Austria, Katedral itu Lengang

0
335 views
Ilustrasi: Gereja Katedral Wina by Ist

SAYANG restoran itu sudah tutup. Masakan yang tersedia selalu menggoda saya.  Wiener Schnitzel (daging sapi muda), Rindsuppe (sup daging sapi), dan Beuschel (daging cincang berbumbu gurih). 

Namanya, “Café Wien”. Berlokasi di pusat perbelanjaan Plaza Senayan, di bilangan Jakarta Selatan. Ia mengambil nama ibukota Austria, Wina, atau Vienna atau Wien.

Karena kesengsem makanan di Café Wien, saya tertarik untuk mencari tahu apa, di mana dan bagaimana Austria itu.

Sampai suatu saat, saya beruntung mendapat kesempatan mengunjungi Wina untuk menghadiri suatu konferensi internasional.  

Sabtu pagi, Pesawat Emirates Boeing 777-300 ER dengan nomer penerbangan EK 359, Jakarta-Dubai-Wina, mendarat  di Bandara Schwechat. 

Kesan pertama di pagi hari libur, Wina adalah kota tua yang bersih, tertib dan rapi. Jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan, seperti Jakarta, Tokyo atau New York.

Pukul 4.00 sore, saya mulai jalan-jalan menjelajahi kota Wina, sight seeing.

Tak jauh dari hotel, saya temukan Gereja Katolik yang megah. Berukuran kira-kira 2 kali Gereja Katedral, di lapangan Banteng, Jakarta. Bergaya gothic dan klasik, khas gereja kuno di kawasan Eropa.

Sore itu, Gereja Katedral Santo Stephanus (St. Stephen’s Cathedral), yang dibangun pada awal abad ke-12, sedang bersiap-siap menyelenggarakan Misa Sabtu sore. 

Misa yang disamakan dengan hari  Minggu. Saya memutuskan untuk mengikutinya.

Misa dipimpin seorang pastor yang sudah tua, kira-kira berusia 70 tahun. Mereka menggunakan bahasa Jerman, yang saya tak mengerti maknanya.

Doa-doa baku dan nyanyian tetap saya lantunkan dalam bahasa Indonesia. Tata-cara liturgi dan lagu yang didaraskan sama dengan yang berlaku di Gereja Katolik di Indonesia.

Menjadi pertanyaan besar di hati saya, gereja dengan kapasitas 1.000 orang, diisi  tak lebih dari 75 umat. Lebih dari separuhnya kulit berwarna.

Bandingkan dengan Gereja Santo Matius Bintaro, Tangerang Selatan. Setiap misa mingguan, dihadiri tak kurang dari 900-an umat. Sementara misa mingguan diselenggarakan sampai lima kali. 

Austria, yang 90% penduduknya beragama Katolik, dengan Gereja Katedral St Stephanus yang megah, benar-benar miskin dalam jumlah umat yang hadir pada Misa. 

Misa berlangsung selama 45 menit, atau kira-kira 30 menit lebih cepat dibanding di Jakarta.

Ketika misa selesai, diluar gereja saya bertemu dengan dua orang calon pastor. Mereka masih muda, kira-kira 30 tahun. Cukup mengagetkan bahwa di Benua Eropa masih dijumpai (calon) pastor yang masih muda. Bayangan saya selama ini, Pastor di Eropa sudah sepuh-sepuh.

Setelah mengenalkan diri secukupnya, dan basa-basi sekedarnya, saya memberanikan diri bertanya.

“Frater, mengapa jumlah umat yang hadir di misa sedikit sekali? Di negara saya, gereja selalu penuh, bahkan sampai duduk di luar gedung.”

Sang pastor muda menjawab bagaikan khotbah.  Masih dengan nada rendah.

“Mungkin orang Austria berpendapat bahwa semakin banyak orang mencurahkan waktu dan perhatian untuk Tuhan, semakin sedikit waktu dan perhatian untuk sesama”.

