Ini Baru Sportif: Proses Melejitnya PSSI U23

0
20 views
Menang tanding sepakbola.

ADA yang menarik perhatian dunia di babak prakualifikasi Piala Asia 2024, yaitu grup yang terdiri dari Qatar, Australia, Jordan dan Indonesia. Masing-masing dengan peringkat dunia 24, 34, 71 dan 134.

Ajaib, justru negara buncit yang menyedot netizen berceloteh ria. Surprise terjadi, bersama Qatar, Indonesia lolos ke babak selanjutnya.

Prestasi Timnas Indonesia sedang bangkit. Banyak pengamat malah menyebutnya “melesat” atau “mencengangkan”. Terutama kesebelasan U23, khususnya saat kompetisi ini. Lebih khusus lagi saat melawan Qatar, dengan selisih peringkat 110 negara.

Ada catatan penting.

Publik sepakbola dunia menilai wasit berat sebelah. Media-media sport mainstream dunia ikut mengecam kepemimpinannya. Raja Qatar, Tuan Tamim bin Hamad Al Sain, konon ikut menyatakan penyesalan atas kejadian ini.

Salah satu komentator sepakbola menyatakan bahwa tak heran kalau wasit dari Tajikistan, Nasrullo Kabirov, condong ke Qatar. Mereka tuan rumah yang punya gawe, dan kaya-raya.

Alhasil dua pemain Indonesia “diusir” dengan kartu merah. Salah satunya adalah Ivan Jenner yang kena akumulasi dua kartu kuning, padahal fakta bahwa dia bersentuhan dengan pemain lawan pun masih bisa diperdebatkan.

Yang kedua, hukuman penalti gara-gara Rizky Ridho menyikut lawan di area terlarang pun dianggap “halusinasi” wasit.

Singkat cerita, Indonesia kalah 0-2.

Namun dunia belum kiamat. Masih dua pertandingan lagi, dengan lawan-lawan yang jauh lebih tinggi peringkatnya, selisih 100 dan 63. Jelas bukan hal yang enteng.

Kekalahan pertama tak mengubur Indonesia. PSSI mengakuinya, meski tetap berpendapat bahwa wasit berat sebelah, tidak adil, atau curang.

Dilayangkanlah protes ke AFC.

Tak harus menunggu lama, AFC menolak protes PSSI dan menyatakan pertandingan sah. Keputusan wasit adalah final dan mengikat.

Saya kecewa dengan putusan AFC. Sebaliknya, setuju dan senang dengan sikap PSSI.

Yang pantas mendapat acungan jempol adalah sikap para pemain, pelatih dan PSSI dalam melihat “kekalahan” itu.

Beberapa kali PSSI menyatakan bahwa yang sedang diperjuangkan bukan soal kalah atau menang, bukan soal jumlah kartu merah atau kuning, bukan soal 0-1 atau 0-100.

Ini masalah menegakkan keadilan, membangun proses yang lebih baik dan adil serta berpegang pada nilai-nilai sportivitas. Bahasa kerennya menjunjung moral dan etika. Siapa sih yang ngga setuju dengan sikap mulia seperti ini?

Pertandingan selanjutnya membuktikan bahwa sikap positif PSSI membuahkan hasil yang menggembirakan. Melumat Australia 1-0 dan menghempaskan Jordan 4-1. Indonesia melaju ke babak seperempat final.

Bukti bahwa sikap positif menciptakan perilaku yang baik. Buahnya adalah hasil yang diharapkan.

“Hasil tak pernah mengkhianati proses”.

Selain mengembangkan skill dan strategi, yang ciamik dari pelatih STY adalah membangun sikap yang positif dan konstruktif dari pasukannya. Contohnya adalah, kekalahan diakui namun ketidak-adilan harus terus ditentang. Sampai kapan pun, sampai ke mana pun. Itu “sportif”.

PSSI mengutamakan kepentingan yang lebih jauh dibandingkan “hanya” satu-dua gol atau menang–kalah. Jika seandainya PSSI gagal pun, mereka tetap dicatat sebagai “pemenang” sejatinya.

Dalam skala yang lebih luas, tindakan seperti itu hanya ditunjukkan oleh seseorang negarawan.

Jangan bersikap fatal saat kalah. Tak hanya itu, ketika menang pun, jangan mentang-mentang dan “ojo dumeh”. Menang-kalah itu hanya sesaat, sementara “kebenaran” berlaku selamanya.

Tiba-tiba saya ingat pidato kebudayaan wartawan dan budayawan almarhum Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki, 16 April 1977, berjudul Manusia Indonesia.

Mochtar Lubis mencatat, bahwa manusia Indonesia, diantaranya, mempunyai sikap munafik atau hipokrit, enggan bertanggung jawab, feodal, tak sabar, pandai menggerutu, dengki, memuja hal-hal yang hampa. Kalau deretan sifat itu digabungkan, disebutlah sebagai sikap “tidak sportif”.

“Sportif” berasal dari Bahasa Inggris, sportive. Ia mengandung aspek tanggungjawab, mengakui kesalahan atau kekurangan, siap meminta maaf, apabila menang atau benar tidak “sok-sokan”, dan mudah memaafkan orang lain. Secara implisit, sportif juga bermakna lebih mengutamakan kepentingan yang lebih besar.

Mengaku salah atau kalah pun bukan sesuatu yang mudah. Saya sering mengalaminya. Ternyata benar, tak mudah.

Orang bijak mengatakan, minta maaf kalau salah atau mengaku keunggulan lawan bila kalah, juga bersikap amanah bagi yang menang, perlu kebesaran hati yang tak terkira.

Sekali lagi, itu adalah ekspresi yang sulit ditunjukkan. Padahal, satu-satunya bukti bahwa anda adalah pelaku yang baik, dan sedang berada dalam permainan yang baik, adalah dengan menjalani kekalahan dengan baik pula.

“The only way to prove that you are a good sport is to lose”. (Ernie Banks – Pemain baseball profesional Amerika)

@pmsusbandono
24 April 2024

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here