Lesu Jiwa Ditinggal Mati Suami

1
268 views
Ilustrasi: Menangisi kematian suaminya. (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Rabu, 24 November 2021.

Tema: Pengurbanan.

  • Dan. 5: 1-6, 13-14, 16-17, 23-28.
  • Luk. 21: 12-19.

KATANYA cinta itu berkurban. Kalau demikian, cinta itu menyakitkan.

Betulkah?

Rasa cinta manusiawi masih terkait dengan “rasa dan kepentingan diri. Apa pun rasa dan kepentingan tidak salah.

Manusia adalah pribadi yang mempunyai rasa dan kepentingan. Dalam kategori ini bisa dipahami kalau dikatakan cinta itu sebuah pengurbanan.

Ia mengurangi ego dalam dirinya.

Ego itu “akunya” diri. Bukan sesuatu yang negatif.

Kebenaran dan keadilan cinta terungkap di dalam tindakan. Sebuah keputusan yang mencerminkan kebaikan yang diwujudkan. Sebuah ungkapan kegembiraan batin.

Maka, kalau cintanya ditolak atau dipertanyakan, dia juga tidak begitu sedih, gamang atau frustrasi. Karena, itu tindakan kebaikannya.

Kebaikan terarah kepada semua dan orang lain. Terbuka. Kalau demikian hidup cinta merupakan rangkaian pertumbuhan kebaikan.

Tindakan kebaikan yang membebaskan dari egoisme pribadi.

“Berkurban” demi cinta bukanlah sebuah penderitaan. Tetapi kesadaran yang muncul dari dalam inti pribadinya sendiri untuk menyapa, menjumpai yang lain dalam kebebasan dan kemerdekaan.

Ia bebas bertindak baik dan mulia. Dan di dalam perjumpaan ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan sebagai ungkapan kegembiraan, kedekatan, kerinduan dan kasih.

Itu bukanlah pengurbanan.

Ia murni dan tak terkait dengan kepentingan tersembunyi.

Ia ingin membahagiakan sesama dan dirinya dengan tindakan baik.

“Mo, minta doanya, intensi gerejani untuk mengenang setahun kepergian bapaknya anak-anak,” kata umat paroki.

“Wah… sudah setahun. Rasanya cepat,” kataku.

“Iya Romo. Kadang terasa dicabut. Kadang begitu lama tak kembali,” sahutnya.

“Begitu ya.”

“Kalau hidup saya lagi bergembira, keluarga bersukacita, anak mantu dan cucu menyenangkan. Rasanya baru saja pasangan saya meninggalkan kami. Bila rindu dan nyatanya tidak bersama-sama. Rasanya sakit. Lama banget tak kembali,” ungkapnya sendu.

“Betul itu. Almarhum tidak kemana-mana. Ia berada di sisi Bapa, di tempat yang lain. Kita tidak bisa memandangnya lagi. Mengenang kembali hidup kebersamaan dan mengulangi  kebaikannya itulah cara kita memandangnya. ‘Kenangkanlah Aku dengan peristiwa ini.’

Sebuah  kepastian dan jaminan, sekaligus tindakan penghadiran kembali alm yang telah tiada,’ kataku menghiburnya.

Akan terasa lama, bila kita membiarkan diri terikat pada kesedihan yang hanya membawa pada penderitaan, kesepian.

Hidup jadi berantakan.

Kita akan ingat, kalau kita membutuhkan kehadirannya. Kehadiran yang menemani, menghangatkan.

Saat pilu, kita butuh sapaannya yang menghibur, yang menguatkan. Kita butuh pelukannya yang menyadarkan, yang mendukung. Bahkan kita butuh tenaganya, bantuannya.

Karena memang selama ini telah tinggal dan hidup bersama, berjalan bersama, saling melengkapi.

Semua itu adalah kekuatan batin, video kehidupan. Sebuah kenangan dan kekuatan iman.

Almarhum ada bersama Bapa, di dalam Tuhan dilingkupi Para Kudus dan dikitari oleh para malaikat. Ke sana juga, aku nantinya juga akan berada.

“Apa yang dialami selama ditinggal?”

“Awalnya, saya memberontak Romo. Kenapa ia yang pergi duluan. Kenapa tidak saya dulu. Kenapa Tuhan memanggil? Rentetan pertanyaan kenapa… tak ada jawaban. Hanya airmata yang mengalir,” jawabnya.

“Tuhan pun diam. Saya bisa hanya menangis

Setahun, saya berada di titik yang paling jatuh. Paling rendah. Tidak ada lagi kegembiraan. Tak mau lagi berjumpa dengan yang lain.

Saya mengurung diri di rumah. Membatasi gerak di kamar dan menangis. Kamar menjadi kenangan terindah sekaligus menyakitkan.

Kesendirian, kesepian, kemanjaan; bahkan pertengkaran kecil dan kesengitan wajah, senyum gembira ketika bersama…

Semua menjadi satu kenangan hati dan pikiran di mana nalar tidak mampu memahami.

Saya lalu menjadi pribadi yang temperamental dan sensitif.

Menjelang setahun saya mulai menyadari. Saya harus bangkit dan memulihkan kehidupan demi imanku.

Itulah cara mengenangnya, Mo. Maka saya mohon intensi,” ungkapnya panjang lebar.

Yesus menghibur, “Kalau kamu tetap bertahan (berbuat baik) kamu akan memperoleh hidupmu.” ay 19.

Tuhan, bantu aku menyiapkan “kematianku” dalam Kasih dan Kemuliaan-Mu. Amin.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here