Puncta 08.04.20 Rabu dalam Pekan Suci: Mulut Manis Sang Pengkhianat

0
338 views


Matius 26:14-25

TANGGAL 28 Maret 1830, kira-kira dua hari setelah perayaan Idul Fitri, Jendral de Kock mengundang Pangeran Diponegoro ke rumah Residen di Kedu.

Undangan itu sebenarnya undangan silaturahmi karena baru saja merayakan Idul Fitri. Namun inilah kelicikan Jendral de Kock.

Dengan maksud baik Pangeran Diponegoro menghadiri undangan itu. Namun di tengah perbincangan, Jendral de Kock meminta Pangeran Diponegoro menghentikan peperangan melawan Belanda.

Pangeran Diponegoro tidak setuju. Menurut beliau tidak tepat membicarakan masalah politik ketika umat baru saja merayakan hari raya.

Tetapi Jendral de Kock yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, tetap memaksa.

Waktu ini adalah waktu emas. Sudah lima tahun Belanda kewalahan menghadapi Diponegoro. Banyak nyawa dan biaya ludes untuk perang di Jawa.

Bahkan Belanda membuat sayembara bagi siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro akan diberi imbalan 20.000 Gulden.

Sekarang Diponegoro ada di wisma Karesidenan Kedu. Maka De Kock memaksa dan menangkapnya. Saat itu juga Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang, lalu ke Batavia dan akhirnya diasingkan di Makassar sampai wafatnya.

Dalam perjamuan makan, Yudas mengkhianati Yesus. ia menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala dengan imbalan uang tigapuluh perak. Jendral de Kock merancang pengkhianatan dengan undangan silaturahmi.

Yudas mengkhianati Yesus juga saat makan bersama. Jendral de Kock mengundang Pangeran Diponegoro yang saat itu sedang masa hari raya Idul Fitri Ini jebakan yang dirancang oleh Belanda.

Yesus mengumpulkan para murid-Nya untuk makan bersama. Ia tahu saat inilah saat perjamuan terakhir untuk merayakan Paskah Yahudi bersama murid-murid-Nya.

Dalam makan bersama itu Yesus mengatakan terus terang kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Kelicikan Yudas masih bisa terlihat dengan berani mengatakan, “Bukan aku ya Rabi?” Ia sudah bermuka dua dan bermulut manis. Muka yang satu berpaling kepada imam-imam kepala, muka yang lain masih mendekati Yesus.

Mulut yang satu menyerahkan-Nya kepada imam-imam, mulut yang lain bermanis-manis dengan Yesus. Itulah mulut pengkhianat. Jika kita hadir dalam undangan Yesus itu, dimanakah kita berpihak?

Siang-siang minum jus manggis.
Diselingi makan ringan kudapan.
Hati-hatilah dengan buaian mulut manis
Dia bisa menjebak kita menuju kehancuran

Cawas, berserah pada janji…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here