Home BERITA Tuhan, Supaya Aku Dapat Melihat

Tuhan, Supaya Aku Dapat Melihat

0
76 views
Ilustrasi - Mukjizat penglihatan. (Ist)

Senin, 17 November 2025

  • 1Mak. 1:10-15,41-43,54-57,62-64;
  • Mzm. 119:53,61,134,150,155,158;
  • Luk. 18:35-43.

DI depan sebuah rumah sederhana terpampang tulisan sederhana pula: “Pijat tunanetra.”

Tulisan itu menjadi tanda sekaligus kesaksian, di dalam rumah itu tinggal seorang bapak tua yang matanya memang tak lagi mampu melihat dunia, tetapi hatinya terbuka luas untuk menatap hidup dengan cahaya iman.

Setiap hari, dengan tangan-tangan yang terlatih, ia memijat siapa pun yang datang memerlukan pertolongannya. Dari upah sederhana itulah ia menopang keluarganya.

Tidak ada keluhan yang keluar dari bibirnya, tidak ada rasa iri melihat orang lain yang lebih beruntung. Ketika ditanya apa yang membuatnya kuat, ia menjawab dengan tenang, “Iman dan percaya pada kebaikan Tuhan.”

Kata-kata itu sederhana, namun sarat makna. Di tengah keterbatasannya, ia justru menjadi saksi bagaimana iman bukan hanya tentang apa yang kita tahu, tetapi tentang kepada siapa kita bersandar.

Ia tidak bisa melihat dunia, tetapi ia melihat Tuhan dalam setiap langkah kecil kehidupannya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”

Orang buta itu tidak meminta kekayaan, kedudukan, atau kemudahan hidup. Ia hanya berkata, “Tuhan, supaya aku dapat melihat.”

https://youtu.be/b13ylaZknGo?si=pvdjTsdpwhQeaqOl

Permintaan yang jujur, tulus, dan langsung dari hati. Ia sadar bahwa penglihatan adalah kunci untuk menemukan arah hidupnya kembali, bukan hanya penglihatan jasmani, tetapi juga penglihatan batin: kemampuan untuk melihat kebaikan Tuhan di tengah penderitaan.

Berapa banyak dari kita yang sebenarnya “melihat” tetapi sesungguhnya buta?

Kita bisa melihat dengan mata, tetapi gagal melihat kasih Tuhan yang bekerja dalam keseharian. Kita menatap sesama, tetapi sering tidak melihat wajah Kristus di dalam diri mereka.

Kita sibuk melihat kesalahan orang lain, namun tak pernah melihat kebutuhan akan pertobatan di dalam diri sendiri.

Yesus masih bertanya kepada kita hari ini: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”

Apakah kita akan menjawab dengan keluhan, dengan daftar panjang kebutuhan duniawi, atau dengan kerinduan yang mendalam: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” melihat dengan mata yang jernih, dengan hati yang penuh syukur, dan dengan iman yang menyala.

Saat kita berani memohon penglihatan yang sejati, Tuhan akan membuka mata hati kita.

Kita akan melihat bahwa setiap peristiwa hidup, bahkan yang paling gelap sekalipun, mengandung cahaya kasih-Nya.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah selama ini aku sungguh tahu apa yang paling aku butuhkan dari Tuhan dalam hidupku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo