Menjadi Pemimpin Ala Yesus

0
2,425 views

[media-credit name=”Simon Danny” align=”aligncenter” width=”498″][/media-credit]PERISTIWA ini terjadi sesudah Yesus memberi makan 5000 orang; Ia menyuruh para murid menyeberang; Yesus sendiri menyepi dan berdoa.

Para murid terombang-ambing badai dan angin sakal; Yesus datang, para murid takut, petrus minta boleh berjalan dan tenggelam. Yesus menolong dan disembah sebagai Anak Allah.

Peristiwa ini merupakan proses peristiwa iman yang dialami oleh Yesus dan para murid. Yesus sesudah sukses membuat mukjijad, segera menyingkir dari orang banyak yang ingin mengangkatknya menjadi raja; juga dari para murid yang pasti juga punya pikiran yang serupa. Yesus memilih menyendiri bersama Allah, BapaNya, untuk merenungkan langkah-langkah pelaksanaan tugasNya selanjutnya.

[media-credit name=”Google” align=”alignleft” width=”225″][/media-credit]Pemimpin itu berkorban
Menjadi pemimpin massa adalah salah satu pilihan bentuk pelaksanaan tugasNya. Apalagi sesudah ia mendapat kekaguman dan dukungan orang banyak yang puas dengan pelayananNya yang menyembuhkan penyakit dan mengeyangkan mereka dengan mukjijad yang luar biasa. Yesus teringat akan cobaan Iblis di padang gurun: ubah batu jadi roti.

Yesus sekali lagi menegaskan pilihanNya: manusia hidup dari Sabda Allah; cari kehendak Allah. Penyelamatan manusia tidak terjadi melalui kehebatan kemampuan atau popularitas, tetapi melalui pengorbanan diri bagi manusia.

Pilihan ini membuat Yesus menjadi manusia yang tidak hanyut oleh situasi, mabuk oleh kebanggaan diri; tetapi menguasai diri dan situasi sekitarnya. Karena itu Ia dapat  berjalan diatas gelombang dan angin, untuk menyelamatkan manusia.

Para murid, mengalami pergolakan iman yang sebaliknya. Pada saat mereka ingin menikmati popularitas dan sukses, mereka dipaksa Yesus untuk naik perahu dan menyingkir. Campur aduk rasa bangga, kesal dan kecewa membuat perahu mereka (Gereja) terputar-putar tanpa arah di tengah gelombang dan angin sakal.

[media-credit name=”Google” align=”alignright” width=”300″][/media-credit]Tuhan yang baru saja mereka banggakan, tidak lagi mereka kenal. KehadiranNya malah dikira hantu. Petrus, yang masih suka mencari sensasi, meminta tanda, boleh berjalan diatas air.

Tetapi justru diatas air, melihat gelombang besar, ia takut dan tenggelam. Akhirnya ia kembali memohon, bukan meminta bukti: Tuhan, tolong, aku tenggelam. Sesudah semua selamat, para murid mengenal dan menyembah Yesus sebagai Anak Allah.

Dari pengalaman iman ini, yang dapat kita pelajari:

1. Hidup kita selalu dapat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman luar biasa. Pengalaman positip dapat memabukkan dan membelokkan arah tujuan. Pengalaman negatip dapat mematahkan dan mematikan semangat.

2. Karena itu kita perlu berulang kali menegaskan arah tujuan hidup kita, yang kita temukan di dalam Allah dan kita jalani bersama Allah.

3. Kecenderungan manusiawi kita ingin minta dan menunggu bukti dari Allah; jika tanpa fokus arah tujuan hidup, malah dapat menenggelamkan kita.

4. Semua pengalaman hidup kita; positip dan negatip; dapat menjadi proses pertumbuhan iman. Tanda kita tumbuh kalau buah akhirnya membuat kita semakin terdorong dan mampu menyembah Allah.

Berdoa dulu
Pada suatu hari, seorang bapak tidak punya apa-apa untuk dimakan keluarganya. Ia mengambil senapan tuanya dan pergi ke hutan, berburu binatang untuk makanan keluarganya. Tetapi ia hanya tinggal punya 3 butir peluru.

Di jalan ke hutan, ia melihat kelinci; ditembaknya, tetapi luput. Kelinci itu lari. Di pohon di tepi hutan, dilihatnya anak monyet dan ditembaknya. Tetapi monyet itu lari. Ia hanya tinggal punya satu peluru saja. Di dalam hutan, ia melihat ada ayam kalkun besar sedang bertengger di dahan tinggi di pohon.

Ketika ia hendak  membidik, ada bisikan: “Berdoa dulu, tembak ke atas dan tetap fokus.” Sebelum dia sempat menembak, ia melihat seekor rusa yang akan memberi daging lebih banyak dari pada kalkun itu. Ia hendak menembak rusa itu. Tetapi tiba-tiba ia melihat ada ular berbisa merayap di dekat kakinya dan hendak memagutnya.

Spontan dia mengarahkan senapannya ke ular itu untuk menembaknya. Tetapi suara itu tetap berbisik: “Berdoa dulu, tembak ke atas dan tetap fokus.” Bapak itu memilih untuk mentaati bisikan Tuhan. Ia berdoa, mengarahkan senapannya ke atas dan menembak ayam kalkun itu. Peluru itu tepat kena kalkun itu, terbelok karena mengenai tulang, keluar kembali dan mengena kepala kijang itu dan membunuhnya.

Hentakan senapan tua itu mendorong bapak itu ke belakang, kepala ular berbisa itu terinjak, sehingga ular itu mati. Bapak itu terjengkang dan tercebur di kolam. Ketika ia berdiri, ada ikan di kantung baju dan topinya. Sekarang ia punya ikan, rusa dan kalkun untuk memberi makan keluarganya dan kulit ular yang dapat dijualnya dengan harga mahal.

Pesan cerita ini: jadikan Tuhan yang pertama dalam hidupmu; maka semua yang lain akan mengikuti. Berdoa dulu sebelum melakukan sesuatu, buat lah sasaran tinggi dalam tujuan hidupmu dan tetap berpusat pada Tuhan. Jangan biarkan orang atau peristiwa masa lalu membuat kita terhambat. Jangan mencari berkat dari manusia, tetapi carilah berkat hanya dari Tuhan saja.

Cerita ini, memberi kesan bahwa kalau kita fokus pada Allah dan berdoa, semua akan beres dan kita jadi berkelimpahan.

[media-credit name=”Google” align=”aligncenter” width=”300″][/media-credit]Zero to Hero
Pada suatu program acara di televisi ada acara berjudul From Zero to Hero. Kisah sukses orang yang mulai dari bawah, yang akhirnya menjadi orang sukses atau berkedudukan tinggi.  Program ini menyemangati kita; bahwa ada orang yang mulai dalam posisi sulit seperti kita, tetapi akhirnya dapat mencapai keberhasilan yang luar biasa. Kita tentu juga bisa seperti itu.

Tetapi kisah Injil ini malah menunjukkan kecenderungan sebaliknya: From Hero to Zero. Yesus yang sukses, justu menilai ulang pengalamanNya dan akhirnya memilih bukan memanfaatkan situasi untuk jadi pemimpin bangsa, tetapi memilih menjadi pelaksana kehendak Allah, yang setia menunjukkan kasih Allah, sampai mati, gagal di kayu salib.

Bagi kita, Yesus berpesan: jangan hanyut oleh kesuksesan; seperti juga jangan tenggelam oleh kegagalan. Hidup kita adalah hidup yang kita jalani sesuai dengan kehendak dan rencana Allah. Pengalaman sukses atau kegagalan, dapat menjadi jalan untuk kita kembali mendekat kepada Allah. Pengalaman itu menjadi berkat kalau pada akhirnya kita lebih mengenal Allah dan lebih sedia menyembah dan mengikuti bimbinganNya. Amin.

Romo Hans Handrianto Widjaja Pr, imam diosesan (praja) Keuskupan Denpasar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here