Lectio Divina 21.08.2022 – Lewatlah Pintu dan Jalan Sempit

0
358 views
Lewatlah pintu dan jalan sempit by Vatican News.

Minggu. Hari Minggu Biasa XXI (H)

  • Yes. 66:18-21.
  • Mzm. 117:1.2.
  • Ibr. 12:5-7.11-13.
  • Luk. 13:22-30.

Lectio (Luk. 13:22-30)

Meditatio-Eegese

Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa

Allah terus berseru dan mengundang segala bangsa dari semua bahasa. Ia hendak mengumpulkan mereka menjadi satu kawanan umat. Seruan-Nya terus digemakan oleh para nabi, termasuk Nabi Yesaya.

Allah memanggil Yesaya sebagai nabi-Nya kira-kira tahun 740 sebelum Masehi. Salah satu nubuatnya tentang akhir jaman menyingkapkan pada jaman Mesias semua bangsa di atas bumi akan bertobat dan memulihkan bangsa Israel yang tercerai berai ke Yerusalem sebagai persembahan bagi Allah.

Allah mengambil prakarsa mengutus orang-orang yang dipanggil dan dipilih-Nya untuk memberitakan siapa diri-Nya dan kemulian-Nya kepada segala bangsa yang belum mengenal-Nya. Para utusan itu akan pergi jauh, bahkan ke tempat yang tak berbayangkan sebelumnya.

Wilayah yang dihuni bangsa-bangsa asing mencakup bangsa-bangsa yang dikenal pada masa itu, yang meliputi: wilayah Tarsis mungkin mencakup wilayah yang merentang hingga Spanyol; Pul melingkupi wilayah Libya, dan Lud meliputi Lydia.

Mesekh mungkin melingkupi wilayah Frigia atau Persia; Tubal mencakup Kilikia dan Yawan meliputi wilayah Ionia di Asia Kecil dan Yunani (bdk. Nabi Yoel menyebutkan anak-anak Yawan mengacu pada orang-orang Yunani (Yl. 3:6). Dan. 8:21 menyebutkan ‘raja Yawan’ adalah Alexander Agung, raja Yunani. Za. 9:13 dan Dan. 10:20 menyamakan Yawan dengan Yunani.

Para utusan-Nya di masa depan akan ditahbiskan sebagai imam dan pelayan-Nya seperti yang dilakukan kaum Lewi (Yes. 66:21). Maka, prakarsa Allah untuk mengumpulkan segala bangsa dengan segala bahasa hanya bertujuan untuk menganugerahkan keselamatan.

Nabi Yesaya mengungkapkan dengan datang dan melihat kemulian-Nya (Yes 66:18), “Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Ku.”, veniam, ut congregem omnes gentes et linguas; et venient et videbunt gloriam meam.

Nubuat ini dipenuni saat Yesus dibangkitkan dan saat Gereja Perjanjian Baru dilahirkan pada Pentakosta. Setelah kebangkitan-Nya dan sebelum Ia naik ke surga, Yesus memerintahkan pada murid-Nya untuk menyebar luaskan Injil, warta keselamatan hingga ‘ke ujung-ujung bumi’ (Mat. 28:19-20; Kis. 1:8), agar manusia mengenal anugerah keselamatan dari Allah (Luk. 1:30-32; Yoh. 8:12).

Pada hari raya orang Yahudi, Pentakosta, seratus dua puluh orang beriman dari sisa-sisa Israel baru, yakni para rasul dan murid yang lain (Kis. 1:15), berkumpul di Ruang Atas selama sepuluh hari setelah Kenaikan Yesus ke surga.

Mereka dikunjungi dan dipenuhi oleh Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api, yang hinggap di masing-masing anggota Gereja.

Roh itu menganugerahkan pada mereka kuasa dan daya untuk menjadi utusan Yesus Kristus kepada segala bangsa di seluruh penjuru bumi. Bahkan Santo Markus menulis: ‘kepada segala makhluk.’