Saya terhenyak. Pertanyaan yang saya lontarkan dengan nada bangga dijawab telak. Saya tersipu malu, 1-0 untuk pastor muda.

Saya langsung minta diri. Sang pastor muda menutup perjumpaan dengan kalimat khas seorang pastor.

“Semoga anda senantiasa mendapat berkat dari Tuhan”.

“Amin”.

Saya menjawab sambil  ngeloyor pergi. 

Dalam perjalanan menuju hotel, saya merenung kata-kata bijak pastor muda tadi. Mungkin benar apa yang dipikirkan orang Austria. 

Setiap saya pulang dari Gereja Bintaro, dijumpai lalu-lintas yang macet. Kendaraan  sering tak mau mengalah satu sama lain. Kedamaian di dalam gereja, tak di bawa sampai luar.

Sementara lalu-lintas di Wina, meskipun padat, tetap antre dan tertib. Pengemis dan anak jalanan tidak terlihat. Jalur sepeda difasilitasi dengan jelas. Penyeberang jalan, kaum disabled dan orang-orang tua dihormati oleh pengguna jalan lainnya.

Saya melewati sebuah taman-kota yang asri. Rumput menghijau dan bunga berwarna-warni. Terpelihara sangat baik. Saya duduk di bangku taman, sambil menyaksikan penduduk Wina yang bergembira menikmati keindahan taman bunga.

Ketika saya meneruskan perjalanan ke hotel, menyaksikan banyak kejadian, yang dengan malu-malu, harus saya akui titik-titik kebenaran sang pastor.

Masyarakat Wina lebih banyak  menghormati kemanusiaan dan menempatkan sesama sebagai subyek yang harus diberi kepedulian, meskipun gerejanya kosong. 

Minggu pagi, ketika berjalan-jalan keliling kota, saya menggunakan bis kota.  Halte  tersedia pas di depan hotel. Terlihat angka digital yang menunjukkan waktu kedatangan bis berikutnya, dan keberangkatannya kembali. Angka digital menunjukkan pukul tertentu, lengkap dengan menit dan detiknya.

Tepat tiga menit sebelum dijadwalkan berangkat, entah dari mana, tiba-tiba sebuah bis berhenti di depan halte. 

Saya buru-buru naik, dan tepat tiga menit kemudian bis berangkat kembali. Sampai jadwal keberangkatan bis kota pun, Wina memilih tepat waktu, sampai hitungan detik.

Kota Tua Salzburg by Carlo Mando

Masih banyak cerita yang membuat saya iri.  Pertunjukan opera yang sangat cantik dan dikelola dengan apik. Stasiun KA, Wien Westbahnhof, yang bersih, teratur dan tepat waktu. 

Kota Salzburg, 300 km dari Wina, yang sangat indah. Di sana tempat kelahiran musisi-musisi kelas dunia seperti Mozart, Schubert, dan Vivaldi. Tak lupa saya mengunjungi lokasi syuting film legendaris Sound of Music yang seolah melihat film dalam dunia nyata.

Di sebuah tikungan jalan, saat saya termenung kebingungan, seseorang menegur dari belakang.

“Are you lost young man? Where are you going? May I help you?”,

Demikian sapaan simpatik seorang nenek ketika melihat saya clingukan mencari petunjuk jalan menuju gedung tempat diadakan festival “Bregenz” (Bregenzer Festspiele). 

Pertunjukan seni yang diselenggarakan setahun dua kali. 

Kontroversi mengenai mana yang lebih penting antara menghadiri misa-kudus atau menghormati sesama, mengingatkan akan pepatah yang mengajarkan agar manusia memegang keduanya. 

Hormat kepada Tuhan hanya bisa terwujud bila sesama manusia juga dihargai. Begitu sebaliknya.

Dua pilihan yang tak bisa dipisahkan. Karena kalau hanya memilih salah satu, maka tak akan dapat keduanya.

“God is glorified when men respect one another.” (anonim)

@pmsusbandono

24 September  2010

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here