Lectio Divina 03.08.2020 – Jangan Takut

0
256 views
Ilustrasi -Jangan takut by fineartamerica.

Senin (H)

  • Yer. 28:1-17
  • Mzm. 119:29,43,79,80,95,102
  • Mat. 14:22-36

Lectio  

22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu.,” lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”

31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33  Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Meditatio-Exegese

Yesus memerintahkan murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang.

Yesus mengutus para murid untuk pergi ke Gerasa, di seberang Kapernaum. Ia mengutus sebagai kesatuan komunitas, bukan sendiri-sendiri.

Ia meminta mereka mewartakan Kerajaan Allah di daerah kafir atau orang yang tak mengenal Allah. Sementara, Yesus menyingkir ke tempat sunyi untuk berdoa, setelah meminta orang banyak pulang (Mat 14:22-23).

Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri

Yesus sering menyingkir ke tempat sunyi dari kesibukan melayani di Galilia. Bahkan, sebelum memulai pelayanan publik di Galilea, di bawam bimbingan Roh Kudus, Ia pergi ke gurun Yudea untuk menyingkir selama 40 hari (Mat 4:1-11; Luk 4:1-13). Ia membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga dan semangat.

Dalam kesempatan itu, Ia juga memanfaatkan waktu untuk mengajar dan mendidik murid-murid-Nya agar dapat saling mengenal secara pribadi dan intim. Terlebih, Ia membutuhkan waktu dan tempat untuk mendengarkan sabda Bapa-Nya.

Ia mendengarkan Bapa-Nya dalam keheningan dan doa, in silentio et oratione. Di tempat sunyi, di gunung Allah bersabda dalam angin sepoi-sepoi, seperti dialami oleh Nabi Elia (1Raj. 19:12-18).

Sering, bahkan hampir selalu, undangan untuk menyingkir ke tempat ditolak oleh para murid hampir di segala jaman. Pada masa Nabi Yeremia umat menolak suara sang nabi untuk setia pada perjanjian dengan Allah. Mereka tidak lagi mau mendengarkan suara Allah yang bersabda dalam keheningan.

Mereka menyibukkan diri dengan banyak kegiatan bukan untuk memuji dan memuliakan Allah, tetapi untuk ratu surga, seorang dewi asing, ”Anak-anak memungut kayu bakar, bapa-bapa menyalakan api dan perempuan-perempuan meremas adonan untuk membuat penganan persembahan bagi ratu surga, dan orang mempersembahkan korban curahan kepada allah lain dengan maksud menyakiti hati-Ku.” (Yer 7:18; bdk. Yer 44:19). 

Karena pelanggaran itulah, Allah menghukum dan mendidik umat untuk setia pada-Nya. Namun, Ia juga memberi harapan akan pemulihan, sehingga, sabda-Nya (Yer 30:22), ”Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu.”, eritis mihi in populum et ego ero vobis in Deum.

Dengan cara mengikuti teladan Yesus: pergi ke tempat sunyi dan melaksanakan kehendak Bapa (Yoh. 4:34), ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”, Meus cibus est, ut faciam voluntatem eius, qui misit me, et ut perficiam opus eius.

Hari sudah malam. Gelap. Seluruh perahu yang pasti dikendalikan oleh orang berpengalaman harus menghadapi kesulitan yang amat berat. Bahaya mengancam dari segala penjuru.

Angin, arus, disorientasi, kelelahan, saling tidak percaya, cari selamat sendiri. Dan yang paling parah: kehilangan iman akan Yesus.

Jemaat Matius mengalami bahaya dari segala penjuru – pengejaran, penganiayaan, ajaran sesat, pembelotan dan pengkhianatan, pembusukan dari dalam, pada peralihan abad ke satu ke kedua.

Pengalaman diombang-ambingkan ombak dan angin sakal mengajarkan jemaat untuk tetap menyatukan diri dalam iman pada Yesus, saling percaya pada dan bekerja sama dalam bimbingan para rasul, dan tumbuh sehati-sejiwa, cor unum et anima una.

Dengan cara inilah pewartaan Kerajaan Allah kepada mereka yang tidak mengenal Allah dilaksanakan.

Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?

Di tengah kesulitan yang dihadapi para rasul, Petrus menampilkan watak aslinya – gelegak emosi tanpa pertimbangan akal sehat. Watak ini sering kali menjadi batu sandungan bagi dirinya sendiri. Ia sering jatuh, bahkan memalingkan wajahnya dari Yesus.

Bahkan, Yesus sering mengingatkan betapa sulit untuk mengikut langkah kaki-Nya. Tak terhitung banyaknya kegagalan hidup yang dialami anggota Gereja, karena bertindak bodoh, mengikuti gelegak emosi dan sombong, melupakan akal sehat dan pertimbangan batin. Dan yang paling parah: melupakan Allah.

Kisah Petrus  mengajarkan untuk kembali berpaling kepada Yesus. Setiap kali Petrus jatuh, ia berpaling pada Yesus. Dan kasih-Nya selalu menyelamatkannya.

Karena Ia berbelas kasih dan penuh kerahiman. Ia adalah wajah Allah yang berbelas kasih, Misericordiae vultus. Kata Petrus (Mat. 14:30), Tuhan, tolonglah aku!”,Domine, salvum me fac! 

Yesus mengundang kita untuk datang pada-Nya. Ia bersabda  (Mat 14:27), “Aku ini! Jangan takut!”, Ego sum; nolite timere!

Katekese

Menyambut Tuhan Yesus dengan penuh iman dan kerendahan hati. Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430:

“Karena Tuhan tak pernah tergoda oleh pujian manusia, orang sering merasa galau dan hampir terpukau oleh pujian dan penghormatan dari sesamanya di gereja. Petrus takut di laut. Hatinya tawar oleh terjangan badai. Tentu siapa yang tidak takut saat mendengar, “Mereka yang mengatakan kamu bahagia  menempatkan kalian dalam kesesatan dan mengganggu jalan untuk langkahmu.” (Yes. 3:12, terjemahan Vulgata)?

Dan karena jiwa berjuang melawan keinginan akan pujian manusia, setiap orang harus mau kembali berdoa dan memohon dilepaskan dari bahaya ini. Jangan sampai dia yang terpesona oleh pujian dikalahkan justru oleh kecaman dan celaan.

Ketika Petrus, yang hampir tenggelam dalam ombak, berseru, “Tuhan, selamatkan aku!”, Tuhan merentangkan tangan-Nya. Ia menegur Perus, kata-Nya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Yang dimaksudkan-Nya adalah: mengapa kamu, ketika kamu mendekati-Nya dan memandang lurus pada Tuhan, tidak menyombongkan diri di hadapan-Nya?

Namun, Ia meraih tangan Petrus dan mengeluarkannya dari deburan ombak. Ia tidak membiarkan dia binasa walau yang ia sedang mempertontonkan kelemahannya dan memohon pertolongan pada-Nya.” (dikutip dari Sermon 75:10).

Oratio-Missio

  • Tuhan, ajarlah aku untuk selalu rendah hati dan tekun mendengarkan sabda-Mu dengan penuh suka cita. Amin.
  • Apa yang harus aku lakukan untuk selalu berpaling dan menatap wajah-Nya?  

Statimque Iesus locutus est eis dicens, “Habete fiduciam, ego sum; nolite timere!”  Matthaeum 14:27

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here