Kisah Panggilan Jadi Imam: Pangkuan Papa Antar Aku ke Altar (2)

0
590 views
Penulis bersama empat Neomis (imam tahbisan baru) saat memberi berkat pertama. (Ist)

BOCAH kecil di bangku SD itu bernama Ovan. Ini adalah nama panggilan saya sebelum masuk seminari menengah. Dulu sekali, saya pernah punya cita-cita ingin menjadi seorang pilot.

Sebelum menerima Komuni Pertama, setiap habis menerima berkat dari romo, saya selalu dipangku oleh papa dan diajak untuk berdoa.

Pengalaman yang tak terlupakan, suatu saat sehabis berdoa papa pernah bertanya, “Kamu mau nggak jadi yang seperti di depan itu?”

Jawaban seorang bocah tentu masih malu-malu dan saya hanya mengangguk-angguk waktu itu. Tak pernah terpikir untuk menjadi romo, karena cita-cita saya hanya ingin menjadi seorang pilot waktu itu.

Ingin minum anggur misa

Sesudah menerima Komuni Pertama, tanpa paksaan orangtua, saya mendaftar menjadi seorang Putra Altar (misdinar) di Paroki St. Monika, BSD. Alasan saya waktu itu sederhana, saya ingin menjadi misdinar karena saya ingin lebih sering makan hosti, syukur-syukur boleh merasakan Darah Kristus, anggur misa.

Keinginan itulah yang memotivasi saya untuk selalu rajin tugas misdinar di gereja. Mendapat jadwal tugas atau tidak, saya selalu ingin dan senang tugas misdinar. Sampai suatu kali saking semangatnya tugas dan lupa pergi ke toilet sebelum misa, saya pernah ngompol saat tugas misdinar.

Karena saya terlalu rajin tugas, saya jadi dikenal oleh para pastor OSC yang berkarya di sana. Ya, saya menjadi sering diajak main dan menghabiskan makanan di pastoran. Dengan teman-teman misdinar dan koster setelah bersih-bersih Gereja dan mencuci semua kasula dan jubah romo, kadang-kadang karena kelelahan kami menginap di aula gereja.

Sedikit membungkuk saat menerima Sakramen Imamat yang dilambangkan dengan penumpangan tangan oleh Uskup Penahbis Mgr. Ignatius Suharyo.

Boleh dibilang saya lebih banyak bermain di gereja daripada di lingkungan sekitar rumah. Kalau saya tidak ada di rumah, orangtua saya mudah mencari saya, karena paling-paling lagi nongkrong di gereja. 

Keinginan awal ingin menjadi romo bermula dari hobi saya mencuci dan mencium kasula dan jubah romo yang sudah wangi itu.  “Suatu saat nanti saya ingin pakai jubah yang wangi ini siapa tahu saya ketularan wangi,” kenang saya dalam hati.

Pengalaman ini ternyata pelan-pelan mengkandaskan keinginan saya untuk menjadi pilot. Dari dalam hati saya muncul keinginan untuk menjadi seorang romo. Ketika menginjak SMP, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengatakan keinginan itu pada kedua orangtua saya.

Di kelas 3 SMP, awalnya saya takut untuk mengatakan keinginan tersebut karena yang saya pikirkan adalah saya anak laki-laki satu-satunya dan sulung lagi. Adik-adik saya tiga perempuan semua, Yola, Beata, dan Iona. Sebagai kakak laki-laki satu-satunya, saya tentu sadar akan tugas untuk menjaga dan melindungi adik-adik saya. Sempat terpikir pula, kalau saya masuk seminari, bagaimana saya bisa menjaga mereka.

Syukur kepada Allah, papa dan mama akhirnya merelakan saya untuk masuk seminari waktu itu. Bagi mereka, anak hanyalah titipan Tuhan, kalau Tuhan sudah memanggil, mereka selalu merelakan anak-anaknya.

