50 Tahun Imamat Romo Carolus Burrows OMI: Mandi Matahari dalam Pawai Sukacita Masyarakat Cilacap (2)

0
504 views
Gaya busana pawai berbahan baku aneka plastik dikenakan Stefani, murid SMA Yos Sudarso Cilacap. (Mathias Hariyadi)

PANAS terik matahari yang bersinar garang tak sampai menyurutkan niat ratusan orang untuk “mandi matahari” berpawai keliling kota Cilacap. Stefani, gadis remaja super manis, pun ikut ambyuk dalam gelombang sukacita ini.

Meski terik matahari membakar kulitnya yang langsat, siswi SMA Yos Sudarso Cilacap ini tetap saja pede gaya mengikuti trendsetter busana pawai zaman milenial ini. Ia berbusana gaya masa kini, mengenakan long dress berrumbai  dengan imbuhan “ekor” panjang yang mesti “dipapah” orang lain.

Yang mengejutkan, pakaian pawai itu berbahan dasar plastik.

Panasnya matahari tentu sajamakin membuat Stefani merasa “terpanggang”. Apalagi, ia harus nongkrong di kabin bak terbuka bersama sejumlah “peraga busana” lainnya. Usai berpawai keliling Kota Cilacap sepanjang 4 km, Stefani langsung berujar senang.

Panasnya ampun dah. Tapi hati tetap bersukacita bisa merayakan Pesta Emas Imamat Romo Carolus Burrows OMI di bawah “hujan” panas matahari yang telah membakar kulitnya.

Begitu selesai pawai, Stefani dan kawan lainnya langsung “ngamar” untuk bisa ganti busana di ruang kerja pastor OMI di kompleks Seminari Yuniorat OMI. Ini kompleks seminari di mana memang tidak tersedia kamar ganti busana untuk kaum perempuan.

Stefani dan satu kawan peraga busana mewakili tampilan seni persembahan SMA Yos Sudarso Cilacap. (Mathias Hariyadi)

Pestanya masyarakat lintas agama Cilacap

Bulan Agustus 2019 lalu, Romo Carolus Burrows OMI sudah menyempatkan diri “pulang kampung” ke Dublin, Irlandia. Di negeri nan indah ini, Romo Carolus OMI telah merayakan pesta emas imamatnya bersama keluarga dan para imam OMI Irlandia.

Kini, datang gilirannya semua karyawan binaan Romo Carolus OMI di beberapa lokasi di Kabupaten Cilacap. Maka, dirancanglah program perayaan sederhana dalam bentuk “pesta rakyat”. Dan layaknya sebuah pesta rakyat, pawai sukacita ini tidak kehilangan rohnya sebagai pesta rakyat.

Lihat saja Stefani, remaja Tionghoa yang  rela “mandi matahari” sampai membakar kulitnya yang putih bersih.

Juga Ganang,  guru matematika SMA Yos Sudarso Sidareja. Meski muslim, ia mengaku bangga hati menjadi guru di sebuah lembaga pendidikan Katolik asuhan Romo Carolus OMI di bawah reksa badan hukum Yayasan Bina Sejahtera (YBS).

“Kami semua hepi dan merasa nyaman bekerja di YBS,” ungkap putera keluarga penjahit lurik asal Pedan, Klaten Timur.

Sekedar tahu saja, “Mayoritas murid dan guru SMA Yos Sudarso Sidareja ini justru bukan Katolik, namun Muslim,” papar guru ramah ini.

Sama seperti Stefani, bersama sejumlah guru dan karyawan kolega kerjanya dari Sidareja, Ganang pun  ikut “mandi matahari”.

Gaya tampil anak-anak muda zaman milenial. (Mathias Hariyadi)
Modern dance oleh para murid SMA Yos Sudarso Cilacap. (Mathias Hariyadi)

Unjuk kebolehan

Dalam pawai sukacita di bawah “hujan” panas matahari ini, kelompok drumband SMP Maria Imakulata membuka prosesi arak-arakan pawai keliling kota. Namun sebelum barisan pawai ini meninggalkan lokasi dan kemudian menyusuri jalan-jalan di Kota Cilacap, sejumlah atraksi dance tampil unjuk gigi.

Anak-anak muda ini tampil bergairah. Dengan balutan seragam sekolah namun “dikemas” secara beda, sejumlah murid SMA Yos Sudarso Cilacap menggebrak suasana dengan lenggak-lenggok tarian modern. Panasnya matahari tak membuat mereka lunglai sebelum beraksi.

Yang terjadi justru sebaliknya, makin mendekat jam tampil, para murid SMA Yos Sudarso Cilacap ini makin hot untuk tampil unjuk gigi.

Kepala Sekolah SMA Yos Sudarso Cilacap Antonius juga tak kalah heboh. Mengenakan busana beskap gaya Yogya dengan iket mondolan-nya, ia tampil pede menyemangati murid-muridnya.

Alamak. Kalau tadi Ganang berasal dari Pedan, ternyata bapak guru SMA Yos Sudarso Cilacap ini juga berasal dari Klaten. Rumahnya tidak jauh dari lokasi Gereja Maria Assumpta Klaten.

Juru sesorah sekaligus panitia dari Yayasan Bina Sejahtera – Trias Dwi Nugroho, mantan Frater OMI. (Mathias Hariyadi)

Juru sesorah di balik corong microphone Trias “Dinuk” Dwi Nugroho pun juga berasal dari Klaten.

Jadi sudah ada empat orang dari Klaten, termasuk penulis, tanpa sengaja datang “tumplek bleg” berbarengan di gelaran pawai pesta rakyat merayakan pesta emas imamat 50 tahun Romo Carolus OMI. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here