Datang dan Melihat, Catatan Perjalanan Kemanusiaan ke Lokasi Bencana Adonara Timur

0
206 views

Rabu, 28 April 2020, kurang lebih pukul 5.30 pagi, enam kendaraan truk pengangkut barang-barang sumbangan dan dua mobil station pengangkut anggota Tim Posko Tanggap bencana Kevikepan Ende dan Tim Komsos KAE, perlahan tapi pasti meninggalkan markas Posko Bantuan Bencana di rumah kevikepan Ende setelah mendapat berkat perutusan dari Romo Vikep Ende.

Meski mata sedikit agak redup lantaran bangun kepagian, namun dengan penuh semangat anggota tim berpacu menjemput mentari di ufuk timur. Kali ini sebagai juru kunci, mobil avanza milik koko Dion, yang terpaksa harus dipacu perlahan, lantaran salah seorang penumpangnya (namanya dirahasiakan) ternyata hanya jago di atas sepeda motor.

Perjalanan kali ini terhitung lancar karena kurang lebih pukul 10.00 pagi semua kendaraan sudah berada di halaman pastoran Nita. Seperti perjalanan sebelumnya, di tempat ini anggota tim beristirahat sejenak untuk menikmati sarapan pagi yang dibawa dari Ende. Meskipun pastor parokinya Rm. Stef Labuan, lagi tidak berada di tempat, namun kami berbuat seola-ola rumah sendiri.

Ini enaknya kalau punya kakak-kakak imam yang baik hati dan tidak sombong bertugas di pinggir jalan utama. Setelah kurang lebih sejam beristirahat dan menikmati sarapan pagi pada jam yang salah, rombongan kemudian kembali bergerak, berpacu dengan panasnya kota Maumere menuju kota Renha Larantuka. Kami sepakat bahwa meskipun kendaraan dipacu dengan irama yang berbeda, kami harus berhenti pada satu titik yang sama untuk saling menanti yakni di lembah subur Hokeng.


Kurang lebih pukul 14.00, kami tiba di Hokeng. Dua truk pengangkut barang bantuan yakni dum truk milik keuskupan yang dikemudi oleh Om Dus dan truk Yasbin yang dinakodai oleh Om Rius kehilangan kontak sehingga terus meluncur menuju kota Renha. Mungkin keduanya sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan Sang Bunda penjaga gerbang utama kota Renha.

Kami lalu sepakat untuk tidak terlalu lama beristirahat di lembah teduh ini dan berpacu kendaraan sedikit lebih cepat agar bisa mendapatkan dua kendaraan ini sebelum memasuki kota Renha. Om Lukas, sopir andalan kevikepan Ende mulai memacuh kendaraan doble cabin dengan sedikit lebih kencang. Dua srikandi setia Vira dan Mira yang menjadi penumpang dasar doble cabin kelihatan mulai hening.

Mungkin cemas atau juga takut lantaran Om Lukas terus memacuh kendaraan dengan kecepatan tinggi. Dua kendaraan yang tadi meluncur duluan meninggalkan kami akhirnya terkejar sebelum memasuki Paroki Bama. Di tempat ini kami kemudian beristirahat sejenak sambil menikmati bekal kami yang tersisa. Anggaplah makan siang yang tertunda. Setelah menghabiskan remah-remah yang tersisa, kami lalu bergerak kembali menuju kota Renha Larantuka. Kali ini kami berjalan beriringan dengan pemandu utama paling depan mobil avanza yang mengangkut kru Komsos dan paling akhir mobil doble cabin. Sekitar pukul 15.30 wita rombongan memasuki halaman Katedral Renha Rosari Larantuka.

Sudah menanti disana Rm. Hendrik Leni, pastor paroki Katedral, Rm. Flory Werang, pastor rekan dan Rm. David, pastor rekan yang sering disapa dengan nama manis Ama David. “Selamat datang kembali di Nagi Tata, terima kasih untuk perhatian dan kasih sayang dari seluruh umat Keuskupan Agung Ende” ujar Ama David menyambut kedatangan kami sambil bertanya tentang Rm. Angky teman kelasnya yang kali ini tidak muncul.

