Artikel Kesehatan: Lawan Tuberkulosis (TB)

0
250 views
Iustrasi: TBC (Image courtesy of Imedcomic.com by Jorge Muniz)

REKOMENDASI WHO terbaru diterbitkan pada hari Rabu, 20 Maret 2019,  untuk mempercepat kemajuan mengatasi tuberkulosis (TB). Rekomendasi tersebut adalah bagian dari paket tindakan intervensi medis yang lebih besar, yang dirancang untuk membantu semua negara dalam meningkatkan kemajuan layanan, untuk mengakhiri TB (end TB), dalam menyambut Hari TB Sedunia 2019.

Tema Hari TB Sedunia 2019 adalah: Sudah waktunya untuk mengakhiri TB (It’s time to end TB). Apa yang perlu dicermati?

TB adalah penyakit menular penyebab kematian tertinggi di dunia, yang menimbulkan sekitar 4.500 kematian setiap hari. Beban terberat dipikul oleh masyarakat yang menghadapi tantangan sosial-ekonomi, yaitu mereka yang bekerja dan tinggal di lingkungan berisiko tinggi, yang termiskin dan terpinggirkan.

Strain bakteri tuberkulosis (TB) dengan kebal atau resistensi terhadap obat lebih sulit diatasi, daripada yang peka terhadap obat, dan mengancam kemajuan global menuju target yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam ‘the End TB Strategy’. Oleh karena itu ada kebutuhan mendesak untuk pengobatan dan perawatan pasien TB kebal obat.

Sejak tahun 2000, sekitar 54 juta jiwa telah dapat diselamatkan, dan kematian TB telah turun sepertiga. Namun demikian, sekitar 10 juta orang masih jatuh sakit TB setiap tahun, sehingga terlalu banyak kehilangan  waktu produktif untuk perawatan TB, terlebih untuk jenis TB yang sudah kebal obat (MDR-TB).

Panduan terbaru ini difokuskan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB yang sudah kebal terhadap berbagai obat atau Multi Drug Resistant TB (MDR-TB). WHO merekomendasikan untuk beralih ke paket pengobatan telan atau rejimen oral secara penuh, dalam mengobati MDR-TB.

Paket perawatan baru ini lebih efektif dan kecil kemungkinannya menimbulkan efek samping yang merugikan. Selain itu, rekomendasi lainnya adalah pemantauan secara aktif tentang aspek keamanan obat dan memberikan dukungan konseling, untuk membantu pasien agar dapat menyelesaikan paket pengobatannya.

Rekomendasi baru tersebut juga dirancang untuk membantu semua negara menutup kesenjangan, juga memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal dalam program mengakhiri TB.

Elemen-elemen kunci rekomendasi terbaru tersebut meliputi:

  • Pertama, kerangka kerja dengan akuntabilitas baik, untuk mengoordinasikan tindakan lintas sektor dalam memantau kemajuan program pengobatan TB.
  • Kedua, kolaborasi berbagai pihak dalam mengetahui data epidemi TB, melalui perubahan teknis pemantauan manual menjadi sistem pengawasan TB digital atau ‘electronic TB surveillance systems’.
  • Ketiga, panduan untuk penentuan prioritas yang efektif, dalam intervensi TB yang lebih bermakna, berdasarkan analisis jalur pasien saat mengakses perawatan.
  • Keempat, pedoman baru tentang pengendalian infeksi dan pengobatan profilaksis atau pencegahan, untuk infeksi TB laten. Kelima, pembentukan satuan tugas untuk memastikan keterlibatan masyarakat sipil yang efektif dan bermakna.

Antara tahun 2011 dan 2018, WHO telah mengeluarkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti tentang pengobatan dan perawatan pasien dengan MDR-TB. Rekomendasi ini termasuk pedoman pengobatan untuk tuberkulosis yang resisten terhadap berbagai obat, yang merupakan edisi terbaru diterbitkan pada bulan Desember 2018.

Rekomendasi kebijakan ini telah dikembangkan. menggunakan pendekatan GRADE (Grading of Recommendations, Assessment, Development and Evaluation) untuk merangkum bukti, dan merumuskan rekomendasi kebijakan.

Pedoman mencakup rekomendasi kebijakan tentang rejimen pengobatan untuk TB yang kebal atau resisten terhadap isoniazid, termasuk pemantauan kultur bakteri pasien yang sedang dalam pengobatan, kombinasi terapi dengan obat antiretroviral (ART) yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), penggunaan tindakan pembedahan, juga model dukungan dan perawatan pasien yang optimal.

Resistensi terhadap obat TB adalah hambatan besar untuk perawatan dan pencegahan TB yang efektif secara global. TB yang resisten terhadap beberapa obat (MDR-TB) disebabkan oleh multifaktorial dan dipicu karena pengobatan yang tidak tepat, manajemen pasokan dan kualitas obat yang buruk, dan penularan bakteri melalui udara di tempat umum. Manajemen kasus menjadi sulit dan tantangannya lebih parah, karena biaya ekonomi dan sosial yang lebih besar, yang harus ditanggung pasien.

Penambahan dua obat TB baru, yaitu bedaquiline dan delamanid, untuk pengobatan TB yang resisten terhadap obat, telah menjanjikan karena selama ini tingkat keberhasilan pengobatan seringkali konsisten tetap rendah.

Setelah proses persetujuan yang dipercepat di Amerika Serikat oleh ‘Food and Drug Administration’ (FDA) pada Desember 2012 untuk bedaquiline dan persetujuan bersyarat di Eropa oleh ‘European Medicine Agency’ (EMA) pada Desember 2013 untuk delamanid, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi bersyarat untuk penggunaan obat tersebut dalam dua dokumen pedoman kebijakan sementara, yang diterbitkan masing-masing pada tahun 2013 dan 2014.

Meskipun data uji coba fase III belum tersedia, tetapi data tambahan tentang keamanan dan efektivitas bedaquiline sudah ada. Demikian pula, dua penelitian tentang farmakokinetik, keamanan, dan tolerabilitas delamanid pada pasien anak dengan MDR-TB, juga telah tersedia.

Momentum Hari TB Sedunia 2019 dengan tema : Sudah waktunya untuk mengakhiri TB (It’s time to end TB), mengingatkan kita untuk menggunakan bedaquiline dan delamanid, untuk pengobatan TB yang telah resisten terhadap obat.

Sudahkah kita bijak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here