Lectio Divina 7.4.2024 – Wajah Penuh Belas Kasih dan Kerahiman

0
205 views
Tuhanku dan Allahku, by Albrecht Dürer, 1471-1528.

Minggu. Hari Minggu Paskah II. Minggu Kerahiman Ilahi (P)

  • Kis. 4:32-35
  • Mzm. 118:2-4.16ab-18.22-24
  • 1Yoh. 5:1-6
  • Yoh. 20:19-31

Lectio (Yoh. 20:19-31)

Meditatio-Exegese

Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah

Mewarisi  ajaran Santo Paulus, Santo Agustinus, Uskup Hippo mengajarkan, dengan bertanya, “Jika seseorang yang tidak mengasihi saudaranya yang kelihatan, bagaimana mungkin ia mengasihi Allah yang tidak dilihat kedua matanya?”

Selanjutnya, ia menegaskan, inilah perintah yang diberikan-Nya pada masing-masing pribadi: Barang siapa mengasihi Allah, ia harus mengasihi saudara-saudarinya (1Yoh. 4:20-21). Berikut, “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah.” (1Yoh. 5:1).

Maka, siapa yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Kristus? Ia yang tidak hidup sesuai dengan perintah Kristus. Karena banyak orang berkata, aku percaya: tetapi iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Pekerjaan iman adalah Kasih; Santo Paulus menulis, “…hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal. 5:6). 

Inilah kepercayaan bahwa Yesus adalah Kristus, seperti yang dipercayai orang Kristen. Yang bukan Kristen hanya percaya pada nama-Nya, tidak dalam perilaku dan hidupnya.

Orang Kristen percaya pada Allah, tetapi tidak seperti yang dipercayai setan. Setan percaya pada Allah dan gemetar di dihadapanNya (Yak. 2:19).

Apa kelebihan iman yang dimiliki setan, daripada yang mereka katakan, “Kami tahu siapa Engkau, Anak Allah?” Yang dikatakan setan sama dengan yang dikatakan Petrus.

Ketika Tuhan bertanya padanya siapakah Dia, para murid menjawab,  “Beberapa mengatakan bahwa Engkau adalah Yohanes Pembaptis, beberapa lain, Elias; dan yang lain lagi, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi. Ia bertanya pada pada mereka, Tetapi menurutmu siapakah Aku?”  Dan Petrus menjawab, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.” (Mat. 16:13-18). […]

Maka, ketika Petrus berkata, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.”, setan juga mengatakan kata-kata yang sama, tetapi hati yang mengimani tidak sama. Dan bagaimana ketika Petrus berbicara tentang kasih? Karena iman Kristiani selalu beringan dengan kasih; yang diimani setan selalu tanpa kasih.

Bagaimana bila tanpa kasih? Petrus berkata bahwa ia tetap akan memeluk Kristus. Sedangkan setan berkata bahwa Kristus akan jauh dari mereka. Karena sebelum mereka berkata, “Kami tahu siapa Engkau, Anak Allah.”, setan-setan berkata, “Apa urusan kami denganMu?”

Mengapa engkau datang untuk membinasakan kami sebelum segala abad? Maka, di satu pihak engkau percaya pada Kristus dan terus berpaut pada-Nya; atau, sebaliknya, engkau tahu tentang Kristus dan membiarkan-Nya menjauh daripadamu.” (Homily 10 on the First Epistle of John).

Sekali-kali aku tidak akan percaya

Thomas dikenal sebagai pribadi pemberani dan mengasihi Yesus. Ia bahkan mengajak teman-temannya mati bersama Yesus. Ajakannya, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” (Yoh. 11:16).

Tetapi, cintanya pada Yesus padam ketika menyaksikan Yesus disiksa dan dibunuh di kayu salib. Setelah kematian-Nya, Thomas lari,  meninggalkan komunitas yang berkumpul di ruang atas.

Ia memilih kesepian dari pada saling menyatukan hati untuk keluar dari kesedihan. Ia juga menolak kesaksian para perempuan dan rasul lain yang menyaksikan Yesus yang bangkit. Katanya (Yoh. 20:25),   “Aku tidak akan percaya.”, Non credam.

Sehari setelah Sabat, dies Domini, Hari Tuhan (Why. 1:10), Yesus mengatasi semua hukum alam dan hadir di rumah yang tertutup dan terkunci rapat.

Setelah menyapa secara khas, “Damai sejahtera bagi kamu.” (Yoh. 20:26),  Ia menunjukkan kedua tangan dan lambung-Nya yang bisa diraba bahwa Ia sungguh disalib.

Rincian luka-luka tusukan tombak prajurit Romawi hanya dilaporkan Santo Yohanes. Sedangkan Santo Lukas hanya menyebut luka di tangan dan kaki Yesus (Luk. 24:39).

Dengan menunjukkan luka-luka-Nya, Yesus hendak menyingkapkan bahwa damai sejati selalu berasal dari salib (2Tim. 2:1-13). Dan luka-luka-Nya menjadi tanda pengenal Anak Domba yang telah bangkit (Why. 5:6).

Mengetahui keinginan Thomas, Yesus membantunya dengan mengulang kata-kata Thomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yoh. 20:27).

Yesus mengenal Thomas dan membantunya merasakan damai sejati yang didapat dari iman. Maka, Yesus menumbuhkan iman padanya. Maka, ia mengaku secara otentik, (Yoh. 20:28), “Ya Tuhanku dan Allahku.”,Dominus meus et Deus meus!

Pengakuan imannya menggemakan keilahian-Nya seperti dalam pembukaan Injil Yohanes (Yoh. 1:1).

Dalam Perjanjian Lama ungkapan ‘Tuhan’ dan ‘Allah’ digunakan bergantian untuk ‘Yahwe’ dan ‘Elohim’. Sang pemazmur bermadah, “… ya Allahku dan Tuhanku… ya Allahku dan Tuhanku.” (Mzm. 35:23-24; Why. 4:11). 

Ungkapanini bukan koreksi atas tuduhan orang Yahudi bahwa Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yoh. 5:18). Ungkapan iman alkitabiah ini merupakan rumusan otentik Gereja Perdana akan keilahian Yesus.  

Santo Gregorius Agung mengajarkan tentang sikap Tomas, “Bukanlah suatu kebetulan bahwa seorang murid tidak hadir di rumah itu. Belas kasih ilahi mengarahkan murid yang tidak percaya, dengan menyentuh luka-luka Sang Guru, menyembuhkan luka-luka kare ketidak percayaannya.

Ketidak percayaan Thomas sangat bermanfaat bagi iman kita dari pada iman para murid lain. Karena melalui sentuhan yang mengantarkannya untuk percaya, budi kita dituntun untuk percaya, jauh melampaui semua tanya.” (Forty Gospel Homilies 26).

Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni

Allah mengungkapkan kasih dan belas kasih-Nya melalui  Sakramen Pengampunan. Yesus mengungkapkan perasaan Allah yang paling halus melalui perumpamaan tentang anak yang hilang (bdk. Luk. 15:11-32).

Tuhan selalu menanti-nantikan manusia, dengan tangan terbuka selebar-lebarnya. Ia menanti manusia untuk bertobat, mengampuni dan memulihkan martabatnya agar kembali menjadi anak-anak-Nya.

Para paus selalu mengajak umat beriman untuk secara suka rela menerima Sakramen Rekonsiliasi. Paus Pius XII mengajarkan, “Agar kita terus menerus maju dalam penghayatan nilai Injili, kami sangat menganjurkan praktik suci, yakni: sesering mungkin menerima Sakramen Tobat, yang diselenggarakan Gereja dengan bimbingan Roh Kudus.

Melalui cara ini kita tumbuh dalam pengenalan akan diri sendiri dan menjadi pribadi Kristiani yang rendah hati. Kebiasaan buruk dicabut. Sikap abai dan lalai akan hidup rohani dihindarkan.

Suara batin dimurnikan dan kehendak bebas dikuatkan; bimbingan rohani yang benar didapatkan; dan rahmat dicurahkan melalui penerimaan Sakramen itu sendiri.” (Mystici Corporis).

Tentang pengampunan, Santo Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “Injil, yang baru saja diwartakan, membantu kita memahami makna secara penuh dan nilai tinggi anugerah ini. Penginjil Yohanis membuat kita ambil bagian dalam berbagi perasaan yang dialami para Rasul dalam pertemuan mereka dengan Kristus setelah Kebangkitan-Nya. Perhatian kita dipusatkan pada gerak Sang Guru, yang menyampaikan tugas pengutusan sebagai pelayan Kerahiman ilahi pada mereka yang ketakutan dan terkejut.

Ia menunjukkan pada mereka kedua tangan dan lambung-Nya, yang terdapat tanda-tanda sengsara-Nya, dan berkata pada mereka, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh. 20:21).

Dan segera, “Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh. 20:22-23). 

Yesus mempercayakan pada mereka anugerah untuk ‘mengampuni dosa’, anugerah yang mengalir dari luka-luka di tangan, kaki, dan khususnya, dari lambung yang ditusuk dengan tombak. Dari sana mengalir belas kasih yang dicurahkan untuk semua umat manusia. […]

Hati Kristus. Hati-Nya yang mahakudus telah menganugerahkan segala-galanya kepada manusia: penebusan, keselamatan, pengudusan. Santa Faustina Kowalska melihat anugerah itu mengalir dari Hati-Nya yang penuh belas kasih dan kerahiman. Dua cahaya menyinari dunia. “Kedua cahaya itu,” seperti disampaikan Yesus padanya, “menandakan daran dan air.” (Diary, p. 132).

Darah mengingatkan kita pada pengurbanan di Golgota dan misteri Ekaristi. Air, menurut Injil Yohanes yang penuh dengan tanda, mengajak kita merenungkan Pembaptisan dan anugerah Roh Kudus (bdk. Yoh. 3:5; 4:14).

Melalui misteri luka yang diderita Hati-Nya, gelombang pengampunan dan kasih Allah yang penuh belas kasih dan kerahiman akan terus disebar luaskan kepada pria dan wanita hingga masa sekarang. Di sini pun tiap pribadi yang merindukan kebahagiaan sejati dan abadi menemukan rahasia untuk menggapainya: Hati-Nya.” (Homili, Minggu Kerahiman Ilahi, 22 April 2001).

Anugerah pengampunan dibalas dengan pertobatan yang mencakup pertobatan ekologis. Setiap anggota umat Allah ambil bagian dalam penyelamatan dan pemulihan ekologi.

Bapa Suci Fransiskus mendesak, “Sangatlah mulia bila kewajiban untuk memelihara ciptaan dilakukan melalui tindakan kecil sehari-hari, dan sangat indah bila pendidikan lingkungan mampu mendorong orang untuk menjadikannya suatu gaya hidup.

Pendidikan dalam tanggung jawab ekologis dapat mendorong berbagai perilaku yang memiliki dampak langsung dan signifikan untuk pelestarian lingkungan.

Kita sebut beberapa contoh: menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, pemilahan sampah, memasak secukupnya saja untuk kita makan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau satu kendaraan bersama dengan beberapa orang lain, menanam pohon, mematikan lampu yang tidak perlu.

Semuanya itu adalah bagian dari suatu kreativitas yang layak dan murah hati, yang mengungkapkan hal terbaik dari manusia. Menggunakan kembali sesuatu daripada segera membuangnya, karena terdorong oleh motivasi mendalam, dapat menjadi tindakan kasih yang mengungkapkan martabat kita.” (Ensiklik Laudato Si, 211)

Silih atas pengampunan yang dianugerahkan tidak hanya mencakup keterlibatan anggota Gereja dalam menyelamatkan ekologi yang dirusaknya sendiri. Masing-masing dipanggil untuk mengembangkan kebaikan hati dan memulihkan relasi dengan setiap insan, tanpa pilih bulu.  

