Yoh. 7:1-2,10,25-30.
ADA sebuah pepatah yang sering kita dengar: “Tidak kenal, maka tidak sayang.”
Pepatah ini mengingatkan kita bahwa kasih biasanya lahir dari sebuah perkenalan.
Ketika seseorang mulai dikenal, ketika kisah hidupnya dipahami, ketika pergulatannya disadari, di situlah hati mulai tergerak untuk mengasihi.
Dalam kenyataan hidup, cara manusia “mengenal” tidak selalu sama.
Ada orang yang pura-pura kenal. Ia bersikap seolah dekat, tetapi sebenarnya tidak pernah sungguh memahami siapa orang itu.
Ada juga orang yang sok kenal, merasa tahu segala sesuatu tentang orang lain, padahal pengetahuannya hanya sebatas permukaan.
Ada pula yang memang tidak kenal sama sekali, sehingga mudah sekali menilai, menghakimi, bahkan menjauh.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”
Perkataan ini menunjukkan sebuah kenyataan rohani yang dalam. Orang-orang itu mengenal Yesus secara lahiriah, tetapi tidak mengenal Dia secara rohani.
Mereka tahu dari mana Dia datang sebagai manusia, tetapi mereka tidak mengenal Bapa yang mengutus-Nya
Sering kali hal yang sama terjadi dalam hidup kita. Kita merasa sudah mengenal Tuhan karena kita berdoa, mengikuti ibadat, atau membaca Kitab Suci. Namun bisa saja pengenalan kita masih berada di permukaan.
Kita mengenal nama-Nya, tetapi belum sungguh mengenal hati-Nya. Kita mengenal ajaran-Nya, tetapi belum sungguh hidup di dalam kehendak-Nya.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah pengenalan saya akan Tuhan hanya sebatas pengetahuan atau sudah menjadi relasi pribadi?









