Nubuat Nabi Yesaya tentang pelayanan imam dan pelayan jemaat dipenuhi pada masa Gereja Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, kaum imam adalah anggora jemaat yang berasal dari keturunan Harun dan ditahbiskan untuk melayani ibadat dan kurban, mendengarkan pengakuan dosa dan mengampuni dosa (bdk, Im. 5:5-6.10b).

Kaum Lewi melayani jemaat untuk urusan yang tidak ditangani para imam.

Nubuat ini dipenuhi oleh Gereja yang didirikan Yesus Kristus yang menahbiskan para imam, yakni para pengganti murid-murid Yesus, dan para pelayan jemaat atau diakon yang membantu tugas para imam, kecuali dalam mempersembahkan kurban Kristus dalam Ekaristi.

Bangsa-bangsa bukan Yahudi yang percaya pada Yesus diterima sebagai anggota penuh Gereja Perjanjian Bari sejak kelahiran Gereja (Kis. 11:19-20; 10:34-48; 15:6-9).

Komunitas Gereja terdiri atas mereka yang berasal dari bangsa Yahudi dan bangsa asing, yang menerima kedudukan setara atas janji keselamatan abadi (Rm. 3:29-30; 9:24).

Lebih jauh, Santo Paulus menekankan tiadanya sekat apapun di antara para bangsa (Gal. 3:28), “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”, non est Iudaeus neque Graecus non est servus neque liber non est masculus neque femina omnes enim vos unum estis in Christo Iesu

Dan Gereja menggemakan panggilan untuk terus mewartakan rencana kehendak Allah untuk menghimpun dan mempersatukan semua manusia melintasi masa demi masa.

Gereja mengajar, “Semua orang dipanggil kepada Umat Allah yang baru. Maka umat itu, yang tetap satu dan tunggal, harus disebarluaskan ke seluruh dunia dan melalui segala abad, supaya terpenuhilah rencana kehendak Allah, yang pada awal mula menciptakan satu kodrat manusia, dan menetapkan untuk akhirnya menghimpun dan mempersatukan lagi anak-anak-Nya yang tersebar…

Sifat universal, yang menyemarakkan Umat Allah itu, merupakan karunia Tuhan sendiri. Karenanya Gereja yang katolik secara tepat-guna dan tiada hentinya berusaha merangkum segenap umat manusia beserta segala harta kekayaannya di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya.” (LG 13).” (Katekismus Gereja Katolik,831).

Yesus berjalan keliling, mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem

Beralih dari Galilea, Santo Lukas megisahkan Yesus memulai perjalanan dan mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem.

Inilah kota yang menjadi tujuan kepergianNya,  εξοδον, exodon, bentuk akusatif dari exodos, seperti dibicarakanNya bersama Musa dan Elia (Luk. 9:31).

Santo Lukas mengisahkan perjalanan dan pelayanan publik Yesus mulai dari Luk. 9:51 hingga Luk. 19:28. Dan pembaca selalu diingatkan akan tujuan kepergian-Nya (Luk. 9: 51.53.57; 10: 1.38; 11:, 1; 13: 22.33; 14:, 25; 17: 11; 18: 31; 18: 37; 19:1.11.28).

Disebutkan pula tempat berangkat (Luk. 9:51), di tengah perjalanan (Luk. 17:11) dan, akhir perjalanan-Nya (Luk. 18:35; 19:1). Maka, pembaca diajak untuk terus bergerak, tidak berhenti. Tempat yang dilewati tidak pernah pasti, kecuali tujuan: Yerusalem. Di sanalah: exodus – sengsara, wafat dan kebangkitan. 

Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?

Selama perjalanan banyak hal terjadi: berita pembantaian dan kecelakaan (Luk. 13:1-5), perumpamaan (Luk. 13:6-9; 18-21), perbantahan (Luk. 13:10-13). Dan sekarang, timbul pertanyaan tentang keselamatan (Luk. 13:23), “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”, Domine, pauci sunt, qui salvantur? 

