Terapi

0
94 views
Ilustrasi - Jalani terapi fisik usai kecelakaan by healthpointe

-Utas-

TERNYATA jangkauan traumatis setelah mengalami suatu peristiwa tak terduga tidak selesai sekadar dengan operasi dan hospitalisasi. Malahan yang lebih fokus pada penyembuhan fisik.

Tidak lama sesampai di rumah di pinggir jalan kampung yang banyak dilewati aneka kendaraan karena berfungsi sebagai ‘sudetan’ jalan pintas, terasa adanya waswas dan kekhawatiran yang cukup akut, setiap kali saya mendengar bunyi motor lewat. Apalagi yang melintas dengan cepat dan bersuara cukup keras.

Saya pulang ke rumah tanggal 13 November sore. Di satu pihak merasa senang bisa kembali lagi ke rumah, tapi di lain pihak kerap merasakan trauma mendengar bunyi kendaraan.

Ini apalagi terasa ketika esok harinya, anak lelaki saya pergi dari siang sampai tengah malam. Saya paham, bahwa mungkin dia membutuhkan waktu untuk keluar dari rumah dan bersantai bagi dirinya, karena sudah lebih dari sepekan mesti banyak memperhatikan saya; dan kini toh saya sudah berada di rumah.

Meditasi untuk hilangkan perasaan was-was

Namun rasa waswas dan kekhawatiran itu begitu mendera.

Ini suatu kondisi psikologis yang barangkali bisa dipahami, ketika saya sendiri baru saja mengalami kecelakaan.

Maka di sini ada dua hal, pertama bisa memahami situasi ini, dan kedua bagaimana bisa mengatasi kondisi psikologis seperti ini.

Saya tidak bisa membiarkan kondisi ini berlarut-larut.

Untunglah saya pernah beberapa kali ikut latihan meditasi dan juga pernah secara relatif cukup intensif berlatih yoga. Tentu tidak mungkin saya melakukan yoga asanas dalam kondisi fisik seperti ini, tapi saya bisa berlatih meditasi lagi.

Ditambah rasa nyeri yang kuat, salah satu cara efektif mengatasi kondisi penuh kecemasan seperti ini memang hanya meditasi. Saya banyak mengalihkan perhatian pada napas, menyadari keluar masuknya napas.

Kenapa saya pilih meditasi?

Karena ini melampaui dari sekadar ‘memahami situasi’ menjangkau ‘menerima situasi’. Kerap kali ‘tahu’ tidak memadai, yang lebih diperlukan adalah ‘menerima’, suatu kondisi ‘berdamai dengan situasi’.

Pernah juga saya berlatih reiki, khususnya GTummo. Sekaligus ini saya praktikkan lagi dan mengombinasikannya dengan meditasi. Kerap satu putaran hanya saya lakukan terapi reiki selama sekitar 15 menit sambil meditasi.

Kemudian rileks lagi, nonton berbagai tayangan yutub. Dan setiap sekitar satu jam, saya bangkit dari kursi untuk berjalan pelan-pelan selama sekitar 5 menit.

Begitulah yang saya lakukan berulang-ulang selama sekitar sepekan, kecuali bila sedang tidur. Berangsur-angsur kondisi psikologis yang didera kekhawatiran mulai mereda, hingga suatu kali saya semalaman tidak bisa tidur, mungkin karena relatif sudah cukup banyak tidur.

Dan saya pun nekat masuk ke tahapan terapi kedua: menulis.

Bagi saya, menulis merupakan terapi yang sudah saya inginkan bahkan sejak pertama kali masuk rumah sakit, namun berbagai situasi tidak memungkinkan. Dengan menulis di komputer ini, saya berlatih memulihkan kemampuan psikomotorik halus dan memulihkan kemampuan kognitif, maka lahirlah tulisan yang saya beri judul Kecelakaan.

Saya akui tulisan itu acakadul seadanya, karena memang ditulis dalam kondisi yang ‘apa adanya’. Saya cek kemudian setelah diterbitkan seorang teman di Sesawi.Net bahwa ada beberapa salah ketik dan kurang akurasi, meskipun hanya minor saja.

