Motivasiku

0
119 views
Ilustrasi (Ist)

AKU membayangkan hidupku seperti sedang mengayuh sepeda. Perlu gerakan, tenaga dan keseimbangan untuk mencapai sebuah tujuan.

Memang tidak mudah. Banyak tantangan yang harus aku hadapi. Terutama tantangan pada diri sendiri. Tantangan yang membuat aku kuat. Juga tantangan yang membuat aku lemah.

Terkadang aku mengalami rasa putus asa. Ingin aku berhenti mengayuh sepedaku. Tapi aku melihat kembali di belakangku sudah begitu jauh jalan yang aku lewati. Juga sudah begitu banyak pendukung yang bersorak-sorai menyorakkan namaku, bahwa aku harus tetap maju.

Sejenak aku terdiam, mengingat kembali motivasiku dan arah mana yang harus aku tuju. Memang berat, tapi aku harus berusaha bangkit kembali ke semangat awalku.

Aku tahu. Aku tidak sendiri, tapi berjalan bersama-Nya.

Siapakah aku ini sesungguhnya?

Rintangan dan cobaan memang selalu ada. Tetapi itulah yang mewarnai perjalanan hidupku. Dan selain sebagai pewarna, rintangan dan cobaan juga telah mengajariku untuk kuat. Lalu, tetap saja mengayuh sepedaku untuk melewati sebuah tanjakan dan rintangan kedepan.

Dan yang lebih istimewa lagi, yang kurasakan ketika banyak tantangan dan cobaan atau ujian, aku berusaha untuk menyadari lagi: siapa diri ini sebenarnya. 

Batu kerikil dan batu besar

Ketika aku dihadapkan pada jalan yang berkerikil kecil, aku tidak harus menyalahkan kerikil-kerikil kecil itu. Tetapi aku harus bersyukur. Karena dengan adanya kerikil itu, jalan yang akan kulewati tidak terlalu licin karena diperkuat oleh kerikil tersebut.

Tetapi aku harus tetap hati-hati, kerikil-kerikil itu bisa berbahaya untuk kakiku dan ban sepeda. Aku harus hati-hati dan harus perlahan demi perlahan melewatinya. Tentunya dengan kesabaran.

Kembali ketika aku harus melewati bebatuan yang besar, aku harus lebih hati-hati lagi. Aku tidak mungkin menghindarinya atau menyingkirkannya. Tetapi aku harus lebih bijaksana dan lebih bersabar lagi untuk mencari celah di antara batu-batu itu untuk bisa menyeberangkan sepedaku.

Batu-batu besar ini semakin mengajari aku untuk bersabar.

Di jalan yang licin, di sini ban sepedaku bisa berputar lebih cepat. Tetapi di jalan yang licin inilah sebenarnya ujian terberat untuk aku.

Mengapa?

Karena di jalan yang licin ini, aku harus bijaksana dan hati-hati, agar sepeda yang aku kendarai tidak sampai membawaku masuk ke jurang atau tumbang di tengah jalan.

Karena jika aku tidak berhati-hati mengayuh sepedaku, aku malah bisa gagal mencapai puncak.

Karena aku belum tahu, di ujung jalan yang licin ini ada apa di sana? Mungkin ada tikungan, jurang,bahkan rintangan lainnya.

Jadi aku harus tetap hati-hati.

Tergantung hasrat dan niatku

Setelah melewati jalan yang licin, aku sedikit santai mengayuh sepedaku. Karena sudah lumayan bagus jalannya, meskipun jalan yang akan aku tempuh masih sangat panjang.

Tapi aku akan terus maju sampai di garis akhir.

Karena aku tahu, untuk mencapai sesuatu memang perlu usaha. Sorak-sorai orang tidak mendukung aku bisa, kalau dari diri sendiri juga tidak ada kemauan atau dorongan.

Segala yang aku inginkan, baik cita-cita atau apa saja,aku harus mulai dari diri sendiri.

Karena kunci ada di tanganku. Hanya aku yang tahu password atau kodenya.

Orang tidak akan masuk ke dalam pintu itu, kalau aku sendiri tidak membukanya dahulu.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here