Doa Itu Bagaikan Benang Merah

0
164 views
Peserta Rekoleksi Wulan, khidmat berdoa di Senior Living D’Khayangan Jababeka, Rabu, 3 Maret 2019. FOTO/KOMSOS PC-GIT/Lourentius EP.

“KALIAN sudah lama keluar dari novisiat, harus berani mencoba metode-metode doa hingga menemukan metode doa yang membuat kita merasa OK,” ujar seorang pembimbing kursus.  

Tidak hanya itu. Pembimbing kursus itu juga menjelaskan tentang masalah duduk dalam berdoa supaya doa lebih terasa nyes, dan merasakan kasih Allah yang mendalam. Berdoa bisa dengan posisi kaki bersila, duduk di bantalan, atau menggunakan dingklik. Yang penting selama meditasi tidak cepat berganti posisi atau pindah tempat duduk.

Maksudnya, ia ingin agar kami, para peserta kursus, kreatif menemukan solusi dalam belajar mencintai doa dalam situasi apa pun, mulai dari cara duduk, bersikap, dan hal-hal praktis lainnya.  

Ajaran dan saran pembimbing kursus itu masih membekas jelas dalam benak saya hingga kini. Saya sendiri mengakui bahwa berdoa itu tidak mudah. Tak jarang saya mengalami tak dapat berdoa bahkan tidak merasakan apa-apa setelah berdoa.  

Apa yang menyebabkan saya sulit untuk berdoa? Ketika suasana hati saya sedang galau, pekerjaan yang menumpuk atau pikiran yang sering ngelantur kemana-mana. Belum lagi mengantuk, yang menjadi penyakit yang susah disembuhkan sejak Novisiat.  

Nafas hidup

Doa merupakan nafas hidup bagi kita semua, terlebih untuk para imam dan kaum biarawan-biarawati. Namun, hal berdoa ini sekaligus menjadi masalah yang mendarah daging terus-menerus dipersoalkan, digali, diolah, dan disesuaikan dengan situasi kehidupan.

Metode doa bermacam-macam seperti Sadhana, Doa Batin, Pengaturan Nafas, Doa Penenangan, Meditasi Penyembuhan, bahkan metode-metode berdoa cara Timur juga dimasukkan dalam berbagai nasehat doa.

Kalau kita masuk ke toko buku, misalnya,  maka di sana kita akan menemukan banyak sekali buku doa. Di satu sisi, ada kesetiaan untuk tidak berubah dalam berdoa. Di lain pihak, ada kesediaan untuk berubah terus, mengikuti perkembangan metode doa yang baru. Lalu, mana yang harus kita ikuti?

Kembali kepada diri kita sendiri, model mana yang membawa kita lebih dapat mengarahkan hati kepada Tuhan.

Perjuangan keras

Kesulitan dalam berdoa tidak hanya dialami oleh kaum awam. Para religius pun sama saja. Meski kehidupan para religius sudah diatur jadwal doa bersama.

Kebersamaan waktu doa bisa menjadi rutinitas yang membosankan bila kita tidak mengusahakan untuk mempunyai waktu doa pribadi. Ayat-ayat Mazmur didaraskan dengan begitu cepat, tidak dihayati, yang penting selesai.

Saat pendidikan di Novisiat dan Masa Yunior, pembimbing kami meminta agar kami datang ke kapel sekitar 15 sebelum doa dimulai.

Gunanya, untuk persiapan batin. Bila datang ke kapel tepat waktu, ngepres, maka tak ayal lagi kami mendapat julukan ‘suster minimalis.’

Saat raga lelah, pikiran lelah, kurang tidur, entah apalagi alasannya, yang membuat mengantuk saat berdoa. Maunya sih berdoa, tetapi malah mengantuk bahkan tertidur di kapel.

Hal ini nyata seperti yang dikatakan Yesus, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”(Mat 26: 41).

Rasa kantuk yang menyerang saat doa memang harus dilawan. Saya pun berusaha sekuat tenaga, entah dengan menggoyang-goyangkan kaki atau tidak merem saat meditasi, adorasi, atau mengikuti misa.  

Karena bila hal ini terus-menerus dibiarkan terjadi, maka semakin lemahlah daging ini.

Penuh sukacita

Kita sering mendengar nasehat, “Setialah dalam doa” Nasehat itu sering didengung-dengungkan sejak zaman purbakala, sejak saya di Novisiat hingga kini.

Pendiri Kongregasi FSGM, Moeder Anselma Bopp, mewarisi demikian:

“Doa harus menyertai tugas harian kita bagaikan benang merah. Seluruh waktu doa harus sungguh-sungguh digunakan untuk berdoa. Sebuah biara tanpa doa adalah bagaikan badan tanpa jiwa. Seorang suster yang sering melalaikan doa dengan alasan menyelesaikan pekerjaan penting, pasti berada di jalan berbahaya.”

Warisan ini memang keras tetapi akan tetap ud date  di segala zaman. Tak pernah lekang akan waktu. Apalagi dunia semakin cepat berubah.

Alat-alat komunikasi semakin canggih. Kalau hal ini tidak tertanam kuat sejak dini, kehidupan religius aktif, yang mempunyai banyak kegiatan, kepedulian, dan tugas rangkap-rangkap dapat melalaikan hidup doa.

Lalu, apa bedanya dengan kaum awam?

Mari kita menghidupi doa agar tetap merupakan nafas hidup, benang merah, suatu kebutuhan, bukan formalitas. Dan bagaimana doa menjadi rasa syukur kepada Tuhan yang memanggil dan memberi kekuatan dalam mengarungi hidup di zaman ini.

“Tanpa doa, iman dan cintamu kepada Tuhan akan mati. Jika kamu terus-menerus berdoa setiap hari dan mengikuti Misa hari Minggu, cinta dan kasihmu kepada Yesus akan meningkat. Dan hatimu akan dipenuhi sukacita dan kedamaian yang mendalam yang tidak pernah kamu temukan di dunia ini.” (Paus Johanes Paulus II).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here