Syukur atas Baptis Mulia

0
961 views
Pembaptisan Tuhan, lukisan di panti imam Gereja Our Lady Across the Dyle in Mechelen, Belgium.

Puncta 06.01.23
Jumat Biasa Masa Natal
Markus 1: 7-11

SETIAP perayaan malam Paskah, kita mengenangkan kembali peristiwa baptisan yang telah kita terima. Dengan memperbaharui janji baptis, kita diperciki air suci oleh imam.

Dengan lilin menyala di tangan kita menyanyikan lagu Syukur kepada-Mu, Tuhan. Lagu yang sangat indah dan penuh makna.

“Syukur kepadaMu, Tuhan, sumber segala rahmat. Meski kami tanpa jasa, Kau pilih dan Kau angkat. Dosa kami Kau ampuni, Kau beri hidup ilahi, kami jadi putera-Mu.”

Baptisan itu membuat status kita menjadi berbeda. Kita adalah manusia berdosa, diri yang hina, manusia tanpa jasa. Tetapi kita dipilih dan diangkat oleh Allah, diberi hidup ilahi dan kita diangkat menjadi putra-Nya.

Sangat mengagumkan dan luar biasa kalau kita bisa memaknai peristiwa malam Paskah itu. Kadang ada umat yang meneteskan air mata saat menyadari penebusan Allah yang tiada tara.

Kita orang berdosa tetapi dikasihi oleh Allah melalui Kristus Putera-Nya. Dengan baptisan kita menjadi manusia baru.

Dalam Injil hari ini kita membaca Yesus yang dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Baptisan Yesus itu punya makna penebusan.

Sebagai Allah, Yesus menanggalkan keilahian-Nya dan menjadi manusia seperti kita. Ia masuk dalam eksistensi manusia yang lemah dan hina.

Perendahan diri ini tidak menurunkan keilahian-Nya. Allah justru mengangkat dan mengakui-Nya sebagai Anak yang terkasih.

Terdengarlah suara dari sorga yang berkata, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Dalam pembaptisan, kita manusia hina bertemu dengan Allah yang justru menjadi manusia yakni Yesus Kristus. Dengan baptisan yang kita terima, kita membuat gerak naik, diangkat menjadi Anak Allah.

Dengan baptisan Yohanes, Yesus yang adalah Allah justru turun menyatu sebagai manusia seperti kita.

Syair lagu “Kau beri hidup ilahi, kami jadi putera-Mu,” yang kita nyanyikan mendapat maknanya dalam peristiwa ini.

Karena baptisan, kita seperti memakai baju baru yang putih bersih. Baju lama yang compang camping dan kotor dibasuh dengan darah-Nya di kayu salib. Itulah baptisan yang sesungguhnya.

Makna kedua yang dapat kita renungkan dalam peristiwa baptisan adalah solidaritas Allah. Allah mau menjadi manusia dalam Yesus.

Allah menghargai dan menjunjung tinggi kemanusiaan kita. Maka kita pun dipanggil menjadi lebih manusiawi.

Lanjutan dari syair lagu di bait kedua berbunyi, “Kami hendak mengikuti jejak Yesus Sang Abdi: Mengamalkan cinta bakti di masyarakat kami.”

Agama yang baik adalah agama yang mampu mengamalkan cinta bakti di tengah masyarakat. Bukan agama yang menebar ketakutan dan kebencian.

Agama yang benar mengembangkan tindak tanduk dan sikap yang lebih manusiawi, bukan mau mengklaim diri sebagai allah yang menindas, kejam dan tak ada toleransi.

Orang yang sudah dibaptis, mengembangkan hidup menjadi lebih manusiawi. Mau mengamalkan cinta bakti di tengah-tengah masyarakat yang beraneka ragam.

Semakin beriman berarti semakin cinta sesama dan lingkungan. Semakin beragama berarti semakin manusiawi dalam tindak tanduk dan tutur kata.

Ke Sendangsono naik sepeda,
Jalan nanjak sampai putus rantainya.
Syukur atas baptis yang mulia,
Kita diangkat menjadi Putra-Nya.

Cawas, bangga dengan baptis kita…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here