Sabtu, 23 November 2024
Why 11:4-12.
Mzm 144:1.2.9-10.
Luk 20:27-40.
DALAM kehidupan ini, ada saat-saat di mana kita merasa seperti berada di titik terendah.
Rasa kehilangan, kegagalan, atau keputusasaan sering kali membuat kita merasa hancur. Namun, dalam iman, kita diajarkan bahwa Allah bekerja paling kuat justru di saat-saat itulah.
Allah bekerja paling kuat di titik-titik kehancuran kita karena di sanalah kita belajar untuk berserah penuh kepada-Nya.
Ketika kita tidak lagi memiliki kekuatan sendiri, kita mulai memahami bahwa hanya kuasa Allah yang mampu mengangkat kita.
Kematian, baik secara fisik maupun dalam bentuk kehilangan lainnya, mengajarkan kita bahwa dunia ini fana, tetapi janji Allah kekal.
Kebangkitan bukan hanya berbicara tentang kehidupan setelah mati, tetapi juga tentang bagaimana Allah mampu memulihkan, menghidupkan kembali, dan mengubah yang telah hancur menjadi sesuatu yang penuh harapan dan makna.
Jika saat ini kita merasa berada di titik terendah, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Justru di sana, di kedalaman kesedihan dan kehilangan, Ia hadir dengan kuasa kebangkitan-Nya.
Percayalah bahwa di balik setiap kematian ada kebangkitan, dan di balik setiap kehancuran ada rancangan Allah yang jauh lebih indah.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.
Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”
Tuhan Yesus menegaskan bahwa kehidupan sejati adalah kehidupan bersama Allah. Kematian jasmani hanyalah transisi menuju kehidupan kekal.
Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan memberikan kehidupan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Penegasan Tuhan Yesus ini juga memberikan harapan kepada kita yang beriman pada-Nya.
Ketika kita kehilangan orang-orang terkasih atau menghadapi realitas kematian, kita dapat bersandar pada janji ini: di hadapan Allah, mereka yang percaya tidak pernah benar-benar mati.
Mereka hidup dalam kemuliaan-Nya, karena Allah adalah sumber kehidupan yang kekal bagi kita semua.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah aku percaya akan kebangkitan badan?












