Namun yang jelas, menulis itu memberi saya kelegaan luar biasa. Tidak lama kemudian saya menulis lagi dan saya beri judul Pasca Operasi yang lebih banyak saya gunakan untuk memulihkan kembali kemampuan kognitif saya dalam hal memori dengan meruntutkan rangkaian peristiwa yang saya alami.

Setelah itu masih ada beberapa lagi tulisan tidak selesai, karena memang bukan tujuannya membuat tulisan lengkap melainkan sekadar sebuah terapi.

Selain menulis, latihan fisik juga saya tambah porsinya. Kerapk ali saya bisa jalan kaki di dalam rumah, bolak-balik, selama sekitar 30 menit, plus tetap jalan kaki sekitar 5 menit setiap setelah duduk selama 1 jam.

Namun kini saya tambahkan dengan menggerakkan tangan sedikit-sedikit, baik pada pergelangan tangan maupun jari-jemari. Meditasi dan reiki lebih berkurang porsinya meskipun setiap hari tetap saya lakukan.

Hingga suatu kali saya perhatikan di cermin bahwa wajah saya tampak kuyu dan tidak bersemangat. Saya seperti melihat orang yang lebih fokus pada menahan ‘penderitaan’ ketimbang menampakkan gairah.

Menyanyi agar kembali bergairah

Saya ingin melakukan sesuatu untuk membangkitkan gairah kembali. Saya ingin menyanyi.

Saya tidak peduli kalau suara saya kali ini tidak lebih bagus daripada ember kaleng yang ditimpa titik-titik hujan. Pokoknya harus mulai menyanyi.

Awalnya saya pilih lagu-lagu yang slow dan santai. Lama-lama saya ingin mengganti dengan lagu-lagu yang lebih bersemangat. Namun saya ingin juga mengkombinasikannya dengan gerak fisik seadanya.

Gerakan tangan saya masih terbatas, kurang lebih baru seperti orang yang melakukan ‘manortor’. Maka saya pilih lagu-lagu batak seperti Sinanggar Tullo, Alusi au, dst.

Saya menyanyi sambil tangan digerak-gerakkan seperti ‘manortor’. Lumayan, tambah lebih semangat. Ketika kondisi cukup baik, saya tambah lagi dengan sedikit bergoyang badan seadanya, meskipun mungkin tidak lebih bagus daripada tarian topeng monyet.

Tetap dengan gerakan tangan maupun gerak badan yang terbatas, mulai mencoba lagu-lagu seperti Gemu Famire, Sajojo, dan sejenisnya. Tentu saja dengan bernyanyi dan bergoyang.

Itulah beberapa terapi yang coba saya lakukan. Kondisi patah tulang pundak ini justru mengingatkan kembali kepada biola saya yang barangkali sudah sekitar 10 tahun cuma teronggok dan tergusur sana-sini.

Siapa tahu setahun lagi saya bisa menaruhnya kembali di pundak, menjepitnya dengan dagu, dan menggesek lagi. Siapa tahu setahun lagi saya bisa kembali berlatih yoga atau berlatih taichi lagi yang ringan-ringan.

Dan siapa tahu saya juga bisa kembali menekuni hobi saya pada waktu luang, yakni melakukan kerja ‘tukang’ di garasi yg kadang saya fungsikan sebagai bengkel. Dari sejak kecil memang hobi saya kutak-katik apa saja.

Tidak selalu menghasilkan sesuatu yang berguna dan bermutu, namun melakukan pekerjaan teknis kecil-kecilan seperti kerja kayu, logam, atau listrik kadang menjadi keasyikan tersendiri.

Saya sering bisa lupa waktu kalau sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan kutak-katik ini.

Ah, masih banyak pemulihan yg saya cita-citakan dan mungkin sebagiannya bisa mulai saya wujudkan kembali.

Salah satu yang terbayang adalah belajar bahasa baru, bahasa apa saja, atau keterampilan baru. Atau bisa juga menghidupkan kembali kemampuan beberapa bahasa yang pernah saya pelajari namun hilang karena nyaris tidak pernah saya gunakan.

Saya ingin menghidupkan kembali kemampuan bahasa Perancis, Jerman, serta Mandarin yang pernah saya ambil.

Untuk apa? Mungkin sekadar terapi saja.

Menurut saya, manusia yang hidup, gembira, dan bahagia adalah manusia yang beraktivitas, manusia yang bermain, dan manusia yang mencipta.

Marcx 26/11/2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here