Setelah beristirahat sejenak, seluruh anggota tim kecuali para sopir, membantu menurunkan semua barang bantuan dari truk-truk. Tidak ketinggalan Pastor Paroki Katedral Larantuka pun ikut serta menurunkan barang-barang bantuan. Menarik bahwa ketika dos-dos bantuan dari Kuasi Nuabosi diturunkan, Romo Hendrik berkomentar, “Ada dos dari Nuabosi, tapi isinya lain semua, tidak ada yang isinya ubi Nuabosi kah Tuan ? Saya cuma menjawab, “ Komentar ini mengandung pesan sponsor”. (Harap Romo Emil pemilik Nuabosi baca tulisan ini, sehingga kalu kru berangkat lagi, bisa ada satu dua dos bantuan yang isinya ubi Nuabosi).

Dalam tempo singkat akhirnya semua barang bantuan berhasil diturunkan di posko crisis center Keuskupan Larantuka. Saya kemudian berbincang santai dengan rekan-rekan imam keuskupan Larantuka yang setiap hari bekerja di posko, menanyakan tentang situasi terakhir di lokasi dan suka duka mereka mengurusi posko bencana.

Ada banyak kisah dan cerita sedih maupun gembira membaur menjadi satu di tengah situasi tanggap darurat bencana di Keuskupan Larantuka. Saya juga bertanya tentang peluang untuk berkunjung ke lokasi bencana di Adonara Timur. Ama David dengan penuh semangat berkata,”gampang tata, itu tanah tumpah darah saya. Esok kita atur. Tata tenang-tenang dulu…” Romo Hendrik kemudian menambahkah, “Adik, kamu harus pergi dan melihat langsung lokasi bencana. Biar kamu punya gambaran yang jelas dan bisa bertemu dengan para korban di sana”. Kata-kata ini mengingatkan saya akan pesan Paus Fransiskus di hari Komsos sedunia yang akan jatuh pada tanggal 16 Mei 2021 dengan tema besar “Datang dan lihatlah”. Pasti Ka’e Hendrik sudah baca pesan Paus ini. Ama David kemudian ditugaskan untuk mengatur sekaligus menemani perjalanan kami menuju lokasi bencana di Adonara Timur.

Sebelum beristirahat di Wisma Saron, kami disuguhi makan malam di pastoran Katedral Larantuka. Seperti biasa, makanan khas Nagi, yakni jagung titi pun turut dihidangkan oleh tuan rumah. Ada yang mulai mencari-cari kantong plastik,(yang pasti bukan saya) dan berdoa dalam hati semoga jagung titi tidak dihabiskan, biar bisa diamankan dalam kantong plastik. Setelah makan malam, sebagai ketua rombongan saya mengumpulkan semua anggota lalu memberikan arahan singkat soal kegiatan esok hari. Kepada mereka saya katakan bahwa kita diberi kesempatan ke lokasi bencana di Adonara Timur, yang mau ikut, silahkan yang mau kembali esok pagi ke Ende, silahkan.

Semua anggota rombongan serempak menjawab semua ikut, kecuali om Logus, sopir Ana Ndao, karena esok paginya harus bertemu dengan seorang frater BHK di Weri. Om Kristo Roa, dengan spontan berkata” oto mau pulang, pulang sendiri sudah, kami harus ke Adonara. Biar hanya injak dermaga lalu suruh naik lagi ke kapal juga baik yang penting ada cerita bahwa kami sudah injak Adonara”

Kurang lebih pukul 20.00 wita, kami semua bergerak ke wisma Saron. Harapannya yakni setiba di disana, mandi dan langsung bersitirahat karena perjalanan panjang sekaligus meletihkan dari Ende menuju Larantuka. Namun harapan ini meleset karena setiba di wisma Saron, para sopir di bawa pimpinan Om Rius dan Om Lukas serta kru lainnya mulai membentuk lingkaran dan beberapa botol moke harus tumbang. Syukur bahwa Rm. Ben Belawa, pimpinan wisma adalah orang yang tulus dan baik hati sehingga tidak mengusir rombongan yang kurang tertib itu. Saya cuma bisa menyaksikan sambil tersenyum melihat tingkah para sopir. Saat itulah keasliannya mulai muncul. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa esok pagi tepat jam 07.00 sudah berada di dermaga Larantuka. Yang terlambat, selamat tinggal.

