Debat Sengit Sebelum Para Uskup AS Berikan Suara tentang Komuni

0
160 views
Ilustrasi.(Ist)

DALAM debat yang berapi-api hari Kamis (17/6/2021), para uskup Katolik AS berselisih tentang bagaimana mengatasi kekuatiran tentang politisi Katolik. Termasuk Presiden Joe Biden yang terus ingin bisa menerima Komuni, meski ia mendukung hak aborsi.

Beberapa uskup sudah mengungkapkan teguran keras terhadap Biden dan itu memang diperlukan. Karena tindakannya baru-baru ini melindungi dan memperluas akses orang bisa melakukan aborsi.

Yang lain memperingatkan bahwa tindakan seperti itu akan menggambarkan para uskup sebagai kekuatan partisan. Apalagi selama masa perpecahan politik yang pahit di seluruh negeri.

Masalah ini sudah menjadi agenda masalah yang paling kontroversial untuk diperdebatkan pada pertemuan nasional Konferensi Waligereja Katolik AS yang diadakan secara virtual.

Pertemuan ini berakhir Jumat (18/6), segera setelah pengumuman tentang bagaimana para uskup memberikan suara rahasia mereka pada perselisihan berkenaan penerimaan Komuni Kudus.

Jika mayoritas uskup menyetujui, Komite Koktrin USCCB -“KWI”-nya Amerika Serikat- akan menyusun pernyataan tentang makna Komuni Kudus dalam kehidupan Gereja yang akan diajukan untuk pemungutan suara pada pertemuan mendatang, mungkin pertemuan langsung pada November.

Satu bagian dari dokumen tersebut diharapkan mencakup peringatan khusus kepada politisi Katolik dan tokoh masyarakat lainnya yang tidak mematuhi ajaran Gereja tentang aborsi dan masalah doktrinal inti lainnya.

Uskup Donald Hying dari Madison, Wisconsin, mengatakan bahwa dia telag bicara dengan banyak orang yang bingung dengan seorang presiden Katolik yang memajukan “agenda pro-aborsi paling radikal dalam sejarah”. Karenanya, kondisi ini perlu respon cepat dari Konferensi Para Uskup AS.

“Mereka sedang mencari arah,” kata Hying.

Uskup Robert McElroy dari Keuskupan San Diego membalas, USCCB akan menderita ‘konsekuensi destruktif’ dari dokumen yang menargetkan politisi Katolik. “Tidak mungkin untuk mencegah persenjataan Ekaristi,” kata McElroy.

“Kita akan mengundang semua permusuhan politik yang memecah belah bangsa kita ke dalam inti Sakramen Ekaristi.”

Biden yang menghadiri misa secara teratur mengatakan dia secara pribadi menentang aborsi, tetapi tidak berpikir dia harus memaksakan posisi itu pada orang Amerika yang merasa sebaliknya.

Ia telah mengambil beberapa tindakan eksekutif selama masa kepresidenannya yang dipuji oleh para pendukung hak aborsi.

Ketua komite doktrin USCCB, Uskup Kevin Rhoades dari Fort Wayne-South Bend, Indiana, mengatakan bahwa belum ada keputusan yang dibuat mengenai isi akhir dari dokumen yang diusulkan.

Ia mengatakan, para uskup yang tidak ada dalam komite akan memiliki kesempatan untuk memberikan masukan, dan rancangan akhir akan tunduk pada amandemen sebelum diajukan ke pemungutan suara.

Rhoades juga mengatakan, dokumen itu tidak akan menyebut nama Biden atau orang lain, dan akan menawarkan pedoman daripada memaksakan kebijakan nasional wajib. Hal ini akan menyerahkan keputusan tentang Komuni Kudus untuk pengunjung gereja tertentu kepada masing-masing uskup dan uskup agung.

Kardinal Wilton Gregory, Uskup Keuskupan Agung Washington, telah menjelaskan bahwa Biden tetap boleh menerima Komuni di gereja-gereja di Keuskupan Agung.

Kardinal Gregory termasuk di antara lusinan uskup yang bergabung dalam debat hari Kamis, telah mendesak rekan-rekannya untuk mengalahkan tindakan itu dan memberi lebih banyak waktu untuk dialog langsung sebelum melanjutkan.

“Pilihan yang ada di hadapan kita saat ini adalah apakah kita mengejar jalan untuk memperkuat persatuan di antara kita sendiri atau memutuskan untuk membuat dokumen yang tidak akan membawa persatuan tetapi dapat merusaknya lebih jauh,” kata Kardinal Gregory.

Ketua Komite USCCB untuk Kegiatan Pro-Kehidupan, Mgr. Joseph Naumann dari Kansas City, Kansas, tidak setuju bahwa para uskup terlalu tergesa-gesa dan mengatakan Biden telah memaksa tangan mereka.

“Bukan para uskup yang membawa kita ke titik ini – tetapi beberapa pejabat publik kita,” katanya.

“Ini adalah seorang presiden Katolik yang melakukan hal-hal paling agresif yang pernah kita lihat dalam hidup dengan cara yang paling polos,” ungkapnya.

Uskup Agung San Francisco Salvatore Cordileone, salah seorang pendukung paling vokal dari teguran USCCB kepada Biden, mengatakan kredibilitas para uskup telah dipertanyakan oleh banyak umat Katolik dan akan semakin terkikis jika mereka tidak melanjutkan dengan dokumen tersebut.

“Mata seluruh negara tertuju pada kita sekarang,” katanya.

“Jika kita tidak bertindak berani dalam menyajikan dokumen pengajaran ini dengan jelas dan meyakinkan tentang nilai inti Katolik ini, bagaimana kita bisa berharap untuk ditanggapi dengan serius pada topik lain?”

PS: Digarap dari naskah berita tulisan David Crary dari Associated Press

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here