Mat 20:17-28
KEPEMIMPINAN sering kali dibayangkan sebagai sosok yang keras, berteriak, dan penuh perintah. Namun di lapangan hijau, dunia melihat model kepemimpinan yang berbeda dalam diri Lionel Messi bersama timnas Argentina.
Messi bukan tipe pemimpin yang banyak bicara. Ia tidak selalu berdiri paling depan untuk memberi komando dengan suara lantang.
Ia memimpin dengan ketenangan. Dengan wajah yang tampak sederhana dan sikap yang lembut, ia justru memancarkan karisma yang lahir dari ketulusan dan konsistensi. Ia tidak menuntut rekan-rekannya berjuang mati-matian untuk dirinya; ia lebih dulu menunjukkan bagaimana berjuang tanpa lelah untuk tim.
Kita melihat perubahan besar dalam perjalanan Argentina, terutama saat menjuarai piala dunia.’
Messi tidak hanya mencetak gol; ia memikul beban harapan seluruh bangsa yang lama merindukan gelar. Namun yang paling menyentuh adalah bagaimana rekan-rekannya bermain seolah-olah ingin memberikan segalanya untuknya.
Kepemimpinan yang karismatis bukan soal dominasi, tetapi inspirasi. Messi menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan.
Justru dalam sikapnya yang tenang, para pemain menemukan rasa aman. Dalam kerendahan hatinya, mereka menemukan kepercayaan diri.
Ia tidak mencuri sorotan; ia membaginya. Ia tidak menyalahkan saat kalah; ia memikulnya bersama.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,”
Yesus tidak menolak kepemimpinan. Ia mengubah maknanya. Dalam Kerajaan Allah, besar bukan berarti berkuasa, tetapi berani merendahkan diri. Tinggi bukan berarti menginjak, tetapi menopang.
Yesus sendiri adalah teladan tertinggi. Ia adalah Tuhan, tetapi memilih membasuh kaki murid-murid-Nya.
Ia memiliki kuasa, tetapi menggunakan kuasa itu untuk menyembuhkan, bukan menindas. Salib menjadi mahkota-Nya, bukan simbol kekalahan, melainkan puncak pelayanan.
Dalam hidup sehari-hari, kita memimpin dalam keluarga, di komunitas, di tempat kerja, bahkan dalam lingkaran pertemanan.
Kepemimpinan yang menindas akan menciptakan ketakutan. Tetapi kepemimpinan yang melayani melahirkan kesetiaan. Yang satu membuat orang patuh karena takut; yang lain membuat orang berjuang karena cinta.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah aku memimpin dengan “tangan besi” dengan kemarahan, ancaman, atau manipulasi? Ataukah aku memimpin dengan hati seorang pelayan, mendengar, memahami, dan rela berkorban?












































