Home BERITA Jejak Sabda 9 Desember 2025: Satu pun Tidak Boleh Hilang

Jejak Sabda 9 Desember 2025: Satu pun Tidak Boleh Hilang

2
512 views
Ilustrasi - Tak seorang pun boleh tinggal. (Ist)

Jejak Sabda, Selasa 9 Desember 2025

Yes 40:1-11.
Mzm 96.
Mat 18:12-14

ADA pengalaman rohani yang begitu dalam, yang sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata: pengalaman diampuni dan diorangkan.

Dua pengalaman ini bukan sekadar perasaan lega, tetapi sentuhan kasih yang memulihkan martabat paling dalam dari diri kita.

Ketika kita diampuni, kita merasa beban masa lalu yang menekan hati ini dilepaskan. Tidak lagi dibayangi rasa bersalah yang lama kita pikul.

Namun lebih dari sekadar penghapusan kesalahan, pengampunan itu menyentuh akar terdalam: kita kembali dipandang sebagai manusia yang layak dicintai.

Diorangkan berarti diperlakukan bukan sebagai masalah, bukan sebagai masa lalu, bukan sebagai kesalahan, melainkan sebagai pribadi yang berharga.

Banyak orang pernah mengalami bagaimana kesalahan membuat mereka dipandang rendah. Kata-kata yang menyakitkan, sikap yang menjauh, atau tatapan yang merendahkan bisa mengikis rasa harga diri.

Tetapi ketika kita diorangkan kembali, dihargai, didengar, diberi ruang, hati yang hancur bisa mulai pulih.

Dalam bacaan Injil.hari ini kita dengar demikian, “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.”

Yesus membuka hati Bapa, hati yang tidak pernah menyerah pada siapa pun, hati yang mencari, menunggu, dan memeluk setiap anak yang tersesat.

Yesus mengucapkannya dalam konteks “domba yang hilang.”

Satu domba yang tersesat cukup membuat gembala meninggalkan yang sembilan puluh sembilan.

Dunia mungkin menganggap satu hilang itu tidak penting. Tetapi bagi Tuhan, satu jiwa memiliki nilai yang tak ternilai. Nilainya tidak berkurang hanya karena jatuh, tersesat, atau terpuruk.

Sering kali kita melihat diri kita, atau sesama, dari kacamata manusia: siapa yang baik, siapa yang layak, siapa yang gagal, siapa yang sulit.

Kita mudah memberi label, mudah menyingkirkan, mudah menyerah. Namun Tuhan melihat dari hati-Nya sebagai Bapa. Dan hati itu penuh belas kasih.

Ketika seseorang tersesat, Bapa tidak menunggu sambil marah. Ia pergi mencari. Ketika seseorang jatuh, Bapa tidak menghitung kesalahannya. Ia mengulurkan tangan.

Ketika seseorang hilang arah, Bapa tidak menutup pintu. Ia menyalakan lampu dan menunggu di tepi jalan.

Itulah sebabnya tidak boleh ada kata putus asa dalam kamus iman kita, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Jika Bapa tidak menghendaki satu pun hilang, maka kita pun dipanggil untuk menjadi rekan-Nya dalam menjaga, menuntun, dan mengangkat.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku mudah menilai atau menyerah terhadap seseorang yang sulit? Bagaimana ayat ini menantang cara pandangku?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo