Kisah Hidup Driver Ojol di Jalanan: Perang Batin di Masa Pandemi, Debar Nurani Takut Tertular Covid-19

0
877 views
Goro Hendratmoko, alumnus Seminari Mertoyudan, jadi pengojek online demi keberlangsung asap dapur keluarga. Ia melakukan pekerjaan ini dengan perasaan harap-harap cemas karena dihantui kekhawatiran kalau sekali waktu bisa kena Covid-19. (Dok. Goro Hendratmoko)

INI catatan kecilku semata. Ya sekedar syering kecil saja.

Ini refleksi perang batinku sebagai seorang driver ojol. Hari-hari penuh degup guncang nurani. Yang terpaksa harus mau kujalani setiap hari. Dengan mengukur jalan panjang tiada putus di wilayah Yogyakarta, ketika masih berlangsung pandemi Covid-19.

Mempertaruhkan hidupku sendiri di jalanan full virus corona di tengah masih merebaknya kopet-19. Terutama hari-hari terakhir dalam pekan ini.

Meski setiap hari selalu sempat ciut nyali, aku tetap harus menjalani pakaryan sebagai driver ojol. Dengan setia menyusuri aspal jalanan Yogya.

***

Alasan sungguh ril, simpel, dan kemendesakan hidup. Soale, kudu obah, ben dapur iso ngepul.

Sempat beberapa kali dingatkan isteri untuk tidak narik ojol dulu. Terutama di hari-hari penuh risiko dengan gampangnya bisa tertular Covid-19. Namun aku putuskan tetap nekat saja. Dengan keyakinan, aku akan baik-baik saja. Asal setia dan selalu patuh pada prokes.

Kemana-mana selalu bawa cairan pembersih tangan. Setiap ada kesempatan cuci tangan dll dsb. 

Tiap kali, aku pulang sampai rumah,  sebelum masuk rumah, aku disemprot disinfektan sama anakku di depan pintu. Lalu setelah itu, aku lewat pintu belakang lalu lepas baju dan mandi. 

***

Setiap mau pergi gojek, selalu saja ada perasaan was-was. Namun, jauh di luar itu, justru aku semakin menyadari hal ini. Keberadaan ojol juga merupakan bagian dari salah satu garda terdepan untuk menyelamatkan para isoman. 

Nyatanya setiap hari gojek, aku selalu mendapatkan order go-food, go-shop, dan go-send untuk mengantarkan makanan dan bahan makanan ke rumah-rumah keluarga yang terpaksa menjalani prosedur isoman. 

Mereka selalu berpesan di chat aplikasi supaya menaruh makanan dan barang di depan rumah, karena mereka mengaku sedang isoman. 

Bahkan pernah suatu kali ketika abis mengantar gofood dan hendak pergi, ada seorang bapak di balik jendela berteriak lantang dan mengatakan, “Terimakasih Mas. Terimakasih banyak. Ora ono gojek, ora iso mangan, ora iso tuku-tuku, terimakasih Mas.”

Langsung aku jawab, “Iya pak sama-sama. Bapak lekas sehat dan pulih ya. Tuhan memberkati bapak dan sekeluarga.”

Setelah itu, aku lalu langsung ngloyor pergi. Segera meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur-aduk. 

Batin ini berkecamuk. Antara bangga bisa membantu orang. Tapi kali ini disertai dengan perasaan takut bilamana sekali waktu akan tertular. 

***

Sering kali ketika perang batin itu berlalu, aku hanya bisa mengatupkan mata sebentar. Lalu mendaraskan doa pada-Nya. 

Puji Tuhan. Alhamdulilah, sampai hari ini aku dan ribuan ojol lainnya masih diparingi sehat oleh Tuhan. 

Meski kami para ojol selalu bertemu dan berkontak dengan banyak orang, tapi kami aman dan sehat. 

Setiap kali menunggu orderan makanan dari resto, kami ngobrol dengan sesama driver ojol.

Kami selalu saling menguatkan. 

Meski hati ini sering kali ciut, tapi dengan bekal keyakinan, maka “everything gonna be ok” – demikian bunyi syair lagunya Bondan dan Fade2black.

Tetap tegak dada melayani pelanggan ojol belanja online atau kirim barang lainya dan makanan siap saji bagi pasien Covid-19 yang harus lakukan isoman. Jada pengojek online ada di layanan macam ini, terutama di masa pandemi Covid-19. (Dok. Goro Hendratmoko)

Karena itu, kami terus tegak dada menyusuri jalanan Yogja.

Kami sadar, khususnya bagi para isoman, mereka tetap membutuhkan keberadaan dan jasa kami – para pengojek online. Untuk mengantar makanan, membelanjakan kebutuhan dapur dan rumahtangga rumahan, membelikan obat di apotik, dan mengantarkan bahan makanan kiriman dari kekuarga atau handai taulan mereka. 

***

Akhir kata, pandemi ini memang “tremendum et fascinosum”. Begitu mengerikan dan nggegirisi, tetapi di lain pihak begitu indah. Inilah kesempatan emas bagi kita semua untuk kita bisa saling berbagi.

Maafkan kami bilamana di masa pandemi yang nggegirisi ini, kami tidak bisa hanya diam di rumah. Tapi malah nekat keluar rumah dan berjalan menyusuri jalanan Yogja.

Ini memang hanya demi keberlangsungan hidup keluarga.

Juga demi mereka yang sungguh butuh layanan kami demi keberlangsungan hidup keluarganya. Yang telah tercabik-cabik irama hidupnya gara-gara kopet-19.

Tabik. 

PS:

  • Tulisan ini dikerjakan berdasarkan pengalaman empiris penulis sebagai driver ojol di Yogya.
  • Kami persembahkan tulisan sederhana –sekedar buah refleksi diri- kepada semua driver ojol yang berani mempertaruhkan raga dan jiwanya di atas sadel motor dengan risiko terpapar Covid-19 di jalanan.

Catatan ojol by Goro, 7 Juli 2021

Ref:

Jakarta, Covid-19: i rider in aiuto alla popolazione in quarantena

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here