In Memoriam Romo Martinus Hadiwijoyo Pr: Getirnya Perasaan Kena Suspensi Uskup dan Masa Depan THS-THM (3)

8
13,971 views
Romo Martinus Hadiwijoyo Pr dalam kesempatan memimpin prosesi acara pelatihan silat kelompok THS-THM. (Dok. Maria Selastiningsih)

DALAM sejarah kerasulan imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), nama Romo Hadiwijoyo Pr atau Romo Hadi- sering kali lamgsung dihubungkan erat dengan bentuk kerasulan amat khas. Dan itu diambil dari khazanah budaya asli bangsa Indonesia, yakni pencak silat.

Di Seminari Mertoyudan, cikal bakal lahirnya THS-THM

Tahun 1983 silam, almarhum Romo “Siwo” Padmaseputra Pr –saat itu menjabat Direktur Seminari Menengah Mertoyudan- berprakarsa mengirim surat kepada Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus di Kentungan, Yogyakarta saat itu -yakni Romo Theo Prayitno SJ.

Isi surat itu adalah minta izin Rektor Seminari Tinggi Kentungan agar Fr. Hadi Pr boleh melatih silat para seminaris di Seminari Mertoyudan.

Romo Rektor Seminari Tinggi Kentungan langsung mengizinkan. Tapi program latihannya hanya boleh seperti ini: sekali saja dalam sebulannya.

Lantas, Fr. Hadiwijoyo Pr lantas memeras pikiran guna mencari cara “ngakalin”: Bagaimana bisa melatih pencak silat yang baik, kalau hanya dengan waktu latihan satu kali dalam sebulan?

Romo Martinus Sukamartoyo Hadiwijoyo Pr (duduk paling depan) saat masih berstatus frater calon imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta. Almarhum duduk bersmaa dengan kolega para frater lainnya. (Dok. Romo Simon Lili Tjahjadi Pr/KAJ)

Ia lalu memutuskan hanya akan memberi beberapa gerak dasar pencak silat saja. Taruhlah itu seperti menangkis, menyerang, menghindar, menahan, melawan, dan lainnya. Dan itu pun akan dilatihkan secara singkat-padat kepada para seminaris di Seminari Mertoyudan.

Cara ini harus ditempuh dengan harapan semoga mereka bisa mengembangkan jurusnya sendiri nanti. Tidak disangka, para seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan saat itu sungguh menunjukkan minat mereka yang amat antusias. Mereka juga dengan sangat cepat mampu menerima gerak-gerak dasar ini.

Cikal bakal munculnya kelompok THM ini terjadi di Seminari Menengah Mertoyudan tahun 1984-1985 saat waktu itu Fr. Martinus Hadiwijoyo Pr dari Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan di Yogyakarta sebulan sekali datang melatih seni beladiri pencak silat kepada para seminaris. (Dok. Yohanes Lilik Subiyanto/IASM)
Para seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan yang aktif bergiat berlatih seni beladiri pencak silat bersama Fr. Martinus Hadiwijoyo Pr mulai tahun 1984. (Dok. Yohanes Lilik Subiyanto/IASM)

Jurus-jurus A-I-S-U-R-T-O

Dari sini munculllah “jurus-jurus abjad” (Jurus A hingga Z) yang terkenal itu.

“Jurus-jurus itu betul-betul ciptaan mereka sendiri. Adapun sumbangan saya hanyalah tujuh jurus saja, yakni jurus A-I-S-U-R-T-O, tujuh abjad terbanyak yang diambil dari nama-nama mereka sebagai murid-murid saya waktu itu.

Selain itu, tujuh jurus tadi saya jadikan pengingat mereka akan 7 Sakramen yang menghidupi dan mengembangkan iman kita.

Bagi saya, penting bahwa mereka memiliki ‘patokan karohanen’ (artinya: patokan kerohanian) pada tujuh sakramen ini, agar mereka ada pengendali batinnya. Sebab silat berhubungan erat dengan hidup rohani, tanpa ini silat bisa bergerak tanpa kendali,” kata Frater Hadiwijoyo Pr saat itu.

Romo Martinus Hadiwijoyo Pr saat masih muda belia. (Dok. Maria Selastiningsih)

Tugas pertama di Paroki Tanjung Priok

Tanggal 4 Juli 1984, Diakon Hadiwijoyo akhinya menerima Sakramen Imamat dan ditahbiskan menjadi imam diosesan KAJA. Sebagai neomis -imam tahbisan anyar- Romo Martinus Hadiwijoyo Pr langsung ditugaskan menjadi pastor rekan di Paroki Tanjung Priok.

Untuk menghidupkan kegiatan kaum muda secara lebih atraktif, Romo Hadi mau membuat sesuatu yang lain.

Ia lalu mengundang para muridnya dari Seminari Mertoyudan dulu untuk mengadakan aksi panggilan. Yakni, dengan cara melatih para orang muda laki-laki bermain silat selama beberapa hari.

Silat dengan dua elemen

Bentuk latihan silat pun terpola dalam dua elemen, yakni:

  • Elemen pendalaman iman dengan pembacaan Kitab Suci yang dilanjutkan dengan renungan atasnya.
  • Elemen latihan gerak silat itu sendiri.

Dari sini muncullah paguyuban silat Tunggal Hati Seminari (THS). Tujuannya, untuk menyatukan hati mereka dengan niat mengabdi Tuhan.

Respon positif Uskup KAJ Mgr. Leo Soekoto SJ

Pada tahun 1985, Tahun Kepausan untuk Kaum Muda, digelar pertunjukkan aksi-aksi kaum muda KAJ di Istora Senayan. Acara ini juga dihadiri oleh Uskup KAJ waktu itu: Mgr. Leo Soekoto SJ.

Romo Martinus Hadiwijoyo Pr (1947-2022) bersama para tokoh penggerak kelompok THS-THM dalam kesempatan sidang nasional. (Dok. Maria Selastiningsih)

Beliau amat terkesan dengan penampilan para pesilat, sehingga Mgr. Leo secara spontan lalu berkata, “Romo Hadi, aku seneng kae, pencak. Ning pencake kok mung lanang thok? (Romo Hadi, saya senang itu, pencak. Tapi pencaknya kok hanya terdiri dari anak laki-laki melulu?).”

Pertanyaan itu semula dianggap pertanyaan biasa saja oleh Romo Hadi, sebab sudah jelas THS kan untuk aksi panggilan menjadi imam.

Mgr. Leo Soekoto SJ

Lalu muncullah THM

Namun sejak saat itu, almarhum Romo Hadiwijoyo mengaku “tergoda” untuk mulai memikirkannya.

Kelak pada tahun berikutnya 1986, waktu dipindahtugaskan menjadi Pastor Kepala di Paroki Pulomas, Jakarta Timur, Romo Hadi mulai juga melatih pencak silat kepada puteri-puteri.

Ini sebagai jawaban positifnya atas pertanyaan Mgr. Leo di tahun sebelumnya itu.

Dari sini terbentuklah paguyuban silat THM (Tunggal Hati Maria) untuk menunjukkan tekad para pendekar muda ini menaati kehendak Tuhan. Seperti Maria.

Pemberian ciri “paguyuban” atau “perkumpulan” -dan sama sekali bukan menyebut sekolah “perguruan” pada THS-THM ini- dianggap sangat penting bagi Romo Hadi.

Sebab katanya, “Mereka tidak mempunyai guru besar atau pendekar tertingginya, hal yang lazim dalam suatu perguruan silat. Sebab hanya ada satu guru mereka, yaitu Kristus. Semua yang lain adalah saudara yang harus mengabdi pada satu-satunya Guru Utama itu. (Bdk. Matius 23: 8).”

Menyebar ke mana-mana

Dalam perkembangan selanjutnya, tanpa diduga sama sekali, THS-THM berkembang dengan cepat kemana-mana. Kini, bukan sebatas KAJ, melainkan juga sampai ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa.

Ruang yang dimasukinya pun bermacam-macam: sekolah-sekolah, kampus universitas, seminari-seminari, di daerah-daerah luar Jawa bahkan pada tingkat-tingkat kelurahan, selain tentu saja di paroki-paroki yang merupakan basisnya.

Di antara mereka sudah ada banyak yang lalu menjadi imam dan uskup. Misalnya imam diosesan KAS Romo Luhur Prihadi Pr dan Mgr. Antonius Subiyanto – keduanya alumni Seminari Menengah Mertoyudan.

Sampai menjelang akhir tahun 1990-an, kelompok THS-THM muncul di berbagai paroki di KAJ – sungguh ibarat jamur di musim penghujan.

Akan tetapi setelah itu keadaan terkesan berputar balik. Ada apakah gerangan?    

Almarhum Romo Martinus Hadiwijoyo Pr bersama para penggerak kelompok THS-THM. (Dok. Maria Selastiningsih)

Suspensi uskup jadikan THS-THM “mati suri”

Tahun 1993, Bapak Uskup KAJ Mgr. Leo Soekoto menjatuhkan suspensi atas Romo Hadiwijoyo Pr. Suspensi adalah keputusan gerejawi atas seorang imam yang antara lain memuat larangan baginya menerimakan Sakramen-sakramen.

Pasalnya Romo Hadiwijoyo Pr oleh otoritas Gereja Lokal KAJ waktu itu dinilai:

  • Tidak memenuhi kewajiban tertib administrasi yang akhirnya membawa dampak kerugian pada umat;
  • Sering melanggar kewajiban residensi dan itu malah membuat pelayanannya terbengkalai.

Dan suspensi itu selalu dihubungkan dengan kegiatannya menangani kelompok-kelompok silat yang didirikannya.

Romo Hadi mengaku bahwa dia merasa amat terpuruk karena dikenai suspensi itu. “Rasanya, seperti orang ditelingkung, sehingga saya tidak bisa apa-apa lagi,“ katanya waktu itu.

Gagal bisa menemui uskup

Keinginannya untuk bertemu dengan Bapak Uskup pun Mgr. Leo Soekoto SJ tidak tercapai.

“Saya sudah mencobanya tiga kali, tapi selalu saja gagal,“ tambahnya dengan hati getir.

Banyak orang merasa, cepat atau lambat Romo Hadiwijoyo Pr pasti nantinya tidak akan tahan dengan keadaan ini dan keluar dari jalan imamatnya.

Kaum muda Katolik yang saat itu aktif berkegiatan latihan silat bersama kelompok THS-THM bersama Romo Martinus Hadiwijoyo Pr. (Dok. Maria Selastiningsih)

Tetapi syukurlah, Romo Hadi menerima keadaannya dengan hati tabah. Ia juga menjadi mawas diri dan memperbaiki sikapnya. Caranya “ekstrim”, yakni dengan tidak (mau lagi) mengurusi dan berkecimpung mau mengelola kegiatan gerakan melatih ilmu silatnya.

“Sekarang ini saya ‘ngiler’, terutama kalau melihat anak-anak bermain silat THS-THM. Sementara saya hanya bisa menyapa mereka saja dan tidak bisa ikut.

Sudah lama, saya tidak melatih silat lagi; baik di sini maupun di mana-mana. Jurus-jurusnya pun sudah banyak yang saya lupa. Saya sebenarnya ingin tetap bisa aktif di persilatan. Tapi tanpa penugasan, itu tindakan gila. Karena, saya mau taat,” kata Romo Hadiwijoyo Pr saat itu.

Wajah super ceria almarhum Romo Martinus Hadiwijoyo Pr (1947-2022) setiap kali bisa berjumpa dengan para penggiat kelompok THS-THM. (Dok. Maria Selastiningsih)

Diangggap ajarkan “ilmu sesat”

Suspensi pastoral itu pun akhirnya dicabut oleh Mgr. Leo Soekoto SJ awal tahun 1995.

Fungsi pelayanan imamat Romo Hadiwijoyo Pr dipulihkan kembali dengan penugasan menjadi pastor rekan di Paroki Kampung Sawah, Bekasi.

Akan tetapi, nasib buruk masih saja tetap menimpa perkumpulan-perkumpulan THS-THM di wilayah pastoral KAJ di antara kurun waktu suspensi itu.

“Kala itu, ada sebagian imam dan awam yang sudah serius menganggap beladiri yang diajarkan Romo Hadi adalah sesat. Juga sudah tidak diizinkan Gereja untuk dipraktikkan dan apalagi diajarkan. Buktinya? Lihat saja tokoh pembimbingnya itu disuspensi.

Lalu lebih ngeri lagi ya soal ini. Itu ada hubungan dengan pemakaian tenaga dalam dari kuasa gelap.

Tentu saja, semua orang yang tahu tentang dunia persilatan atau ilmu beladiri apa pun sangat sadar, bahwa tuduhan itu sama sekali sungguh tidak benar.

Pemakaian tenaga dalam itu bukan magis

Pengerahan tenaga dalam sama sekali bukan soal magis, melainkan soal latihan dan konsentrasi. Namun bola salju sudah terlanjur bergulir dan kini melindas banyak kelompok THS-THM.

Alhasil di banyak paroki di KAJ, THS-THM lalu dilarang eksis untuk “beredar”. Atau, kalau tidak dilarang, dibiarkan ada tanpa pendampingan.

Lama-kelamaan satu demi satu kelompok THS-THM menghilang. Bubar tanpa kabar.

Tidak dapat disangkal, fakta bahwa Romo Hadiwijoyo Pr telah disuspensi itu telah menyebabkan keberadaan THS-THM yang diasuhnya kini lalu jadi dipertanyakan secara serius di paroki-paroki KAJ.

Namun begitu, keadaan demikian hanya dialami di Jakarta.

Di daerah-daerah di luar KAJ, di mana gema suspensi itu praktis tidak terdengar, perkumpulan THS-THM masih eksis, bahkan hingga saat ini.

“Di seluruh Pula Timor,“ misalnya, “bahkan anak-anak Katolik semacam diwajibkan masuk THS-THM, agar mereka bisa belajar disiplin, penguasaan diri dan penguatan iman. Para anggota THS-THM siap membantu kegiatan gereja kapan pun dan dimana pun,” begitu kesaksian seorang imam Keuskupan Atambua.

Pemandangan lainnya. Saat para peserta Munas UNIO Indonesia mengunjungi Tana Toraja bulan Agustus 2009, rombongan para imam diosesan se-Indonesia itu merasa terkesima disambut dengan kawalan seratusan “pendekar” (anak-anak dan orang dewasa) dari perkumpulan THS-THM dengan baju seragam biru dan celana hitamnya.

Lantas?

  • Apakah kontras “nasib” THS-THM di Jakarta yang amat berbeda di luar Jakarta ini mengisyaratkan, pencak silat itu tidak kompatibel dengan pop culture budaya urban Jakarta dan dianggap ketinggalan zaman?

Atau,

  • Apakah ini menunjukkan betapa perhatian orang Jakarta umumnya, dan Gereja KAJ khususnya, amat kecil –untuk tidak mengatakan tiada sama sekali– terhadap warisan leluhur, khazanah budaya asli bangsa kita sendiri ini?
  • Padahal, yang sebenarnya dan nyatanya model itu memang bisa menjadi sarana kerasulan untuk orang muda?
  • Bukankah efek bentuk kerasulan ini sebanding atau mungkin malah lebih baik daripada bentuk-bentuk kerasulan ala Barat yang kini berkembang (komunitas-komunitas atau Persekutuan Doa gaya populer lengkap dengan band, tim singers dengan lagu pop rohaninya)?
Doa hening almarhum Romo Martinus Hadiwijoyo di atas altar saat memimpin Perayaan Ekaristi. (Dok. Maria Selastiningsih )
Almarhum Romo Martinus Hadiwijoyo Pr dalam berbagai kesempatan acara bersama para penggerak kelompok THS-THM dan bertemu Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM. (Dok. Maria Selastiningsih)

Sarana efektif untuk dialog antar umat beragama

Bagi Romo Hadi sendiri, silat itu bisa menjadi sarana yang baik dalam menciptakan hubungan harmonis antar agama. Khususnya antara Gereja Katolik dan Islam yang di tanahair ini mengenal silat sudah sejak masa perkembangannya.

Di dalam dunia persilatan, pesilat dari kelompok satu memandang saudara pesilat dari kelompok lain.Romo Hadi sendiri diakui sebagai “pendekar muda“, satu tingkat di bawah pengakuan tertinggi, yakni: “pendekar”.