Katekese

Berhentilah dari kejahatan, Paus Fransiskus, Buenos Aires 1936:

“Semoga warta kerahiman ini menjangkau setiap orang, dan semoga tak seorang pun acuh tak acuh terhadap panggilan untuk mengalami kerahiman. Lebih-lebih,  saya menyampaikan undangan untuk pertobatan ini kepada mereka yang perilakunya menjauhkan mereka dari rahmat Allah.

Secara khusus saya ingat akan laki-laki dan perempuan, anggota organisasi kejahatan, apa pun bentuknya. Demi kebaikan mereka, saya mohon kepada mereka agar mengubah hidupnya. Saya mohon ini kepada mereka demi nama Putra Allah, yang, meskipun menolak dosa, tidak pernah menolak pendosa.

Janganlah jatuh ke dalam jebakan pemikiran yang mengerikan bahwa hidup tergantung pada uang dan bahwa jika dibandingkan dengan uang, segala sesuatu lainnya tidak memiliki nilai atau martabat. Itu semua hanya ilusi. Kita tidak dapat membawa uang ke kehidupan mendatang. Uang tidak membahagiakan kita.

Tindak kekerasan demi menimbun kekayaan yang bergelimangan darah tidak membuat seorang pun berjaya atau pun abadi. Setiap orang, cepat atau lambat, akan menghadapi penghakiman Allah, yang tidak dapat dihindari oleh seorang pun.

Ajakan yang sama saya perluas kepada mereka yang melakukan atau terlibat dalam korupsi. Luka-luka bernanah ini adalah dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk menuntut pembalasan, karena luka itu merongrong sendi-sendi dasar kehidupan pribadi dan sosial itu sendiri.

Korupsi menghalangi kita memandang masa depan dengan harapan, karena keserakahannya yang kejam merusak rencana orang lemah dan bertindak semena-mena terhadap mereka yang termiskin dari antara kaum miskin. Korupsi adalah kejahatan yang melekat pada kegiatan hidup sehari-hari dan menyebar, dengan menyebabkan skandal publik yang berat.

Korupsi adalah tindak pengerasan hati penuh dosa yang menggantikan Allah dengan ilusi seolah-olah uang adalah bentuk kekuasaan. Korupsi adalah karya kegelapan, yang disuburkan dengan kecurigaan dan intrik. Corruptio optima pessima, korupsi terbaik adalah yang terburuk dari semua, kata Santo Gregorius dengan tepat.

Ia menegaskan bahwa tak seorang pun dapat menganggap dirinya kebal terhadap godaan ini. Jika kita ingin mengusirnya dari kehidupan pribadi dan bersama, kita membutuhkan kearifan, kewaspadaan, kesetiaan, transparansi, bersama-sama dengan keberanian untuk mengecam pelanggaran apa pun.

Jika korupsi tidak diperangi secara terbuka, cepat atau lambat setiap orang akan menjadi kaki tangannya, dan akan berakhir dengan rusaknya eksistensi kita.  Inilah saat yang tepat untuk mengubah hidup kita! Inilah waktunya membiarkan hati kita disentuh.

Ketika dihadapkan dengan perbuatan-perbuatan jahat, juga dengan kejahatan-kejahatan berat, inilah saatnya mendengarkan jeritan orang-orang tidak bersalah  yang direnggut dari harta milik mereka, martabat mereka, perasaan mereka, dan bahkan dari hidup mereka sendiri.

Bertahan pada jalan kejahatan hanya akan membuat orang teperdaya dan sedih. Hidup benar adalah suatu yang sama sekali berbeda. Allah tidak pernah lelah menghampiri kita.” (Bulla Wajah Kerahiman, Misericordiae Vultus, 19).

Oratio-Missio

Tuhan, melalu kemenanganMu atas dosa dan maut, Engkau menghancurkan seluruh kuasa dosa dan kegelapan. Bantulah aku untuk selalu dekat padaMu dan percaya pada sabdaMu. Amin.

  • Apa yang kulakukan untuk mewujud-nyatakan imanku?

Respondit Thomas et dixit ei, “Dominus meus et Deus meus.” – Ioannem  20:28

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here