Saya ingat betul dengan pesan papa menjelang saya masuk seminari, “Kalau kamu sudah memilih, kamu harus komit dengan pilihanmu.”

Kata-kata dari papa inilah yang sampai saat ini selalu saya kenang dan sekaligus menjadi kekuatan bagi saya.

Refleksi panggilan

“Cinta-Mu, Tuhan, Memantapkan Langkahku”

Perjalanan panggilan adalah sebuah misteri Ilahi. Siapa yang menyangka selama saya mendapatkan pengutusan belajar filsafat, saya pernah diutus untuk berpastoral bersama anak-anak jalanan di bawah kolong tol Warakas, mengajar di SMP Santo Markus, asistensi pastoral di Paroki Cilangkap, menjalani masa TOP di Seminari Mertoyudan, hingga belajar teologi di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta.

Prosesi ritual penerimaan Sakramen Imamat dalam Misa Tahbisan Imam.

Tak ada yang menyangka pula ketika di tahun ketiga saya belajar filsafat, papa harus mengundurkan diri dari pekerjaannya selama kurang lebih 10 bulan. Pengalaman-pengalaman pahit yang terkadang membuat saya merasa “jatuh” hampir tak pernah disangka-sangka, terkait situasi keluarga dan pengutusan.

Namun, dalam doa dan keyakinan saya sebagai seorang beriman, saya selalu percaya bahwa melalui pengalaman-pengalaman itu Tuhan selalu mempunyai cara untuk membentuk saya. Sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak pernah sekalipun merasa kehilangan kebahagiaan bersama Tuhan. Mungkin kebahagiaan itu bisa digambarkan sebagai suatu “dialog yang tak terungkapkan” antara Tuhan dan saya, antara kasih Allah yang memanggil dan kebebasan saya untuk memberi jawaban cinta kepada-Nya. 

Demi kebahagiaan yang sejati itu, sikap untuk mau terbuka selalu saya utamakan, baik bersama pembimbing rohani, pastor unit, staf seminari, bahkan teman-teman seperjalanan di seminari tinggi.

Saya selalu merefleksikannya demikian: “Keterbukaan untuk mengungkapkan pergumulan dan mau dibentuk menjadikan siapa saja siap untuk menjadi pribadi yang semakin rendah hati dan senantiasa terbuka pada setiap rencana Ilahi.”

Melalui keterbukaan itulah, karunia Tuhan dalam panggilan tidak akan pernah habis dan berkesudahan sampai kapanpun selama saya selalu mengandalkan kekuatan-Nya. “Sebab mereka yang dipanggil menyadari, bahwa mereka tidak mampu pada kekuatan mereka sendiri, melainkan pada kesetiaan tanpa syarat di pihak Allah yang memanggil.” (Pastores Dabo Vobis no. 36)

Menjelang masa akhir formatio di seminari, bahkan detik-detik menjelang tahbisan, sedapat mungkin saya menata hati untuk tidak khawatir akan semua yang saya hadapi ke depan.

Artinya, apapun yang menjadi hasil dari ujian akademis dan non-akademis, lebih-lebih tugas pengutusan selanjutnya, saya yakin semua itu adalah yang terbaik demi pertumbuhan panggilan saya.

Sekalipun ada rasa takut, tetapi inspirasi dan teladan hidup dari St. Yohanes Paulus II selalu bergema dalam hati saya. “Jangan takut—Don’t be afraid, sebab Tuhan akan memberikan segalanya bagi siapa saja yang menaruh kepercayaan kepada-Nya.”   

Melalui pemurnian, pengolahan, dan refleksi saya yang terus menerus, hingga detik ini saya memiliki disposisi batin pada hati yang bebas, tanpa adanya paksaan dari keluarga atau orang lain di luar diri saya. Kebebasan ini menjadi persembahan diri saya kepada Allah yang telah memanggil dan memberikan cinta yang sehabis-habisnya.

