
ARTIKEL ini sepenuhnya merupakan opini seorang imam berdarah Barat, tapi punya perhatian serius pada perkembangan Gereja Katolik Afrika. Ia juga melihat hal menarik di Afrika.
Gereja-gereja Katolik di Afrika termasuk segenap umatnya boleh dikatakan “baru”. Bukan hasil gerakan misi besar-besaran dari Eropa sejak abad-abad silam, meskipun harus juga diakui bahwa ke-Katolik-an Gereja Afrika juga merupakan hasil kegiatan misi.
Ia menyerukan sebuah gagasan, barangkali ini saat tepat ketika Paus baru sebentar lagi akan dipilih dalam Konklaf Mei mendatang, postur Gereja Katolik Masa Depan tidak hanya akan mendapat pengaruh besar dari Asia saja, tapi juga dari Benua Afrika. Apalagi kalau harus melihat tantangan dan kebutuhan Gereja Katolik di Benua Afrika saat ini.
Maka, ketika Konklaf 2025 nantinya “bisa” mengerucut pada keputusan hadirnya seorang Uskup baru dari Benua Afrika -syukur-syukurlah dia seorang Afrika tulen dan asli dari sana – itu berarti juga berkulit hitam- kita mesti mensyukuri hal itu. Inilah yang sebenarnya mau disampaikan oleh Pastor Dwight Longenecker dalam sebuah risalah artikel opininya.
———————-
Kita Butuh Paus Afrika
Saat para Kardinal tengah berkumpul di Vatikan untuk memilih Paus baru, sorotan dunia bisa saja malah tertuju pada Afrika – benua dengan pertumbuhan Gereja Katolik dan jumlah umatnya yang pesat dan semangat iman yang kuat. Di tengah krisis global dan perpecahan internal, banyak pihak meyakini bahwa Gereja Katolik akan mendapatkan manfaat besar dari kepemimpinan yang berakar pada komunitas Katolik Afrika yang muda dan tangguh.
Pastor Dwight Longenecker, seorang imam dan penulis Katolik terkemuka, menyatakan bahwa Gereja membutuhkan seorang Paus dari Afrika untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Dalam esainya baru-baru ini, ia menyoroti populasi jumlah umat Katolik Afrika yang kini melebihi 230 juta jiwa. Usia mereka rata-rata 19 tahun. Ini merupakan satu indikator iman yang dinamis dan penuh semangat. Sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan jumlah umat Katoli di kawasan Eropa dan Amerika Utara yang mayoritas usianya sudah tua dan bahkan sangat sepuh sekali.
“Gereja di Afrika dipenuhi oleh umat muda yang antusias, liturgi yang hidup, dan devosi sakramental yang mendalam,” tulis Longenecker.
Ia juga menekankan keteguhan umat Katolik Afrika dalam menghadapi penganiayaan, mencatat bahwa ribuan orang Kristen di Nigeria tewas akibat kekerasan ekstremis pada tahun 2023.
“Umat Katolik Afrika adalah martir modern,” tambahnya, menyoroti bahwa pengalaman ini dapat membentuk seorang paus dengan suara profetik dan otoritas spiritual yang mendalam.
Teologi baru
Selain faktor demografis dan ketahanan, Longenecker menekankan kesegaran teologis Afrika. Berbeda dengan rekan-rekan mereka di Barat, umat Katolik Afrika kurang terpengaruh oleh pergolakan filosofis selama berabad-abad, seperti skeptisisme Abad Pencerahan atau relativisme Postmodernisme.
Seorang Paus dari Afrika, demikian menurut Longenecker, akan melanjutkan fokus perhatian besar dari mendiang Paus Fransiskus pada isu-isu tentang keadilan sosial dan kepedulian terhadap kaum miskin, sambil mempertahankan sikap tegas terhadap isu-isu seperti kesucian hidup dan integritas keluarga.
Ia berpendapat bahwa kepemimpinan semacam itu dapat menyatukan Gereja Global Utara dan Selatan, memulihkan vitalitas kesaksian Katolik di dunia yang semakin sekuler.
“Waktunya untuk seorang Paus Afrika adalah sekarang,” simpul Longenecker, sembari mendesak Gereja untuk mengakui Afrika bukan hanya sebagai masa depan, tetapi sebagai sumber kekuatan dan harapan saat ini.
Konklaf yang dijadwalkan dimulai awal pekan mendatang telah memicu spekulasi apakah para Kardinal untuk pertama kalinya mau memilih sosok penerus St. Petrus dari Benua Afrika. Kita tunggu saja jawabannya sembari menantikan hasil Konklaf 2025.
Baca juga: Misa requiem Paus Fransiskus, isi dan pesan homili Kardinal Giovanni Bapttista Re (23)










































