Batu Pertama untuk Kapel Santo Bonifasius di Landungsari, Dau, Kabupaten Malang

0
593 views
Prosesi seremoni peletakan batu pertama di lokasi proyek pembangunan Kapel Santo Bonafasisus di Dusun Landungsari, Kec. Dau, Kabupaten Malang bersama Wakil Bupati Kabupaten Malang dan Romo Ignasius Adam Suncoko Pr dari Paroki Katedral Malang. (Panitia)

“HUJAN sebuah keberkahan, yang harus sama-sama kita syukuri. Hujan menjadi kebutuhan di mana Tuhan memberi kehidupan pada alam semesta.”

Demikian awal sambutan Bapak Wakil Bupati Kabupaten Malang Drs. Didik Gatot Subroho SH, MH dalam rangka seremoni peletakan batu pertama di lokasi proyek pembangunan Kapel Santo Bonifasius di Dusun Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Selanjutnya, ia menyampaikan demikian.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang menyambut baik sekaligus menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh warga masyarakat -secara khusus warga masyarakat Desa Landungsari- atas berdirinya kapel di Landungsari.”

“Atas nama pemerintah Kabupaten Malang dan atas nama warga Katolik kami menyampaikan terimakasih kepada pemerintah Desa Landungsari beserta Pengurus RT/RW, Ketua MUI Kabupaten Malang dan FKUB Kabupaten Malang.”

“Terima kasih kepada Bapak Sonhadji mewakili Kemenag Kabupaten Malang yang berusaha mengajak duduk bareng kepada seluruh umat beragama, bahwa warga Katolik dan umat Katolik juga menjadi bagian dari keluarga besar warga Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia.”

“Kebhinnekaan ini menjadi menarik, apabila kita tata pada tempatnya, saat d isini didirikan kapel; diharapkan kita saling mendukung  dan harapan ini merupakan sebuah proses pembelajaraan yang kita alami bersama. Kebersamaan itu sesuatu yang indah dan itu yang diharapkan oleh Tuhan. Karena, Tuhan tidak pernah menceraiberaikan umat-Nya”.

Wakil Bupati Kabupaten Malang Drs. Didik Gatot Subroho SH, MH seremoni peletakan batu pertama di lokasi proyek pembangunan Kapel Bonafasius di Landungsari, Dau, Malang, Sabtu (19/11/2022)

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang titip kepada FKUB Kabupaten Malang, MUI Kabupaten Malang; juga kepada Kepala Desa Landungsari dan Pak RT-RW sekitar mohon proses ini dibantu”.  

“Mohon dua-tiga pekan sekali, Muspika Kecamataan Dau datang mirsani bagaimana perkembangan pembangunan ini sehingga ada sebuah kebersamaan rasa nyaman serta kedamaian.”

“Pancasila menjadi satu-satunya azas di Indonesia maka kesempatan untuk beribadah kesempatan untuk mendirikan tempat ibadah itu menjadi bagian dari hak. Karena hak inilah kami, pemerintah berkewajiban memberikan ruang memberikan kesempatan kepada warga.”

“Tentunya melalui proses ada mekanisme yang harus dilalui, di saat mekanisme secara keseluruhan bisa terlalui terpenuhi insya Allah apa yang menjadi harapan kita semua, apa yang kita  dambakan bersama oleh Pak Bupati pasti akan ditanggapi dan menyuguhkan yang terbaik untuk warganya.”

“Selamat untuk warga Katolik Landungsari. Semoga Kapel Landungsari tidak terlalu lama segera terbangun, walaupun nanti belum selesai seluruhnya. Namun apabila sudah terpasang atapnya segera dimanfaatkan untuk beribadah. Semoga Tuhan memberkahi kita semua yang hadir disini,” begitu pungkasnya.  

Doa sebelum peletakan batu pertama

Selanjutnya dilaksanakan peletakan batu pertama pada titik yang telah ditentukan oleh Panitia Pembangunan, namun Romo Adam Suncoko Pr dari Gereja Katedral Malang memimpin doa terlebih dahulu di sekitar tempat peletakan batu pertama.

Pastor Kelapa Paroki Gereja Katedral Malang Romo Ignasius Adam Suncoko Pr ikut meletakkan batu pertama di lokasi proyek pembangunan Kapel St. Bonafasius di Landungsari, Dau, Malang. (Panitia)

Setelah itu secara berurutan. Mulai dari Pak Andreas, Wakil Bupati, Romo Adam, pejabat Kemenag Kabupaten Malang, Camat Kecamatan Dau, Ketua FKUB, dan Kepala Desa Landungsari; masing-masing ikut meletakkan batu dan adonan pasir-semen.

Hadir dalam acara ini: Pak Andreas (anggota DPR RI), berbagai organisasi Pemerintah Daerah, Muspika Kecamatan Dau, para pejabat Kemenag Kabupaten Malang, Ketua FKUB sekaligus Ketua MUI Kecamatan Dau, Pendeta GKJW Dau, Kepala Desa Landungsari beserta beberapa warga sekitar lokasi tempat akan didirikan Kapel, dan tentu saja umat Katolik Landungsari.

Acara ini berlangsung pada Sabtu, 19 November 2022 pagi hari; di tengah hujan yang sedang turun mulai dini hari.

