Home BERITA Ketika Roti dan Anggur Dipersembahkan

Ketika Roti dan Anggur Dipersembahkan

0
126 views
Ilustrasi - Anggur dan Roti dalam Perayaan Ekaristi dalam rangka pesta 62 tahun imamat Pastor Lambertus Somar MSC di Kapel Provinsialat MSC, 21 April 2026. (Mathias Hariyadi)

DIMENSI sakramental iman kristiani membuka cakrawala yang sangat luas: rahmat Allah tidak hanya hadir dalam tujuh sakramen Gereja, tetapi seluruh ciptaan memiliki potensi untuk menjadi “tempat” kehadiran Allah.

Dalam pengertian ini, iman kristiani memandang dunia bukan sebagai realitas yang tertutup, melainkan sebagai ruang yang transparan terhadap misteri ilahi.

Makna “kosmos”

Untuk memahami hal ini, penting terlebih dahulu mendalami makna kosmos.

Dalam tradisi biblis dan teologis, kosmos tidak sekadar berarti “alam semesta” dalam arti fisik, tetapi menunjuk pada ciptaan sebagai suatu tatanan yang memiliki makna, keindahan, dan keterarahan kepada Allah.

Kosmos adalah ciptaan yang teratur (ordo), yang keluar dari Sabda Allah dan mengarah kembali kepada-Nya.

Dalam Kitab Suci, dunia diciptakan “baik adanya” (bdk. Kej 1).

Kebaikan ini bukan hanya moral, tetapi ontologis. Artinya ciptaan memiliki kemampuan untuk mengungkapkan Sang Pencipta.

Mazmur bahkan menggambarkan seluruh kosmos sebagai pujian yang hidup. Pemazmur mengungkapkan bahwa langit, bumi, air, dan segala makhluk memuliakan Allah (bdk. Mzm 19; 148).

Dengan demikian, kosmos sejak awal memiliki dimensi “liturgis”. Kosmos ada untuk memuliakan Allah. Namun, dalam pengalaman manusia yang terluka oleh dosa, dunia sering kali dipahami secara terpisah dari Allah, sebagai sesuatu yang netral, atau bahkan sekadar objek untuk dikuasai dan dimanfaatkan.

Di sinilah iman kristiani menghadirkan visi yang berbeda yakni dunia bukan sekadar “benda”, tetapi “tanda”; bukan sekadar materi, tetapi sarana perjumpaan.

Ilustrasi: Yesus Raja Semesta Alam. (Komkat KWI)

Dalam liturgi

Dalam liturgi, visi ini menjadi nyata. Unsur-unsur sederhana dari dunia seperti air, roti, anggur, minyak, cahaya, bahkan waktu diambil, diberkati, dan diangkat ke dalam misteri keselamatan. Gereja tidak menciptakan unsur-unsur ini, melainkan menerimanya sebagai anugerah dari Allah.

Dengan demikian, liturgi memperlihatkan bahwa ciptaan memiliki kapasitas untuk menjadi pembawa rahmat.

Dalam perspektif ini, kosmos dipahami sebagai realitas yang terbuka kepada Allah dan dipanggil untuk ambil bagian dalam karya keselamatan. Liturgi menjadi tempat di mana dunia “dikembalikan” kepada tujuan aslinya yaitu menjadi pujian dan persembahan kepada Sang Pencipta.

“Sakramen Besar”

Pemahaman ini dikembangkan secara mendalam oleh Alexander Schmemann, yang menyebut dunia sebagai “sakramen besar”. Menurutnya, dunia diciptakan bukan hanya untuk “ada”, tetapi untuk menjadi tanda yang menunjuk kepada Allah dan sarana persekutuan dengan-Nya.

Dunia menemukan maknanya bukan ketika dimiliki, tetapi ketika dipersembahkan. Namun dosa telah merusak relasi ini. Manusia tidak lagi melihat dunia sebagai anugerah, melainkan sebagai objek konsumsi. Dunia kehilangan transparansinya terhadap Allah.

Ilustrasi – Menyambut kehadiran-Nya, konsekrasi. Sebuah lukisan Abad Pertengahan. (Ist)

Dalam situasi ini, liturgi, terutama Ekaristi memulihkan kembali visi yang benar yakni dunia diambil, diucap syukur (eucharistia), dipecahkan, dan dibagikan.

Dalam tindakan ini, dunia kembali menemukan maknanya sebagai pemberian dan persembahan.

Di sinilah tampak peran unik manusia dalam kosmos. Manusia dipanggil menjadi “imam ciptaan”. Ia menerima dunia dari Allah, mengucap syukur atasnya, dan mempersembahkannya kembali kepada Allah.

Tugas ini bukan sekadar simbolis, tetapi eksistensial. Manusia menjadi penghubung antara ciptaan dan Sang Pencipta.

Fungsi imamat

Dalam liturgi, fungsi imamat ini dijalankan secara paling penuh. Ketika roti dan anggur dipersembahkan, seluruh dunia secara simbolis dihadirkan dan diangkat kepada Allah.

Liturgi dengan demikian bukan hanya tindakan komunitas manusia, tetapi partisipasi dalam pujian kosmis seluruh ciptaan.

Dalam terang ini, liturgi memiliki dimensi yang melampaui ruang gereja. Ia menyentuh seluruh realitas yakni alam, waktu, tubuh manusia, dan sejarah. Bahkan kalender liturgi sendiri menguduskan waktu, menunjukkan bahwa waktu pun termasuk dalam “kosmos” yang dipanggil untuk ambil bagian dalam karya keselamatan.

Implikasi spiritualnya sangat luas. Jika dunia bersifat sakramental, maka kehidupan sehari-hari pun menjadi ruang perjumpaan dengan Allah. Tidak ada lagi pemisahan tajam antara yang “rohani” dan yang “duniawi”.

Segala sesuatu dapat menjadi tempat rahmat, jika diterima dalam sikap syukur dan dipersembahkan kembali kepada Allah.

Makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi dapat menjadi tindakan syukur. Pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi partisipasi dalam karya penciptaan.

Relasi bukan sekadar interaksi sosial, tetapi persekutuan kasih. Bahkan penderitaan pun, dalam terang Kristus, dapat menjadi persembahan yang menyatukan manusia dengan misteri salib.

Dengan demikian, spiritualitas liturgi menumbuhkan cara pandang baru terhadap dunia. Dunia tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang sekadar “dipakai”, tetapi sebagai anugerah yang “diterima, disyukuri, dan dipersembahkan”.

Pada akhirnya, sakramentalitas kosmos mengarah pada pengharapan eskatologis. Seluruh ciptaan, yang kini masih “mengeluh dan merasa sakit bersalin” (bdk. Rm 8), sedang bergerak menuju kepenuhannya dalam Kristus.

Liturgi menjadi tanda dan pendahulu dari pemulihan itu: suatu saat, seluruh kosmos akan menjadi liturgi yang sempurna yakni pujian tanpa akhir kepada Allah.

Sakramentalitas kosmos mengubah cara pandang manusia terhadap dunia. Dunia tidak lagi dilihat sebagai objek untuk dikuasai, tetapi sebagai anugerah untuk disyukuri dan dipersembahkan.

Dalam terang ini, seluruh ciptaan dipanggil untuk menjadi liturgi: suatu pujian kosmis yang mengalir dari Allah dan kembali kepada-Nya.

Dan manusia, sebagai imam ciptaan, dipanggil untuk memimpin pujian itu—hingga pada akhirnya, seluruh kosmos mencapai kepenuhannya dalam Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo