Pelita Hati: 12.06.2018 – Cita Rasa Kristiani

0
838 views

Bacaan Matius 5:13-16

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak  yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

DUAPULUH tiga tahun yang lalu atau tepatnya beberapa bulan setelah pentahbisan imam, dalam acara penerimaan imam baru ke dalam paguyuban imam-imam Unio-KAS,  (alm)  Romo YB. Mangun Wijaya, Pr memberikan nasehat bijaknya kepada kami-kami yang masih muda belia ini. “Populasi orang katolik di Indonesia dari dulu,  sekarang dan ke depan tetap akan minoritas alias sedikit jumlahnya dan tetap kecil di bumi pertiwi ini.  Namun sedikit tidak berarti lemah. Kecil bukan berarti selalu kalah atau mengalah. Minoritas bukan berarti tak bisa mengambil peran. Romo Mangun memberikan perspektif baru: yang kecil tidak bisa menjadi kuat dan tak harus kalah,  yang minoritas pun bisa mengambil peran dan bahkan bisa menjadi motor dan inspirator dalam perggerakkan. Bukan dalam konteks perang tetapi dalam hal menggerakkan nilai-nilai kebaikan. Syaratnya,  seperti garam harus asin demikian juga orang kristiani harus ‘asin’ alias berkualitas dalam beriman. Memang garam itu akan bercita rasa jika sedikit jumlahnya dan bisa menjadikan masakan, kue atau sejenisnya dapat dinikmati. Bayangkan jika juru masak menaburkan garam yang terlalu banyak atau sangat banyak dipastikan tak akan dapat dinikmati. Seperti itulah jati diri kristiani.”

Sahabat terkasih,

Apakah kita telah menjadi ‘garam yang asin dan mengasini’ keluarga, lingkungan kerja dan di tengah-tengah masyarakat? Tunjukkan kualitas kita sebagai umat Kristen bukan dengan menonjolkan identitas tetapi melalui perbuatan kasih yang bercita rasa kebaikan. Jika demikian, maka di mana pun kita berada cita rasa kebaikan itu akan dirasakan oleh sesama kita. Tetaplah menjadi garam yang asin.

Zaman pembuangan di Babilonia,
keluh kesah umat Allah tiada hentinya.
Kamu adalah garam dan terang dunia,
garami dan terangi dunia dengan kasih-Nya.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here