Masuk wilayah reksa pastoral Paroki Katedral Malang

Kapel Landungsari dalam reksa pastoral Paroki SPMGK Katedral Malang, maka Pastor Paroki Romo Ignasius Adam Suncoko Pr. Juga hadir beserta Ketua dan beberapa anggota DPP Harian.

Menurut Ketua Panitia Pembangunan Kapel Landungsari Bapak Ignasius Sudarmadji, di Landungsari saat ini sudah ada 76 keluarga Katolik dengan 241 umat katolik.

Dalam proses pengajuan perijinan kapel mendapat dukungan warga sekitar sejumlah 81 orang.

Berbagai tahapan dilalui mulai pendekatan kepada warga setempat, aparat Desa Landungsari, FKUB Kabupaten Malang, Muspika Kecamataan Dau serta Kantor Kemenag Kabupaten Malang. Juga termasuk pendekatan dan sosialisasi kepada warga katolik Desa Landungsari.

Kita tetap bersyukur, walaupun luas bangunan yang diizinkan dalam IMB belum sesuai dengan harapan kita semua.

Inilah lokasi di mana bangunan Kapel Santo Bonafasius akan dibangun di Landungsari, Dau, Malang.

Sudah sejak tahun 2002

Tanah yang akan dibangun kapel seluas 1.200 meter sudah lama dibeli oleh Paroki Katedral Malang ketika Pastor Paroki dipimpin oleh Romo JC Eko Atmono Pr tahun 2002.

Belum sampai membuat perencanaan pembangunan kapel keburu beliau ditugaskan belajar ke Filipina dan ketika kembali ke Malang beliau mendapat tugas sebagai Direktur  Pusat Pastoral Keuskupan Malang, kemudian ditugaskan jadi Vikaris Jenderal Keuskupan Malang pada era alm. Uskup Mgr. HJS Pandoyo Putro O.Carm.

Kapel sebelumnya di tahun 1969

Pada mulanya biji ditabur oleh para Karmelit dan suster Ursulin di tanah subur Landungsari terjadi sekitar tahun 1967-1968. Rahmat dan anugerah Tuhan terus menyertai mereka sehingga pada bulan Mei tahun 1969 ada 13 orang yang menerima baptisan.

Umat menjadi semakin banyak dan tergabung dalam paguyuban umat beriman dalam sebuah stasi; kemudian menjadi kring-lingkungan; dengan mengambil nama pelindung Santo Bonifasius.

Selanjutnya untuk mengungkapkan imannya umat Katolik Landungsari  harus ke Gereja Katedral Malang yang berjarak sekitar 5 KM dengan berjalan kaki.

Sehingga suatu saat Pastor Paroki Romo Sixtus O.Carm berinisiatif menyuruh salah satu umatnya membeli sebuah rumah yang untuk sementara dapat sebagai tempat beribadah.

Semangat bersama dalam cinta akan kebhinnekaan Indonesia mengiringi langkah dimulai proyek pembangunan Kapel Santo Bonifasius di Landungdari, Dau, Malang, Sabtu 19 November 2022. (Panitia)

Mulai ubah fungsi sejak tahun 1992

Lambat laun rumah itu dikenal sebagai kapel, dari sebuah rumah biasa yang diubah fungsinya pada tahun 1992. Rumah yang dijadikan Kapel direnovasi beberapa kali yang mendekati layak sebagai tempat beribadatan dan nyaman bagi sejumlah umat.

Biji yang ditanam terus bertumbuh dan berbuah walaupun ada juga satu dua warga melepaskan diri dan jatuh dari tangkainya. Sehingga pada bulan Mei tahun 2007 lingkungan Santo Bonifasius harus dimekarkan menjadi dua lingkungan yakni menjadi Lingkungan Santo Bonifasius dan Lingkungan Santa Maria Magdalena dalam koordinasi Wilayah X. Ini untuk meningkatkan pelayanan kepada sesama umat sekaligus memberi kesempatan semakin banyak umat berpartisipasi dalam panca tugas gereja di lingkungan dan atau paroki.  

Dilema muncul jumlah umat bertambah banyak serta ditambah lagi mahasiswa katolik yang ngekos di sekitar kapel  juga menimbulkan keresahan warga sekitar pada waktu peribadatan. Karena menutup akses warga kampung yang ingin lewat jalan kampung di depan kapel. Berdasarkan alasan itu dan lainnya sehingga melalui sebuah pertemuan di Balai Desa Landungsari ditutuplah kapel sejak 20 Februari 2018, pekan pertama Masa Prapaskah. 

Maka benar sekali yang disampaikan oleh Romo Adam dalam bagian sambutannya, bahwa umat katolik Landungsari sudah merindukan sebuah tempat ibadah yang resmi dan sah legal menurut peraturan perundang-undangan sejak 30 tahun yang lalu.

Peran kaum perempuan

Dalam banyak hal, beberapa perempuan umat Katolik Landungsari bertindak aktif mulai dari mengumpulkan KTP warganya, menyajikannya dalam sebuah buku.

Mendukung Ketua Panitia dengan ide-ide cemerlang mereka, berjumpa dalam beberapa forum, menerima dan melaksanakan tugas yang ditugaskan oleh Ketua Panitia.

Maka ketika mulai bulan Mei 2021 sebagaimana disampaikan oleh Romo Adam untuk memulai proses perizinan pendirian bangunan sebuah kapel, para perempuan itulah yang sigap membantu Ketua Panitia dalam berproses.

Foto: Panitia.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here