Abdi Dalem

0
200 views
Ilustrasi - Tidak mungkinlah mengabdi pada dua tuan (Christianity)

Puncta 02.10.22
Minggu Biasa XXVII
Lukas 17: 5-10

KALAU kita berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kita akan berjumpa dan dilayani dengan ramah oleh para abdi dalem.

Mereka adalah orang-orang yang mengabdi raja atau sultan dengan sukarela dan ikhlas.

Yang dicari bukan soal materi atau gaji tetapi berkah boleh mengabdi raja adalah kebahagiaan hidupnya.

Abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah contoh seorang pribadi yang setia dan tidak dibutakan oleh materi.

Mereka menjalankan tugas dan mengabdi dengan hati yang ikhlas. Bukan materilah yang dicari, tetapi kebahagiaan batiniah.

Mereka percaya segalanya dicukupkan oleh Yang Mahakuasa.

Menjadi abdi dalem artinya bersedia mengabdikan hidup, dan waktunya untuk raja atau sultan dan mengesampingkan pendapatan.

Mereka percaya telah mendapatkan berkah kebahagiaan yang melebihi harta atau uang gaji.

Rasa syukur telah menerima berkah itulah yang membuat mereka mengabdi dengan tulus ikhlas penuh sukacita.

Ada beberapa tipe atau jenis pelayanan sebagai abdi dalem. Ada abdi “punakawan” dan abdi “keprajan.”

Abdi punakawan berasal dari rakyat biasa. Abdi keprajan berasal dari para pegawai; PNS, TNI atau polisi yang sudah pensiun dari tugas resmi.

Abdi punakawan dibagi menjadi dua; abdi tepas dan abdi caos.

Abdi tepas bekerja sebagai karyawan dengan sistem jam kerja.

Abdi caos hanya datang setiap 10 hari sekali untuk hadir sebagai tanda hormat kepada raja.

Kesetiaan, hormat, pengabdian tulus tanpa pamrih ditunjukkan para abdi dalem.

Walau raja tidak duduk di singgasana, namun jika mereka melewati bangsal keprabon, mereka akan menyembah dengan penuh kusyuk ke tahta sang raja.

Ketika para rasul meminta kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami,” Yesus menjawab dengan perumpamaan iman sebesar biji sesawi yang tertanam di laut.

Mereka minta ditambahkan imannya, artinya mereka sudah ada iman, tetapi masih kurang.

Iman adalah sesuatu yang hidup, bisa tertanam di laut. Jika iman itu hidup, dia bahkan bisa tertanam seperti biji yang terkecil dan tumbuh di laut.

Konotasi laut yang dimaksud adalah Danau Genesaret.

Iman bisa bertumbuh jika orang mempunyai kepasrahan total kepada Tuhan. Penyerahan total itu digambarkan dengan tindakan hamba yang siap sedia melayani tuannya.

Bukan soal saya mendapat apa dalam pelayanan, tetapi kebanggaan dan rasa syukur bahwa saya boleh melayani sang raja.

Perasaan seperti itu terungkap dalam kata-kata Yesus, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

Jika kita mampu menyadari seperti hamba itu, maka dijamin iman kita akan semakin bertambah.

Berani merendahkan diri dan ikhlas melakukan tugasnya sebagai wujud bakti kepada Tuhan Sang Raja. Dari situ iman akan tumbuh bertambah.

Sudahkah kita dengan setia menjadi abdi Kristus dan ikhlas melakukan tugas dan tanggungjawab bukan pertama-tama ingin mendapat balas jasa, tetapi punya rasa bangga menjadi hamba-Nya?

Pergi ke Merapi naik pedati,
Menikmati indahnya suasana.
Mengabdi dengan setulus hati,
Karena kita sangat dikasihi-Nya.

Cawas, mengabdi dengan penuh cinta…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here