Bahwa silat atau olah raga beladiri berhubungan erat dengan pengolahan batin dan hidup rohani ini tampak bukan saja di Indonesia, melainkan juga di dunia Timur pada umumnya.

Begitu misalnya, para biksu Shao-Lin telah ratusan tahun menghubungkan wushu (kung-fu) dengan meditasi dan penguasaan roh atas badan.

Demikian juga halnya dengan seni bela diri Jepang, termasuk samurai, yang dihubungkan dengan spiritualitas dan disiplin zen.

Di dalam perguruan-perguruan silat di Indonesia sendiri amat lazim bahwa pencak silat berhubungan dengan agama, khususnya aspek keislaman.

Kalau memang begitu halnya, maka mungkin saatnya dipikirkan kembali secara serius untuk mengembangkan kembali silat THS-THM, demi kerasulan untuk Gereja dan Negara.

Almarhum Romo Martinus Hadiwijoyo Pr bersama para penggerak kelompok THS-THM. (Dok. Maria Selastiningsih)

Harapan Romo Hadiwijoyo sedehana saja.

“Kita hendaknya meneladan semangat Romo Kanjeng (baca: Mgr. Albertus Soegijapranata SJ) yang menekankan perlunya kita menjadi 100% katolik, 100% Indonesia.“

THS-THM yang dibinanya itu kiranya mencerminkan harapan almarhum Romo Martinus Sukamartoyo Hadiwijoyo itu.

Requiescat in pace et vivat ad vitam aeternam.

8 COMMENTS

  1. THS dan THM itu induk berasal dari mana? Apakah 100% ciptaan Romo Martinus? Di Indonesia ini banyak sekali cabang pencak silat, rata-rata mereka berasal dari pencak silat Merpati Putih yg konon ceritanya diciptakan oleh putri raja Solo, ada lagi di Madiun ada 2, 2 ini awalnya satu, karena beda pendapat pecah jadi dua dan sampai sekarang tidak bisa akur masih sering tawuran atas nama perguruan.
    Berkenaan dengan tenaga dalam itu juga banyak menyimpan misteri. Orang yang ateispun bisa punya tenaga dalam, tenaga dalam ini asalnya dari mana? Misteri inilah yang harus kita sikapi dengan hati-hati.

    • Sya tidak begitu yakin tenaga dalam adalah hasil dari olah pikiran/kosentrasi. Di dunia eksorsisme, ini termasuk Pseudosains atau kelompok atau kepercayaan duniawi yang secara keliru menganggap suatu informasi berdasarkan metode ilmiah atau menjadi kebenaran ilmiah, padahal salah. Tenaga dalam bisa saja trmasuk di dalmnya. Praktisinya biasanya memiliki pendasaran pembelaan atau penjelasan seakan² itu adalh ilmiah/ aman, padahal mungkin tidak atau mungkin ada bantuan roh di balik kemampuan supernatural ini, tpi bukan roh kudus

  2. Silat sebagai olahraga memang tidak apa-apa, tp jika sudah memakai tenaga dalam, itu yg patut dihindari. Penulis malah menggiring pembaca akan pembenaran dg membandingkan dg para biksu dan ajaran lain yg jelas2 tidak sesuai dg ajaran kristiani.

  3. Yang masih mendukung tenaga dalam itu tdk apa2, silahkan pahami lg ttg New Age Movement yg di dlmnya ada Pseudosains. Strategi Iblis utk menggoyah iman umat itu sungguh amat canggih, di antaranya ya lewat praktek2 tenaga dalam, prana, reiki, dsb.

  4. Jangan-jangan iblis lebih mudah merasuk ke dalam pikiran dan hati mereka yang merasa suci dan benar yang menganggap setiap kegiatan inkulturasi ajaran kristiani dan budaya lokal pasti sesat. Seperti para Farisi dan ahli Taurat di masa Yesus. Bukalah hati dan pikiran sebelum berpendapat. Kenali para THS-THM. Lihat buah-buahnya. Pun mereka yg mempelajari ‘tenaga dalam’ apakah lalu menjadi sesat dan menjauh dari nilai-nilai serta tradisi Katolik?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here