
MAJU kena. Mundur pun juga kena. Di titik tanah longsor itu, kami tidak bisa ke mana-mana lagi. Hanya bisa diam di situ menunggu “kabar baik” dari alam.
Kami mencoba kembali ke arah Sibolga, namun tidak bisa. Mobil yang kami tumpangi sempat berusaha balik ke Sibolga, ternyata sudah tidak bisa lagi. Karena ketika mau balik arah Sibolga, kembali ada kendaraan di depan kami sudah terhalang oleh guguran tanah longsor dan hampir saja tertimbun tanah longsor,
Kemudian, guguran tanah longsor kembali terjadi di belakang kami. Kami putuskan kembali ke titik parkir awal yang menurut pastor relatif aman. Ternyata beberapa mobil dan sepeda motor sudah “terpaksa” ikut parkir di tempat yang sama.
Ketika hujan agak reda, kami turun dari mobil. Terciptalah keakraban dan persaudaraan dengan sesama yang terjebak. Sebuah “tenda biru” didirikan.
Kami berbagi makanan seadanya -pop mie dan durian- yang sempat dibeli sebelum longsor. Hujan kembali turun disertai angin kencang.
Sambil menikmati durian, saling bercanda, berteduh di tenda biru. “Suster di mobil saja,” kata mereka.
Saya menjawab, “Biarlah saya di sini, biar tahu kalau ada apa-apa terjadi.”
Hujan turun lagi, ditemani angin kencang, hujan lebat di tengah hutan. Bahkan ada beberapa teman yang tetap di luar, termasuk saya, di bawah tenda biru. Di luaran bertiup angin semakin kencang, dan guyuran hujan semakin lebat.
Tetapi, ada di manakah Pastor Rohendi Sahat Martua Marpaung Pr?
Ternyata ia sudah kembali masuk ke dalam kabin mobil. Saya dalam hati, tenang sekali ya pastor ini. Dan setiap peristiwa bersejarah, serta pengalaman sangat berharga yang tidak akan terlupakan ini pun, pastor masih aktif ambil video dan foto. Akhirnya karena semakin kencang angin, dan hujan lebat, saya pun akhirnya juga memutuskan masuk ke dalam mobil.
Tercekam oleh deru angin dan gemuruh tanah longsor
Tanah di depan dan samping kami terus terkikis air. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh sangat keras – tanah longsor disertai pohon-pohon tumbang, hanya beberapa meter dari tempat kami.
Kami menyaksikan langsung peristiwa yang biasanya hanya kami lihat di televisi.
Dalam diam saya berdoa: “Tuhan, jika pelayanan ini hanya sampai ‘di sini’, maka aku harus berani menghadapinya dan siap.”
Malam pun tiba. Kami bermalam di dalam mobil. Suara gemuruh masih terdengar. Dalam keheningan saya terus berdoa, menyapa alam: gunung, tanah, air, angin, hujan, dan pepohonan – memohon agar melindungi kami.
Doa Rosario kembali saya daraskan tanpa henti.
Pagi hari Rabu tanggal 26 November 2025, kami masih tetap berada di hutan. Tapi perut kami sudah mulai dilanda rasa lapar amat sangat. Juga badan kami sudah mulai terasa lelah.
Diputuskan tiga orang harus berani pergi mencari makanan. Mereka akhirnya kembali, hanya membawa batang tebu, karena warga sudah mengungsi. Akhirnya diputuskan kami harus berani tinggalkan lokasi jebakan longsor dan berjalan menuju Desa Rampah.

Berat hati tinggalkan semuanya di koper
Sebelum berangkat tinggalkan lokasi terjebak longsor, saya sempat membuka koper berisi banyak buku-buku, karena persiapan mau rapat dan retret. Terlintas dalam benak saya saat melihat buku-buku di dalam koper. Ada buku hasil sidang kapitel, buku spiritualitas Ordo Pewarta, buku Konstitusi Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus Indonesia, buku retret, buku catatan rapat. Ternasuk buku tentang Santo Thomas Aquinas, salah satu Orang Kudus dari Ordo Pewarta.
Terucap di dalam hati: Santo Thomas Aquinas, doakanlah kami yang akan memulai perjalanan mencari keselamatan Tuhan. Semua ini adalah milik-Mu Tuhan, jika Engkau kehendaki pasti yang terbaik bagi kami, yaitu keselamatan. Tuhan Engkaulah jalan Kebenaran dan hidup kami.
