Upahku Boleh Mewartakan Injil Tanpa Upah

0
46 views
Ilustrasi: Upah.

Selasa, 28 Mei 2024

1Ptr 1:10-16;
Mzm 98:1.2-3ab.3c-4;
Mrk 10:28-31

BAGI para karyawan, hari gajian merupakan saat yang dinanti. Di Indonesia, para karyawan swasta biasanya menerima gaji pada akhir bulan sedangkan pegawai negeri menerima gaji pada awal bulan.

Itulah mengapa, istilah dari tanggal tua akan bermakna sangat beda, tergantung dari jadwal penerimaan gaji. Namun, untuk sebagian orang, kebahagiaan sesudah memperoleh gaji hanyalah berlangsung sementara.

Sebagian besar dari pekerja langsung akan menyiapkan catatan untuk utang, cicilan, dan juga pengeluaran lainnya, yang harus segera dibayarkan sebelum jatuh pada tempo.

Ketika gaji sudah turun, mereka sudah menyiapkan sejumlah rencana, supaya uang dapat diputar dan dihemat hingga bisa mencukupi kebutuhan sampai gajian berikutnya.

Seolah tak peduli awal maupun akhir bulan, setiap karyawan menunggu hari gajian dengan antuasias. Apalagi bagi mereka yang sudah terdesak kebutuhan. Hari gajian seperti oase yang menyegarkan.

“Orang bekerja tentu mengharapkan upah,” kata seorang sahabat. “Namun jika upah yang menjadi tujuan utama, tanpa disertai kinerja yang baik, sikap yang jujur dan disiplin waktu, pekerja itu hanya akan menjadi benalu pada perusahaan.

Saya tidak menuntut banyak dari para karyawan, saya hanya ingin mereka melaksanakan kerja dengan benar sesuai tugas dan kewajibannya, namun itu pun sulit terpenuhi.

Mereka datang terlambat dan setelah itu mereka bekerja dengan santai dan cenderung malas. Seakan hanya masuk ke tempat kerja untuk menunggu waktu pulang.

Tindakan mereka semakin mengkerdilkan diri mereka sendiri, pekerjaan tidak membuat mereka meningkatkan telenta yang mereka miliki hingga menumbuhkan kebanggaan dengan apa yang mereka kerjakan. Mentalitas mereka payah,” kata sahabatku itu.

Dalam bacaan Injil kita dengar demikian, ”Orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”

Dalam mengikut Yesus, kita bukan seorang karyawan yang hanya fokus pada upah. Kita tidak menerima gaji bulanan, dan juga tidak ada tuntutan upah dari pengikut-pengikut-Nya.

Penyerahan diri seutuhnya dan apa adanyalah yang diharapkan Yesus. Tidak ada seorang pengikut pun yang berhak untuk menuntut upah apa yang akan diperolehnya. Ukuran upah hanya ada pada Yesus dan Bapa. Siapa pun di dunia ini tidak mampu menjawab, ukuran upah seperti apa yang dimaksudkan Yesus dan Bapa ini.

Yesus menghendaki, agar “upah” tidak menjadi sasaran, fokus atau motivasi utama di dalam mengikut Dia. Karena jikalau upah yang menjadi sasaran utama para murid-murid di dalam mengkuti-Nya, maka arti dan kedudukan Yesus sebagai Tuhan yang mencintai kita dengan total akan kita lupakan. Dan orang lebih menghitung-hitung apa yang mereka dapatkan dari mengikuti Tuhan itu. Akhirnya, bukan peran dan kehendak Yesus yang diikuti, melainkan mengharapkan upahnya.

Ketika kita dipanggil untuk menjadi pelayan dan bekerja di ladang Tuhan. Itu terjadi bukan karena kehebatan kita, melainkan karena kemurahan hati Allah. Allah sendiri yang menghendaki, kita tidak punya pilihan selain harus memberitakan Injil.

Belajar dari Rasul Paulus dalam mewartakan Injil dengan penuh syukur, ia berkata, “Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah.” Tidak ada yang lebih mahal daripada kebebasan, sehingga Paulus memilih untuk tidak mendapat upah apa pun asalkan mendapat kebebasan, asalkan ia dapat terus memberitakan Injil dengan bebas.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku menuntut perhatian dan upah dari setiap pelayanan yang aku lakukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here