“Hotel Transylvania 2”, Kecemasan Drakula

0
1,738 views

PANGGUNG fantasi telah memberi gambaran menakutkan tentang sosok Drakula: gigi bertaring bersaput darah segar, mata melotot, dan tubuh bersayap hitam layaknya kelelawar. Dalam buku dan film, gambaran seram mengenai sosok makhluk pengisap darah itu begitu kental tertanam di otak manusia.

Tak terkecuali di benak Drack, sosok drakula setengah manusia. Ia sangat mencemaskan kalau-kalau cucunya Dennis alias Dennniskovich –namanya sengaja diplesetkan agar nyrempet-nyrempet seram lazimnya Drakula—sudah mulai kehilangan jatidirinya sebagai keturunan mahkluk pengisap darah.

Drack layak cemas. Sudah seumur segitu, persis ketika dirinya seumuran yang sama, taringnya juga belum tumbuh. Belum lagi juga bisa terbang. Kecemasan inilah yang membawa Vlad nekad melakukan uji coba terbang bagi Dennis dengan cara melemparkannnya di atas ketinggian.

Ternyata, percobaan terbang dari ketinggian itu berakhir dengan gagal total. Dennis lebih menyerupai manusia daripada kelelawar pengisap darah alias Drakula.

Kecemasan Drakula
Hanya saja, kegalauan tak sampai membebat hati Mavis dan Johnny, pasangan setengah kelelawar dan manusia normal –orangtua Denniskovich. Mereka lebih suka mendidik Dennis sebagai anak manusia daripada mendesainnya sebagai anak keturunan Drakula.

Di ujung kejauhan sana, Vlad –ayah Drack dan kakek Dennis—lebih dari sekedar cemas bahwa cucunya tidak punya ‘darah keturunan’ sebagai mahkluk penghisap darah. Tapi untunglah, di ujung akhir cerita, ketika semua kisah anak Drakula belajar terbang nyaris gagal, tiba-tiba saja Denniskovich menampakkan dirinya mampu menjadi anak mahkluk penghisap darah segar.

Film Hotel Transylvania 2 ini lebih dari sekedar film hiburan yang kocak. Ia juga mencerminkan betapa manusia bisa jatuh dalam sebuah dikotomi kehidupan: mau jadi Drakula atau manusia. Vlad –generasi pertama mahkluk penghisap darah—tentu saja memilih kodratnya sebagai Drakula. Sementara Drack yang sudah ‘dimanusiakan’ oleh peradaban, kadang-kadang memilih diri sebagai manusia dan tak jarang memakai kelelawar sebagai wujud aslinya.

Denniskovich alias Dennis benar-benar anak manusia, lantaran Johnny seratus persen lelaki normal, sementara Mavis –ibunya—seorang keturunan Drakula yang telah ‘bertobat’ menjadi manusia. Jadi, sudah dari sono-nya, Dennis terlahir sebagai manusia dan bukan Drakula.

Justru karena dia ‘terlempar ke dunia sebagai manusia, kenyataan itulah yang ditolak mentah-mentah oleh Drack, kakeknya, dan Vlad, kakek buyutnya.

Film Hotel Transylvania 2 mencerminkan perang batin manusia menghadapi dikhotomi kehidupan tersebut. Karena itu, saya mempersepsi film ini lebih sekadar hiburan menyegarkan, tapi juga cerminan nyata betapa peliknya otak dan persepsi orang manakala menghadapi sebuah dilema kehidupan bernama dikhotomi.

Satu kaki memilih jalan ke kiri, sementara kaki satunya memilih jalan ke kanan. Bagaimana mendamaikan kedua kecenderungan ini? Otak dan persepsi manusialah yang akhirnya menuntun kedua kaki itu melangkah ke depan seiring dan sejalan.

Vlad dan Drakula berjalan di satu sisi, sementara Denniskovich dan kedua orangtunya berjalan di sisi lain. Ketika akhirnya Denniskovich berhasil menemukan jatidirinya yang baru sebagai kelelawar penghisap darah, maka Vlad dan Drakula pun direnda bahagia.

Ternyata, Dennis yang manusia itu bisa menjadi seorang Drakula cilik dan sebaliknya Drakula cilik itu pun bisa kembali lagi menjadi manusia dan itu menyenangkan pasangan Mavis dan suaminya Johnny.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here