Pagi hari Kamis, 29 April 2021, kurang lebih pukul 07.00 setelah sarapan di pastoran Katedral, seluruh anggota rombongan dari Ende berjalan kaki dari pastoran Katedral ke pelabuhan Larantuka yang jaraknya cuma beberapa ratus meter. KM Gelekat Lewo yang akan mengantar kami ke Tobilota sudah menanti kami di pelabuhan. Ama David sudah standby di pelabuhan dengan motor GL Maxnya. Satu persatu anggota rombongan menaiki kapal motor. Ketika jangkar mulai ditarik dan kapal motor perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan Larantuka, berbagai ekspresi mulai muncul.

Ada yang mulai cemas dengan menggenggam erat kayu pembatas perahu motor, ada yang pura-pura tidak takut, tapi ekspresi wajah tidak bisa menipu. Om Dion, yang pada putaran pertama menumpang kapal cepat Ina Maria ke Lembata memilih tempat strategis yakni dekat pelampung, kali ini hanya bisa pasrah sambil melirik kiri kanan mencari jirigen, karena di atas kapal itu tidak ada pelampung. Mira, yang selalu mengaku orang pantai lantaran berasal dari wolotopo, ternyata tidak bisa menyembunyikan kecemasannya ketika perahu motor harus oleng lantaran terpukul ombak. Mau teriak, malu lantaran terlanjut mengaku orang pantai.

Sementara Vira, mengekspresikan ketakutannya dengan diam. Vira memang sejak awal sudah mengaku orang gunung karena orang tuanya berasal dari Mbuli-Rindiwawo. Sehingga kalau ia takut dan cemas sudah bisa dimengerti. Sementara Rm. Usno, Elias, Aldo dan Trisno, menutupi kecemasan mereka dengan pura-pura mengambil gambar dan video sepanjang perjalanan menuju dermaga Tobilota Adonara. Tidak lebih dari 15 menit kapal motor sudah bersandar di dermaga Tobilota. Dengan menggunakan dua buah pick up dan dipandu oleh tuan tanah, Ama David, anggota rombongan mulai bergerak kea rah timur menyisir mulai Wureh kemudian Waiwadan.

Di sepanjang jalan antara Wureh dan Waiwadan mulai nampak bekas-bekas lumpur yang tersisa di pinggir-pinggir jalan. Setelah rehat sejenak di Waiwadan, karena kendaraan harus mengisi bahan bakar dan memperbaiki ban, rombongan kembali bergerak menuju lokasi bencana melewati Koli, Witihama dan beberapa kampung lainnya. Kali ini Koko Dion dan Rm. Usno, berboncengan menggunakan motor matic. Pa Supri yang duduk di samping saya berkomentar, “Koko Dion dan Rm. Usno sudah jadi anak kompleks”, karena Koko Dion memacuh kendaraan dengan kecepatan tinggi, seolah-olah pemilik tanah Adonara. Kurang lebih dua jam perjalanan, kami akhirnya tiba di lokasi bencana di desa Nelelamadike-Kecamatan Ile Boleng-Adonara Timur.

Ketika memasuki lokasi ini, suasana cukup mencekap. Hal pertama yang kami jumpai adalah kuburan massal dari para korban bencana. Terlihat masih ada lilin yang bernyala di deretan makam yang ditandai dengan salib-salib kecil dibagian kepala serta tulisan nama-nama dari para korban. “Ama, di tempat ini dikuburkan kurang lebih 58 jenazah. Kubur ini digali dengan eksafator, lalu para korban dibaringkan berderet seperti orang tidur, kemudian ditutup kembali”, ujar sopir pick up memecah kesunyian. Memang tragis. Kami lalu menyusuri lokasi bencana. Terlihat batu-batu besar dan onggokan batang kayu menumpuk di sana-sini.

Ada rumah-rumah yang tertinggal hanya tembok maupun hanya atapnya saja. Ketika menengok ke atas gunung Ile Boleng terlihat ada yang aneh. Kalau kita melihat dari depan gereja dan pastoran, jalur longsor seharusnya persis lurus dengan rumah pastoran, gereja, sekolah dan kantor desa. Namun kira-kira 100 meter sebelum memasuki lokasi gereja dan pastoran, banjir bandang justru berbelok arah dan menyapu bersih seluruh rumah dan bangunan yang ada di samping kiri kompleks bangunan pastoran dan gereja. Menurut warga setempat, kalau seandainya arus banjir bandang tidak membelok arah, korbannya pasti akan jauh lebih dahsyat.

