Home BERITA Jejak Sabda 5 Mar 2026: Membangun Jembatan

Jejak Sabda 5 Mar 2026: Membangun Jembatan

0
318 views
Ilustrasi - Jembatan Sungai Parjalihotan di Pinangsori, Sibolga, Tapanuli Tengah. (Setianus)

Luk 16: 19-31

SEORANG sahabat bercerita bahwa kini harus berjibaku menyeberang sungai setelah jembatan satu-satunya di dekat parokinya runtuh.

Jembatan itu menjadi nadi kehidupan di wilayah tersebut. Jembatan itu bukan sekadar beton dan besi. Ia adalah harapan, perjumpaan, dan kehidupan.

Namun beberapa tahun terakhir, sungai di bawahnya berubah. Truk-truk besar datang hampir setiap hari.

Pasir dikeruk tanpa henti. Orang-orang berkata, “Ini demi pembangunan.”

Sebagian mendapat keuntungan besar.

Sungai semakin dalam, arusnya semakin liar, tetapi tak banyak yang peduli.

Musim hujan datang lebih deras dari biasanya. Air sungai meluap, menghantam tiang-tiang yang kini menggantung tanpa pijakan kuat. Hingga jembatan itu runtuh.

Mereka tidak hanya kehilangan jalan penghubung. Mereka kehilangan akibat dari keserakahan mereka sendiri.

Jembatan itu tidak runtuh dalam satu malam. Ia runtuh sedikit demi sedikit, setiap kali pasir diambil tanpa tanggung jawab.

Seperti itulah hidup kita. Ketika keserakahan menggerogoti dasar nilai, ketika keadilan ditukar dengan keuntungan cepat, ketika suara peringatan diabaikan, keruntuhan hanya soal waktu.

Selagi kita masih hidup di dunia dan napas masih di dada, selalu ada kesempatan untuk berubah.

Dunia adalah ruang pertobatan. Di sinilah Tuhan memberi kita waktu untuk memilih: tetap berjalan dalam cara hidup yang tidak adil, atau berbalik dan menempuh jalan kebenaran.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.”

Allah tidak menciptakan jurang untuk memisahkan manusia. Jurang itu lahir dari hati yang mengeras.

Selama masih hidup, Tuhan masih memberi waktu untuk membangun jembatan: jembatan pertobatan, jembatan belas kasih, jembatan keadilan.

Setiap tindakan kasih adalah papan yang menghubungkan kita dengan Surga. Setiap ketidakpedulian adalah batu yang memperlebar jurang.

Sabda Tuhan mengingatkan bahwa tidak ada jembatan antara neraka dan surga. Setelah kehidupan ini berakhir, pilihan menjadi tetap.

Tidak ada lagi tawar-menawar, tidak ada lagi kesempatan kedua.
Tuhan hanya menyediakan jembatan selagi kita masih di dunia.

Jembatan itu adalah pribadi: Yesus Kristus. Dialah satu-satunya jalan menuju Bapa. Melalui hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya, Ia membuka akses bagi manusia untuk sampai pada keselamatan.

Kita tidak tahu kapan hidup ini selesai. Tetapi kita tahu satu hal: hari ini kita masih diberi kesempatan.

Jika ada orang yang “terbaring di depan pintu” hidup kita, orang miskin, orang terluka, orang yang tersingkir, di situlah Tuhan menunggu jawaban kita.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah saya menggunakan berkat yang Tuhan percayakan untuk menjadi jembatan kasih atau justru memperlebar jurang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo