, Professor of Child Public Health, Swansea University di Inggris, telah menuliskan hasil penelitian tentang hubungan menyusui dan perubahan iklim.

Menyusui hanya mengeluarkan sedikit sumber daya alam, seperti air atau tanah, tidak menghasilkan emisi karbon, dan minim atau nol limbah.

Menyusui selama enam bulan menghemat 95-153 kg CO₂e (carbon dioksida ekuivalen) per bayi, dibandingkan dengan pemberian susu formula. Apabila semua bayi di Inggris diberikan ASI selama enam bulan saja, maka penghematan emisi karbon setara dengan yang dihasilkan oleh 50.000 sampai 77.500 mobil di jalan raya selama setahun.

Susu formula bubuk memerlukan sekitar 4.700 liter air per kilo susu. Selain itu, susu formula menggunakan bahan tambahan seperti minyak kelapa sawit untuk kebutuhan mineral dan vitamin bagi pertumbuhan bayi.

Padahal, pencabutan sementara keanggotaan Nestlé, sebuah industri multinasional susu formula, dari Perkumpulan untuk Sawit Berkelanjutan (Roundtable on Sustainable Palm Oil) memperlihatkan adanya masalah dalam keberlanjutan produksi pangan global.

Sebenarnya hanya ada 40-50 pabrik pengolahan susu formula di seluruh dunia. Namun demikian, jumlah air yang diperlukan untuk pengangkutan mulai dari bahan susu mentah ke pabrik pengolahan, hingga ke tangan konsumen di seluruh dunia memang belum diketahui pasti, tetapi jelas sangat besar.

Susu formula bubuk membutuhkan air yang dipanaskan hingga suhu 70°C agar steril dan aman dikonsumsi oleh bayi, sehingga hal ini menyerap sumber daya alam sangat besar.

Di Inggris, perkiraan biaya energi untuk mendidihkan air saat menyiapkan susu formula bagi bayi di tahun pertama kehidupannya, setara dengan mengeluarkan lebih dari 1,5 juta kilogram karbon dioksida.

Belum lagi sampah yang dihasilkan dari 550 juta kaleng susu formula, 86.000 ton logam, dan 364.000 ton kertas yang dibuang ke TPA setiap tahunnya.

Menyusui dan pemberian ASI menekan siklus ovulasi ibu, membantu mengurangi jumlah anggota keluarga, dan menjaga keluarga tetap sehat. Hal ini mampu menjaga sumber daya bumi agar tidak cepat habis dari dampak yang ditimbulkan oleh penambahan julah manusia secara cepat.

Selain itu, ibu yang tidak menyusui bayi biasanya siklus haid akan lebih cepat terjadi. Perempuan di Inggris rata-rata menggunakan 264 pembalut dan tampon setiap tahunnya. Menyusui dapat menurunkan permintaan akan serat katun, plastik polietilena, dan bahan lainnya yang digunakan untuk memproduksi pembalut dan tampon.

Dampak lingkungan terkait hubungan menyusui dan perubahan iklim di Indonesia belum ada data resminya. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan secara umum angka pemberian ASI eksklusif untuk bayi berusia kurang dari enam bulan mencapai 52%.

Logo Pekan Menyusui Sedunia 2020 by Waba.org

Selain meningkat sekitar 11% dibandingkan riset serupa pada 2012, capaian ini memenuhi target minimal 50% yang ditetapkan dalam rencana pembangunan nasional lima tahun terakhir, tetapi belum dikaitkan dengan dampak lingkungan.

Namun demikian, sumber data yang sama juga memperlihatkan bahwa persentase pemberian ASI eksklusif ini menurun seiring dengan pertambahan usia anak. Untuk anak usia di bawah satu bulan persentasenya lumayan tinggi, 67%.

Angka ini berkurang menjadi 55% pada anak usia 2-3 bulan, dan anjlok lagi hanya 38% pada anak usia 4-5 bulan.

Hal ini berarti angka pemberian ASI eksklusif sebesar 52% sebenarnya merupakan capaian semu, karena belum menggambarkan persentase bayi di seluruh Indonesia yang benar-benar memperoleh ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya, tanpa asupan lain seperti susu formula (susu pengganti ASI buatan pabrik), pisang, air tajin, dan makanan/minuman lainnya.

Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) tanggal 1 hingga 7 Agustus 2020, juga mengingatkan kita akan pentingnya memberikan dukungan bagi semua ibu untuk menyusui secara eksklusif, agar bumi kita lebih sehat (support breastfeeding for a healthier planet).

Apakah kita sudah bertindak bijak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here