Home BERITA Sehari Usai Baptis 175 Umat, Pastor Crépin Martial Monga di Republik Afrika...

Sehari Usai Baptis 175 Umat, Pastor Crépin Martial Monga di Republik Afrika Tengah Tewas Ditembak

0
54 views
Pastor Crépin Martial Monga, imam diosesan Keuskupan Bangassou ditembak mati di Afrika usai membabtis banyak orang di Afrika Tengah. (ACI Africa0

INI kabar duka beneran. Duka menyelimuti Gereja Katolik di Republik Afrika Tengah.

Pastor Crépin Martial Monga, imam muda berusia 36 tahun yang dikenal sebagai pejuang perdamaian di wilayah konflik, telah tewas ditembak orang-orang bersenjata hari Senin 29 Juni 2026. Insiden mengenaskan ini terjadi hanya sehari, setelah ia telah menerimakan Sakramen Baptis kepada 175 umat.

Ditembak saat pulang ke pastoran usai pelayanan pastoral

Pastor Monga melayani sebagai Vikaris Paroki Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Zémio, Keuskupan Bangassou, Republik Afrika Tengah. Menurut laporan ACI Africa, ia diserang sekitar pukul 18.40 waktu setempat, saat tengah dalam perjalanan kembali menuju pastoran.

Peristiwa penembakan terjadi di jalan yang menghubungkan pos pemeriksaan Angkatan Bersenjata Republik Afrika Tengah dengan kompleks pastoran. Orang-orang bersenjata melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang ditumpanginya. Sebuah peluru mengenai kepala Romo Monga dan ia meninggal dunia di lokasi kejadian.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kelompok yang mengaku bertanggungjawab atas pembunuhan tersebut. Aparat keamanan juga belum mengumumkan pelaku maupun motif serangan. Berbagai organisasi hak asasi manusia mendesak pemerintah mengusut tuntas kasus ini serta meningkatkan perlindungan bagi warga sipil yang masih hidup di tengah situasi keamanan yang rapuh.

Membabtis 175 umat

Yang membuat peristiwa ini semakin menyentuh, hanya beberapa jam sebelum kehilangan nyawanya, Pastor Monga masih menjalankan tugas pastoral dengan penuh sukacita.

Pada Minggu, 28 Juni, ia menerimakan Sakramen Baptis kepada 175 katekumen. Di antara mereka terdapat 160 umat Kristiani yang terpaksa mengungsi akibat kekerasan dan selama beberapa hari ditampung di Zapay.

Keesokan paginya, Pastor Monga masih mendampingi para baptisan baru itu menuju tepi Sungai Mbomou. Kunjungan sederhana tersebut menjadi ungkapan perhatian dan kedekatan seorang gembala kepada umatnya. Tanpa disadari, itulah pelayanan pastoral terakhir yang ia lakukan sebelum nyawanya direnggut oleh aksi kekerasan pada sore hari.

Selama bertahun-tahun melayani di Zémio, Pastor Monga dikenal sebagai imam yang tanpa lelah memperjuangkan rekonsiliasi di tengah masyarakat yang terpecah akibat konflik bersenjata.

Ia memimpin Komite Lokal Perdamaian dan Rekonsiliasi di Zémio, sebuah forum yang mendorong dialog, membangun kembali kepercayaan antarkelompok masyarakat, serta mengupayakan perdamaian yang berkelanjutan di wilayah tersebut.

Kepergian Pastor Monga menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi Keuskupan Bangassou, Afrika Tengah, tetapi juga bagi masyarakat yang selama ini merasakan kehadiran Gereja sebagai pembawa harapan di tengah kekerasan.

Para pemimpin Gereja dan pegiat hak asasi manusia menyebut wafatnya Pastor Monga sebagai “kehilangan yang sangat besar”.

Mereka mengajak umat Katolik dan seluruh masyarakat untuk tidak membiarkan kekerasan mengalahkan harapan, melainkan meneruskan semangat pelayanan Pastor Monga dalam membangun perdamaian, melindungi warga sipil, dan membela mereka yang paling lemah.

Di negeri yang masih bergulat dengan konflik berkepanjangan, kesaksian hidup Pastor Crépin Martial Monga menjadi pengingat bahwa panggilan seorang imam tidak hanya diwujudkan di altar, tetapi juga melalui keberanian mendampingi umat, bahkan hingga mengorbankan nyawanya demi pelayanan dan perdamaian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo