Ajaran Perkawinan

0
39 views
Ilustrasi: Percaya saja saat dilamar mau diajak menikah. (Ist)

Puncta 24 Mei 2024
Jumat Biasa VII
Markus 10:1-12

BUKU Mahabarata adalah hasil budaya suatu bangsa pada masa itu. Ajaran tentang kehidupan dituangkan dalam diri para tokoh yang muncul disitu. Sifat, karakter, perilaku dan cara hidup tokohnya menggambarkan situasi yang terjadi pada kurun waktu tertentu.

Ajaran tentang perkawinan juga tergelar dalam kisah-kisah pewayangan. Misalnya, Arjuna, Kresna menghidupi poligami dalam perkawinan.

Semua tahu, Arjuna adalah “Lelananging Jagad”. Dia punya banyak isteri dan anak di mana-mana. Wayang versi Jawa berkisah bahwa Kresna punya empat orang isteri yaitu Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, Dewi Setyaboma dan Dewi Pratiwi.

Namun juga ada tokoh-tokoh yang menghidupi semangat monogami dalam perkawinan misalnya, Prabu Baladewa yang beristreikan Dewi Erawati, Prabu Salya berisetrikan Dewi Setyawati. Rama dan Sinta juga melambangkan pasangan yang monogam dalam perkawinan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan perkawinan monogam adalah perkawinan yang dikehendaki Allah.

Yesus berkata, “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita; karena itu pria akan meninggalkan ibu bapaknya dan bersatu dengan isterinya. Keduanya lalu menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang sudah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.”

Kehendak Allah menciptakan pria dan wanita agar mereka menjadi satu. Kegagalan perkawinan disebabkan karena ketegaran hati manusia.

Ketika orang-orang mengutip ajaran Musa yang membolehkan perceraian, Yesus meluruskan bahwa itu karena ketegaran hati manusia.

Ketegaran hati, kesombongan, keangkuhan dan egoisme diri mengakibatkan keretakan hubungan pasangan suami istri.

Mencari kebahagiaan dalam perkawinan tidak hanya untuk diri sendiri. Kebahagiaan mesti diarahkan untuk kedua-duanya.

Ibarat pemain ganda campuran dalam permainan bulu tangkis, kedua-duanya mesti dapat menjalin komunikasi yang baik agar salah satu tidak mendominasi permainan tetapi saling bekerja sama dan melengkapi pasangannya.

Sebagai murid-murid Kristus kita semua diajak untuk membangun perkawinan dengan prinsip-prinsip Kristiani yakni setia satu sama lain sepanjang hidup, monogam dan tak terceraikan.

Dasar perkawinan Katolik adalah Allah yang mengasihi kita dengan setia dalam Kristus yang mengorbankan Diri bagi kita.

Saya berdoa bagi anda semua agar perkawinan anda bahagia, setia dan saling melayani satu sama lain, sebagaimana Kristus datang untuk melayani dan mengasihi kita.

Di meja ada durian,
Dimakan para tamu.
Ajarilah kami Tuhan,
Bahasa cinta kasih-Mu.

Cawas, tak terceraikan sampai akhir
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here