Saya memandang sekali lagi, mau bawa apa saya, namun akhirnya koper saya tutup dan kunci kembali, setelah mengambil baju untuk di jalan.
Ketika meninggalkan koper pun pengalaman bermakna buat saya, apa tujuan kita yaitu keselamatan dari Tuhan. Apa yang bisa saya sombongkan dalam hidup, kepandaian, kekayaan, jabatan?
Semua itu milik-Mu Tuhan. Keberhasilan-keberhasilan adalah anugerah Tuhan. Pelayanan-pelayanan membantu berbagai hal yang kadang bukan bidangnya akhirnya dimampukan. Itu karena dan berkat kuasa Tuhan.
Tuhanlah yang hebat, Tuhanlah yang setia.
Semua akan ditinggalkan, jika Tuhan sudah berkehendak kita bersatu di surga bersama-Nya. Semua untuk Tuhan. Jika Tuhan menghendaki semua akan diambil-Nya hanya dalam hitungan detik dan semua bisa langsung “berubah” total – sesuai kehendak-Nya.
Ziarah harapan
Perjalanan menuju Desa Rampah bagi saya sunggu menjadi ziarah harapan. Saya meninggalkan koper berisi buku-buku penting—pengalaman iman yang sangat bermakna.
Saya menyadari, tujuan utama hidup adalah keselamatan; bukan harta atau prestasi.
Perjalanan dilakukan tanpa alas kaki, menyusuri hutan, lembah curam, lumpur licin, duri, dan batu tajam.
Kaki mulai alami banyak goresan dan terluka, tenaga sudah mulai terkuras.
Dalam situasi ini, Pastor Rohendi Pr dengan setia menemani, menyemangati, bahkan mencairkan suasana dengan humor. Teman-teman seperjalanan saling menolong, bahkan membawakan ransel saya.
Kami bertemu Pak Babinsa TNI yang kemudian menjadi penunjuk jalan – sebuah pertolongan nyata dari Tuhan.
Dengan penuh perjuangan, kami akhirnya tiba di Desa Rampah dan diterima dengan sangat ramah oleh warga.
Kami diberi tempat berteduh, makan, dan minum. Di sanalah kami merasakan kembali kehadiran Tuhan melalui kebaikan sesama.
Menuju Sibolga melalui rute lain
Hari Jumat tanggal 28 November 2025, kami kembali menuju Sibolga dengan rombongan berbeda.
Perjalanan kembali ini juga tidak kalah berat. Namun dalam kepercayaan kepada Tuhan dan gembala-Nya, saya berkata dalam hati, “Kujawab: Ya, Tuhan.”
Pukul 22.10 WIB, kami tiba di Wisma Kristoforus Keuskupan Sibolga; disambut para suster dan imam, serta di-upa-upa menurut adat Batak sebagai ungkapan syukur atas keselamatan.
Pengalaman iman ini dapat dilihat di media sosial: Instagram Romo Rohendi Pr.
Setelah menjalani “masa pemulihan”, saya baru kembali ke Biara Santo Dominikus Pandan.
Banjir dan longsor telah meninggalkan kerusakan besar di SMAS SW St. Fransiskus: ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan sarana belajar sudah terlanjur dalam kondisi rusak parah.
Doa saya sederhana: “Semoga banyak hati menjadi tergerak untuk berbagi berkat bagi sekolah milik Keuskupan Siboga ini agar 200-an murid kami –para peserta didik- dapat belajar kembali dengan aman, nyaman, dan bahagia.”
Syukur dan terimakasih kepada Tuhan dan kepada semua saudara atas doa serta kasih yang mengalir.
Tuhan senantiasa menyertai dan melimpahkan berkat-Nya bagi kita semua. (Berlanjut)
Baca juga: Pastor dan suster terjebak di titik longsor Sibolga (1)











































kisah luar biasa!
berkat Tuhan.
terima kasih
❤️💛💚
Tuhan berkuasa atas anak-anakNYA yg setia mengikuti jalan kasihNYA.