Dengan segala kerendahan hati, saya merasa mantap dan siap sedia untuk diutus sesuai dengan kebutuhan Gereja, terutama Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Kemantapan dan kesiapsediaan saya ini akhirnya menjadi bagian dari penyerahan diri saya sepenuhnya kepada Gereja dengan mengikuti teladan Kristus. (Pastores Dabo Vobis no. 23)

Menerima seperangkat alat misa.

Pengalaman pastoral

“Menjadi Gembala yang Semakin Murah Hati”

Energi sering kali habis untuk memberi perhatian kepada mereka yang butuh pendampingan khusus, seperti pelanggaran aturan seminari dan panggilan mereka yang masih “abu-abu”.

Keutamaan yang saya perjuangkan selama menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Mertoyudan adalah selalu ada dan hadir bersama dengan teman-teman seminaris, terutama melalui perjumpaan dan perbincangan personal dengan seminaris. Biasanya selesai wawanhati, rasanya ada suatu kebahagiaan tersendiri setelah saya bisa semakin mengenal secara personal pribadi per pribadi seminaris yang dipercayakan kepada saya.

Penjumpaan informal pun sangat membantu saya untuk semakin mengenal mereka, seperti saat opera bersama, olah raga bersama, mengajar di kelas, dan mendampingi kepanitiaan (moderator). “Situasi batin yang bahagia atau tidak amat menentukan bagaimana cara saya mendampingi teman-teman seminaris.” Ungkapan inilah yang menjadi peneguhan dari pembimbing rohani saya.

Perjumpaan langsung yang refleksif inilah yang membuat saya pribadi belajar untuk semakin menampakkan wajah kerahiman. Pada titik refleksi inilah saya baru bisa mengatakan bahwa kerahiman dan belas kasihan hati seorang formator sungguh-sungguh diuji. Tidak setiap waktu saya harus marah-marah dan memberi penitensi (saya lebih senang menggunakan istilah penitensi daripada sanksi atau hukuman karena nuansanya lebih transformatif) ketika menjumpai seminaris yang melanggar aturan-aturan di seminari.

Ada kalanya saya harus bersikap tegas dan ada kalanya saya perlu bersikap lemah lembut. Walaupun selalu ada tegangan di sana-sini, kalau saya bersikap tegas kecenderungannya akan rebel atau memberontak, sedangkan kalau terlalu lembut akan selalu “dimanfaatkan”.

Usai menerima Sakramen Imamat dalam Misa Tahbisan Imam, bersama empat Neomis lainnya penulis memimpin Perayaan Ekaristi.

Intinya, menjadi seorang formator perlu memiliki keduanya, di satu sisi harus berani bersikap tegas, namun di sisi lain juga perlu bisa ngemong seminaris. Dengan kata lain, sifat kebapakan dan keibuan pada diri seorang formator sudah semestinya dimiliki.

Kadang kala harus selalu siap untuk dibenci atau dirasani (baca: dibicarakan kejelekannya), namun tetap berusaha untuk memberikan cinta dan hati yang tulus. Pengalaman inilah yang tidak mudah.

Namun, saya diteguhkan dengan ungkapan Paulus, “Barangsiapa yang melakukan tindakan kerahiman, biarkan dia melakukannya dengan keceriaan.” (bdk. Roma 12:8) – Misericordiae Vultus art. 16.

Seburuk dan senakal apa pun seorang seminaris, Tuhan tetap berkarya pada diri mereka. Hyang Roh Suci (baca: Roh Kudus) selalu bekerja pada diri mereka putra-putra kesayangan-Nya.

Pengalaman inilah yang akhirnya juga mbundheli dan memantapkan langkah saya untuk menapaki langkah awal saya menjadi seorang imam yang semakin memiliki kerahiman dan kemurahan hati. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

Para imam tahbisan anyar bersama Uskup Penahbis Mgr. Ignatius Suharyo, Rektor Seminari Tinggi Yohanes Paulus II KAJ Romo Purbo Tamtomo Pr, dan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here