Jawaban Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan para murid. Dan jawabannya pun terdengar ganjil, di luar harapan. Akan datang pada-Nya banyak sekali orang untuk masuk Kerajaan-Nya.

Tetapi, yang datang adalah mereka yang melakukan kepalsuan.  Kepalsuan kemudian beranak-pianak menjadi kepalsuan baru dan kepalsuan lebih baru. Maka, ketika mereka berteriak, “Tuan, bukakanlah kami pintu… Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.” (Luk. 13:25-26).

Kepada orang-orang itu, Ia menjawab (Luk. 13:25), “Aku tidak tahu dari mana kamu datang.”, Nescio vos unde sitis.

Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu

Sejak awal mula, Allah menganugerahkan kehendak bebas pada manusia. Melalui kehendak bebasnya, manusia merdeka memilih satu dari dua pintu: melangkah mengikuti jalan ketaatan pada Allah atau mengikuti jalannya sendiri, jalan kepalsuan.

Nabi Musa berbicara pada umat Israel tentang pilihan ini: memilih setia pada perintah Allah atau jalan yang mengarah pada kematian (Ul 30:15-20). Terlebih pemazmur menggemakan (Mzm. 1:6), “TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.”, Quoniam novit Dominus viam iustorum, et iter impiorum peribit.

Dan dalam sejarah Gereja, sebelum kata Kristiani digunakan di antara jemaat di Antiokia Siria, para murid Tuhan disebut sebagai pengikut Jalan Tuhan (Kis. 9:2). Nama ini juga tercatat dalam Katekismus Gereja Perdana, yang disebut juga juga Pengajaran Dua Belas Rasul atau Didache.

Pintu yang sempit atau jalan selalu mengacu pada Yesus. Ia bersabda, “Akulah pintu” dan “Akulah Jalan” (Yoh 10:7-9; 14:6).  Pintu yang sempit sering disamakan dengan lubang jarum (Mat. 19:24; Mrk. 10:25; Luk. 18:25).

Jalan itulah yang harus dilalui bila hendak masuk Kerajaan-Nya. Maka kepada si penanya, Yesus bersabda (Luk. 13:24), ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu.”, Contendite intrare per angustam portam.

Santo Lukas mengunakan kata seru αγωνιζεσθε, agonizesthe, dari kata kerja agonizomai: bertanding dalam perlombaan atletik, berjuang, bergumul.

Santo Paulus menggunakan kata ini, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar.” (1Tim. 6:12; 2Tim. 4:7) dan “Epafras … yang selalu bergumul dalam doanya.” (Kol. 4:12).

Dan hanya Dialah satu-satunya Jalan masuk ke dalam Kerajaan Surga, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:6).

Setiap orang bebas memilih satu dari dua pintu atau jalan. Jalan yang sempit biasanya jarang dilewati, lebih sulit dan membutuhkan lebih banyak perjuangan untuk melewatinya. Namun, jalan itu mengarahkan kepada keselamatan. Jalan yang sempit hanya diperuntukkan bagi mereka yang kuat.

Merekalah yang memanggul salib mengikuti jalan salib yang ditempuh Yesus dari Nazareth (bdk. Mat.  10:38; 16:24; Mrk. 8:34; 10:21; Luk. 9:23; 14:27). Saat memanggul salib dan melewati jalan yang sempit, jalan salib, setiap orang Kristiani menanggalkan segala beban yang tidak diperlukan.

Ia tidak menggantungkan diri pada materialisme dan berhala, kesombongan, mementingkan diri sendiri dan kemunafikan. Saat itulah ia didapati Sang Tuan sedang berjaga-jaga.

Dalam kotbah di Bukit, Yesus menyingkapkan Kerajaan Allah memiliki delapan jenis pintu masuk:

  • orang yang miskin di hadapan Allah;
  • orang yang berdukacita;
  • orang yang lemah lembut;
  • orang yang lapar dan haus akan kebenaran;
  • orang yang murah hati;
  • orang yang suci hatinya;
  • orang yang membawa damai;
  • orang yang dianiaya (Mat. 5:3-10). 

