
KEGIATAN reuni para romo, suster, dan bruder asal Paroki Promasan dibuka dengan perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh segenap umat paroki, Orang Muda Katolik (OMK), peserta reuni, dan “Keluarga Timbalan.”
Dalam homilinya, Romo Krismiyanto Pr mengingatkan bahwa keluarga adalah “Gereja Kecil” (Ecclesia Domestica) – tempat pendidikan iman Katolik bermula. Orangtua -bapak, ibu, dan seluruh anggota keluarga- hendaknya berani menyediakan sarana dan suasana yang mendukung aktualisasi iman Katolik dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini tentu membutuhkan pengurbanan.

Mewakili seluruh romo, suster, dan bruder yang hadir, Romo Kris menyampaikan, “Mohon doa untuk tugas dan kesetiaan kami.”
Usai Perayaan Ekaristi, Pastor Kepala Paroki Promasan, Romo Aloysius Triyanto Pr menyampaikan sambutan hangat kepada para peserta reuni. Ia berharap, “Semoga reuni ini menjadi penyemangat dan berkat bagi Paroki Promasan.” Ia juga berpesan kepada kaum muda agar berani mengambil keputusan untuk menjadi imam, suster, atau bruder.
Acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan singkat dari seluruh peserta reuni, menyebutkan nama, asal, dan tempat tugas masing-masing.

Srawung iman anak Promasan dan bersama Keluarga Timbalan
Hari pertama reuni ditutup dengan kegiatan kebersamaan yang dibagi menjadi dua kelompok:
- Satu kelompok bersama “Keluarga Timbalan” di Aula SMPK Promasan.
- Kelompok lainnya bersama kaum muda Promasan di Wisma Ibu.
Kegiatan bersama Keluarga Timbalan bertujuan untuk saling mengenal dan berbagi pengalaman hidup panggilan. Sementara itu, kelompok OMK dipandu oleh Kak Angel dan tim pendamping muda-mudi Promasan. Mereka mencairkan suasana, memberi motivasi, serta mengarahkan perhatian OMK Promasan pada kegiatan-kegiatan lanjutan.
Sesi terakhir berupa dinamika kelompok. Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan diminta untuk mengekspresikan pengalaman iman mereka dalam bentuk gambar di selembar kertas.
Kegiatan hari pertama ditutup dengan makan malam bersama.

Jalan Salib Yubileum
Hari kedua, Minggu, 6 Juli 2025, diisi dengan kegiatan internal para peserta reuni.
Sebagian besar mengikuti Jalan Salib dari Gereja Promasan menuju Gua Maria Sendangsono; sementara sebagian lainnya menunggu di lokasi tujuan. Jalan Salib dimulai pukul 09.00 WIB, menempuh rute sepanjang ± 2 km dari gereja menuju Sendangsono; berhenti di 14 Stasi Pemberhentian untuk merenungkan peristiwa sengsara Yesus dari Yerusalem menuju Bukit Golgota.
Jalur Jalan Salib ini dibangun pada tahun 1958. Awalnya menggunakan kayu biasa dan dihiasi patung-patung peristiwa Jalan Salib.
Pada tahun 1974, Romo YB Mangunwijaya Pr membangun ulang secara bertahap seperti yang dapat dilihat sekarang. Romo Mangun -sapaan akrab Romo YB Mangunwijaya oleh warga sekitar- merancang Kompleks Taman Ziarah Gua Maria Sendangsono dengan memadukan nuansa Jawa dan material ramah lingkungan.
Karya arsitekturnya dianugerahi penghargaan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (1991) sebagai “Arsitektur Terbaik” dalam kategori bangunan khusus.

Menambah keakraban dan semangat hidup panggilan
Reuni ini terasa menggembirakan dan mempererat keakraban. Dalam sesi syering, para peserta menyampaikan bahwa pertemuan ini sangat bermanfaat: baik bersama Keluarga Timbalan, OMK Promasan, maupun antar sesama peserta reuni.
Semangat hidup panggilan kaum muda tumbuh kembali, dikuatkan oleh dukungan kehadiran dan doa-doa dari Keluarga Timbalan.
Sesama peserta reuni juga saling merasa sepenanggungan dalam menghadapi tantangan hidup selibat, terutama di era modern yang dikuasai oleh media sosial. Saling mengenal dan mendoakan menjadi kekuatan tersendiri.
Bahkan ada kisah menarik: beberapa peserta reuni ternyata bertetangga sejak kecil, tetapi tidak saling mengenal karena sudah lama merantau.
Keluarga Ibu Etty yang baik hati
Acara reuni ditutup dengan makan siang bersama di Gubuk Ibu Kita 2 (GIK 2). Lokasinya masih di kawasan Sendangsono. Sebelumnya, peserta disuguhi teh atau kopi hangat serta penganan khas Lereng Menoreh seperti gebleg, slondok, tempe benguk, ubi rebus, kacang tanah, dan lemper.
Selanjutnya, berlangsung obrolan ringan dan syering dalam suasana akrab. Menu makan siang terdiri dari sajian khas lokal seperti bacem tempe benguk, goreng tempe kedelai, sayur daun pepaya, sayur daun keladi (lompong), ayam kampung, gudeg nangka, sambal tahu, pecel, dan nasi liwet.
Semua peserta tampak sumringah dan bersyukur.
“Matur nuwun, Mbak Etty. Berkah Dalem,” ucap mereka.
Jogja, 15 Juli 2025
Br. B. Sukasta MTB
Baca juga: Reuni besar para imam, bruder, suster asal Paroki Promasan (1)











