Dan besar kemungkinan akan ada ratusan nyawa yang melayang. Tapi syukurlah ternyata alam masih punya rasa. Di lokasi bencana, Kru Komsos terlihat sibuk meangabadikan setiap moment. Rm. Usno kelihatan sibuk meloncat dari onggokan batu yang satu ke onggokan batu yang lain, sambil melakukan siaran langsung melalui chanel FB Komsos Keuskupan Agung Ende. Elias, Trisno dan Aldo, juga tidak ketinggalan. Mereka menyisir di bekas-bekas bangunan rumah sambil berusaha menghindar dari tanda silang (X) merah, yang menunjukkan tempat penemuan jenazah para korban. Ternyata mereka takut juga.

Sementara kru yang lainnya cuma bisa menatap pilu, sambil dalam hati mendendangkan lagu duka “hanya titik air mata dan senyum kehancuran”. Setelah menyaksikan lokasi bencana, kami diajak menyambangi posko utama, tempat penampungan para korban bencana. Di tempat ini kami berjumpa dengan keluarga-keluarga dan anak-anak yang menjadi korban banjir bandang. Ada kisah-kisah piluh yang menyayat di tempat ini. Saya tentu tidak bisa menulis semuanya di sini. Tapi jika kalian penasaran, ikuti Youtube Komsos Keuskupan Agung Ende. Jangan lupa like, share, comment dan subscribe.

Setelah kurang lebih dua jam di lokasi bencana, kami akhirnya kembali. Tidak tega melewati kuburan massal dengan tanpa menyinggahinya dan berdoa sejenak bagi arwah para korban. Kami semua turun dari kendaraan dan berdoa sejenak di lokasi kuburan massal. Sambil menumpangkan tangan di atas deretan makam, saya cuma berujar, “Tuhan, semua kami akan kembali ke hadiratMu, namun kami tentu tidak mengharapkan apalagi menginginkan untuk mati dengan cara yang tragis seperti ini. Jagalah kami selalu Tuhan, agar kami tetap setia beriman kepada-Mu”.

Dibekali segudang rasa, kami semua akhirnya meninggalkan lokasi bencana dengan menyinggahi rumah keluarganya Om Lorens, sopir dum truk milik Yasbin untuk makan siang tahap pertama dan kemudian di pastoran Waiwadan untuk makan sore. Di pastoran Waiwadan kami di jamu oleh Rm. Wilem, pastor rekan karena pastor parokinya Rm. Luke Laba Erap, teman kelasnya Rm. Yet lagi dinas keluar daerah. Maaf banyak Rm. Luke, karena stok minuman panas yang ada di lemari pastoran sudah diratakan oleh rombongan dari Ende. Harap siap lagi untuk putaran berikutnya.

Sekitar pukul 15.30 wita, kami meninggalkan pelabuhan Tobilota menuju Larantuka. Pertemuan ombak di selat antara Tobilota dan Larantuka sore itu sedikit kencang sehingga dua srikandi kami nampak hening. Ada yang nyaris berteriak tapi malu (namanya ada di saku penulis). Tepat pukul 18.00 wita, rombongan kemudian meninggalkan tanah Nagi, kembali ke bumi Kelimutu. Terima kasih Ama David, yang selalu menemani kami dalam perjalanan ke Adonara Timur. Mengaku anak tanah tapi waktu pulang dari Nelelamadike tersesat di kampung sendiri. Mungkin saja Elias yang diboncenginya salah membaca google Map.

Terima kasih untuk Kae Hendrik Leni, pastor Paroki Katedral yang selalu menyambut kami dengan sapaan hangat dan ramah. Terima kasih untuk Kae Flory Werang Pastor rekan yang selalu sibuk menyiapkan minuman dan jagung titi, terima kasih juga untuk Rm. Tote da Silva, pastor rekan Katedral, pemain bola andalan Ritapiret yang sekarang badanya sudah jadi seperti bola. Ke Nagi, kami pasti akan kembali….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here