Cintamu Memperbaiki Aku

0
204 views
Ilustrasi tentang pertobatan karya Salvador Dali (ist)

Sabtu, 20 Februari 2021
Bacaan I: Yes 58:9b-14
Injil: Luk 5:27-32

DALAM sebuah retret, ada anak yang mensyeringkan betapa lega hatinya karena berani mengakui kesalahan pada orangtuanya.

“Peristiwa itu terjadi waktu dia kelas 2 SMA,” katanya.

“Ia sering kali berjudi bersama teman-temannya hingga dia menghabiskan uang SPP,” katanya mengenang peristiwa beberapa waktu yang silam.

“Ketika uang SPP habis –bahkan bukan satu atau dua bulan melainkan lima bulan– ia sangat takut, takut tidak bisa ikut ujian semester dan nanti pasti akan dikeluarkan dari sekolah,” kenangnya.

“Dalam situasi seperti itu, sebelum ada panggilan dari sekolah untuk orangtua, ia datang pada ibunya, menceritakan semua masalahnya,” lanjutnya.

“Ibu tidak banyak bicara, hanya diam dan tangannya membelai rambutku, dengan berbisik: Kamu tidak seharusnya melakukan hal itu,” katanya dengan lembut.

“Saya tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, selain mencucurkan air mataku,” katanya.

“Sejak saat itu, saya tidak pernah mau berjudi lagi,” katanya dengan sungguh.

“Sikap ibu yang tidak marah meski kecewa denganku membuat hati saya remuk redam, membuat saya ingin melakukan sesuatu yang baik dan tidak mengulangi lagi perbuatan yang konyol,” katanya.

Hari ini kita dengar dalam bacaan Injil, lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Pertobatan dari dalam hati hanya akan muncul, jika kita mengalami kasih sayang dan cinta bukan ancaman untuk dihukum.

Pengalaman merasakan kasih sayang ibu, yang menangis karena kenakalan kita, membuat kita berusaha memperbaiki diri.

Hati siapa yang akan tahan jika dihadapkan pada kekecewaan dari orang yang mencintai kita dengan tulus.

Tuhan datang mencari kita dengan kasih sayang supaya kita kembali pada-Nya.

Seberat dan sebesar apa pun dosa kita, Tuhan merentangkan tangan untuk merangkul kita kembali pada-Nya.

Apa yang membuat kita takut untuk bertobat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here