Sedangkan Lukas meringkas hanya menjadi empat:

  • yang miskin.
  • yang lapar.
  • yang menangis.
  • yang dibenci karena Anak Manusia (Luk. 6: 20-22).

Allah mengundang semua orang yang menghayati Sabda Bahagia untuk memasuki pintu yang sempit dan ambil bagian dalam pesta di KerajaanNya. SabdaNya, “Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.”  (Luk. 13:29).

Dengan cara yang berbeda, Santo Yohanes menyingkapkan bahwa Yesus adalah Sang Pintu ke padang rumput, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” (Yoh. 10:6.9).

Duduk makan di dalam Kerajaan Allah selalu bermakna Ekaristi abadi, dan sudah dimulai di sini dan saat ini, saat merayakan Ekaristi.  

Kepada mereka yang menolak Kerajaan Allah, walau mendengarkan dan memahami  Sabda Bahagia, Yesus, Sang Tuan rumah, berkata (Luk. 13:27), “Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan.”, Nescio vos unde sitis; discedite a me, omnes operarii iniquitatis.

Penolakan dengan cara menutup dan mengunci pintu bagi mereka yang ada di luar ruang sama seperti ketika Allah menutup pintu bahtera Nuh saat air mulai menggenangi bumi (Kej 7:1.4-5). Orang-orang di zaman itu sudah diberitahu akan air bah, tetapi mereka menolak untuk mengikuti jalan yang ditempuh Nuh: setia pada Allah, mengasihi dan memelihara alam ciptaan.

Mereka yang menolak Allah dicampakkan ke luar, ke tempat yang penuh dengan ratap dan kertak gigi. Dari situ mereka hanya mampu memandang Abraham, Ishak dan Yakub serta para nabi yang ambil bagian dalam pesta perjamuan (Luk. 13:28).

Lukisan Santo Lukas serupa dengan lukisan Nabi Yesaya, “Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.” (Yes. 66:24)

Santo Lukas kemudian bermain-main kata dengan yang terakhir dan yang terdahulu. Kalau ingin menjadi terdahulu, setiap murid harus mau menjadi memasuki jalan yang sempit, jalan salib, memikul salib setiap hari, dan mengikuti Dia yang lebih dahulu memikul salib.

Di ujung jalan salib, memang, ada kematian. Tetapi, ia dikalahkan oleh Sang Kebangkitan dan Hidup. Maka, pada Dia ada keselamatan dan yang selalu setia pada-Nya diselamatkan-Nya.

Katekese

Masuk pintu yang sempit. Santo Cyrilus dariAlexandria, 376-444:

“Lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan.” Apa yang harus kita pahami tentang lebarnya pintu dan luasnya jalan?… Orang yang tegar tengkuk dan berkepala batu pasti tidak mau menundukkan kepada pada kuk Hukum [perintah-perintah Allah].

Hidup ini telah dikutuk dan merasa nyaman dengan seluruh sikap  acuh tak acuh.  Kesombongan timbul dari sikap suka menambah-tambahkan peraturan manusia pada hukum ilahi dan pengabaian terhadap ketetapan Tuhan, pemujaan pada kekayaan bendawi,  kejahatan, merendahkan, sombong dan miskin gagasan. 

Mereka yang hendak masuk pintu yang sempit harus menghindarkan diri dari semua hal itu, setia pada Kristus dan mempersiapkan diri menyongsong perjamuan bersama-Nya.”   (Commentary On Luke, Homily 99)

Oratio-Missio

Tuhan, semoga aku tidak pernah ragu akan kehadiran-Mu yang selalu membimbingku. Semoga dengan anugerah Roh Kudus-Mu aku selalu memiliki keberanian yang cukup dan kesetiaan iman untuk selalu mewartakan kebenaran di lingkunganku. Dan kuatkanlah tekadku untuk selalu mengantar sesamaku menuju keselamatan kekal. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan agar aku diselamatkan?

Ipse autem dixit ad illos, “Contendite intrare per angustam portam” – Lucam 13:24

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here