Lectio Divina 23.10.2020 – Melihat, Tahu, tapi Menyangkal-Nya

0
313 views
Melihat, Tahu, Tetapi Menyangkal-Nya by fralphonse

Jumat. Peringatan Wajib Santo Yohanes Kapestrano (H)

  • Ef. 4:1-6
  • Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6
  • Luk. 12:54-59

Lectio

54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.

56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? 57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?

58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Meditatio-Exegese

Mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Yesus menggunakan alam pikir para pendengar-Nya untuk menyampaikan pesan Injil-Nya. Ia menggunakan kebiasaan orang biasa untuk menafsirkan tanda-tanda yang isyaratkan oleh bumi dan langit.

“Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.” (Luk. 12:54-55).

Terlebih, orang yang menguasai ilmu perbintangan, astronomi, dapat menentukan peristiwa iman penting yang terjadi. Tiga sarjana dari Timur membaca arah bintang untuk tunduk dan hormat pada Bayi Yesus di Bethlehem (Mat. 2:1-12), karena mereka meyakini nubuat Nabi Mikha, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mi 5:1). 

Tetapi, sayang, orang-orang itu tidak mampu mengenali bahwa jaman Mesias telah datang dan Ia tinggal di antara mereka (Mat. 2:23). Tanda-tanda kehadiran-Nya sebagai Mesias nampak ketika Ia membalas pesan murid Yohanes Pembaptis, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” (Luk 7:22).

Sebenarnya, Yesus menggemakan nubuat Nabi Yesaya yang digenapi-Nya (Luk. 4:18-19; bdk. Yes. 61:1-2). Tetapi orang banyak menolak-Nya. Bahkan, Ia hendak dilemparkan dari tebing seperti dilakukan para tetangga-Nya sendiri, orang-orang Nazaret (Luk. 4:29).

Mengapakah engkau tidak memutuskan sendiri apa yang benar?

Yesus mengecam sikap orang yang pura-pura tidak mengenal kehendak Allah sebagai munafik. Ia mengenal hati setiap manusia (Luk. 16:15). Ia yakin orang-orang di jaman-Nya dan zaman ini tahu tentang tanda-tanda kehadiran Mesias, seperti yang ditanyakan para murid Yohanes Pembaptis.

Kepada mereka Yesus menjawab dengan mengutip nubuat Nabi Yesaya: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Luk. 7:18-22; Yes. 35:5-6;61:1). Tetapi, mengapa orang jaman itu dan juga jaman ini masih menolak-Nya?

Santo Augustinus berkata bahwa alam, ciptaan, merupakan Kitab Suci pertama kali yang ditulis Allah. Melalui alam, Allah bersabda untuk kita. Akan tetapi dosa mengacaukan huruf-huruf sabda-Nya di alam raya, sehingga kita gagal membaca dan mengenali kehendak dan panggilan-Nya.

Dan Kitab Suci merupakan buku kedua yang ditulis Allah. Kitab ini bukan untuk dionggokkan di sudut almari, tetapi dibaca, dipelajari dan diresapkan untuk menemukan panggilan-Nya melalui peristiwa hidup kita sehari-hari. 

Sabda Yesus (Luk 12: 57), “Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?”, Quid autem et a vobis ipsis non iudicatis, quod iustum est?

Jangan engkau diseretnya kepada hakim

Salah satu butir yang ditekankan Yesus adalah rekonsiliasi, “berusahalah berdamai dengan lawanmu.” (Luk. 12:58). 

Relasi dengan Allah, sesama dan alam yang rusak karena dosa hanya dapat dipulihkan dengan menjalin kembali relasi dengan mereka. Disposisi batin yang tidak mau mengampuni menyulitkan untuk saling mengampuni (bdk. Mat. 6:14).

Oleh sebab itu, Yesus menyarankan agar tiap manusia sesegera mungkin saling mengampuni sebelum terlambat, karena hakim, yang melihat engkau bersalah karena hutang, segera menentukan hukuman (Luk. 12:58-59).

Dan terlebih, sebelum saat pengadilan terakhir datang, keharusan untuk bertobat dan berbalik memihak Allah dengan berlaku jujur tidak bisa ditunda lagi (bdk. Mat. 5:25-26; Kol. 3:13; Ef. 4:32; Mrk. 11:25).

Katekese

Tanda dari Hukum menunjuk permulaan Misteri Kristus. Santo Cyrilus dari Alexandria, 376-444:

“Orang memusatkan perhatian pada hal-hal seperti ini. Dari pengamatan dan praktek hidup yang berlangsung lama, mereka meramalkan kapan hujan akan turun dan angin kencang akan bertiup. Seseorang, khususnya, pasti paham bahwa para pelaut sangat terampil meramalkan cuaca.

Ia berkata bahwa orang ini sangat tepat untuk menghitung segala macam hal yang terkait dengan cuaca dan mungkin meramalkan badai yang akan terjadi untuk memusatkan mata batin yang menembus pada perkara-perkara penting.

Perkara macam apa?

Hukum telah terlebih dahulum menunjukankan misteri Kristus, bahwa pada akhir masa semesta Ia akan bersinar kepada seluruh penghuni bumi dan menyerahkan diri untuk keselamatan semua.

Bahkan diperintahkan supa seekor anak domba dipersembahkan sebagai lambang akan Dia yang mati menjelang senja dan saat menyalakan lampu (Kel. 12:6).

Kita paham bahwa ketika, seperti siang hari, karena dunia ini sedang jatuh menuju pada masa akhirnya, sengsara-Nya yang dahsyat, berharga mahal dan sungguh menyelamatkan akan terpenuhi.

Pintu keselamatan akan dibuka lebar-lebar bagi yang percaya pada-Nya, dan suka cita yang melimpah akan dibagikan.

Dalam Kitab Kidung Agung, kita juga menemukan Kristus yang disebut mempelai dilukiskan di sana. Mempelai perempuan melambangkan Gereja, dalam untaian sabda ini:

“Bangunlah manisku, jelitaku, marilah. Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas.” (Kid. 2:10-12). Seperti saya katakan, kedamaian seperti musim semi akan timbul bagi mereka yang percaya pada-Nya”  (dikutip dari Commentary On Luke, Homily 95)

Oratio-Missio

  • Tuhan, banjirilah hatiku dengan kasih-Mu dan bebaskan aku dari segala yang menghambatku untuk melakukan kehendak-Mu. Ubahlah budi dan hatiku agar aku mampu menentukan apa yang benar dan memilih apa yang baik dan menyenangkan hati-Mu. Amin.
  • Apa yang perlu kulakukan untuk berdamai berdamai, bertobat dan berpihak pada Allah?

Dico tibi, non exies inde, donec etiam novissimum minutum reddas – Lucam 12:59

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here