Buku “Sapaan Senyap”, Tandai 25 Tahun SLB-G/AB Helen Keller Indonesia Yogyakarta yang Didik Anak Berkebutuhan Khusus

0
389 views
Anak-anak berkebutuhan khusus yang menjadi anak didik para suster biarawati Kongregasi Puteri-puteri Maria Yosef (PMY) yang mengampu SLB G-AB Helen Keller Indonesia di Wirobrajan, Kota Yogyakarta. (Dok. SLB HKI)

PADA tanggal 25 Juni 2021, SLB G/AB Helen Keller Indonesia yang beralamat di Jl. Martadinata 88A, Wirobrajan, Yogyakarta, akan genap berumur 25 tahun.

  • Huruf “G” berarti “cacat” ganda.
  • Huruf “A” artinya buta.
  • Huruf “B” artinya tuli.

SLB ini merupakan salah satu karya pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus ganda.

Lembaga pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini dikelola oleh Yayasan Dena Upakara. Ketua Yayasan Dena Upakara saat ini adalah Sr. Marga PMY .

Sr. Marga PMY adalah adik kandung Bapak Kardinal Ignatius Suharyo.

Lembaga pendidikan ini milik Kongregasi Suster Puteri Maria Yosef (PMY) yang berpusat di Wonosobo, Jateng.

Mendidik anak-akan berkebutuhan khusus

Berkebutuhan khusus ganda yang dimaksud adalah mereka yang mengalami tunanetra dan tunarungu plus tunawicara, autis, hiperaktif, dan hambatan intelektual.

Seperti sekolah pada umumnya, SLB-G/AB Helen Keller Indonesia ini mempunyai 11 ruang kelas.

Setiap kelas dapat menampung 2 atau 3 sampai dengan 4 orang siswa dengan bimbingan satu orang guru.

Perpustakaan memuat koleksi buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ganda, seperti kamus bahasa isyarat SIBI, ADHD (Attention Deficit Hiperaktivity Disorder = Gangguan Pemusatan Perhatian), autism, permainan edukatif.

Juga tersedia beberapa buku untuk siswa seperti pengetahuan umum, ensiklopedia, dan cerita Alkitab. Beberapa di antaranya menggunakan huruf Braille.

Anak-anak berkebutuhan khusus yang dididik dan dibina oleh para Suster PMY di SLB G-AB Helen Keller Indonesia tengah melakukan kegiatan di ruang kesenian (Dok. SLB HKI)

Berbagai ruangan

Ada juga ruang assessment. Ini adalah ruangan yang berfungsi untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang anak.

Juga informasi mengenai kemampuan dan kebutuhan anak secara komprehensif yang meliputi sosial, emosional, kemampuan binadiri, kemampuan komunikasi, kemampuan akademik maupun kemampuan fungsional motorik dan sensorik.

Kemudian ada ruang kesenian yang digunakan untuk berlatih menari, menyanyi bagi yang mampu, seperti anak tunanetra yang masih bisa mendengar dan wicara dapat berlatih alat musik.

Ruang keterampilan untuk berlatih membuat keterampilan tangan yaitu membuat gantungan kunci atau kalung, gelang dari manik-manik, juga tali temali untuk membuat gantungan pot dan tas.

Sedangkan, kegiatan membatik dilakukan di halaman luar, membuat kerupuk karak atau telur asin di dapur sekolah.

Anak-anak berkebutuhan khusus yang dididik dan dibina oleh para Suster PMY di SLB G-AB Helen Keller Indonesia tengah mengasah kemampuan keterampilan tangan. (Dok. SLB HKI)

Selanjutnya, ruang fisioterapi dipakai untuk terapi fisik. Memakai  alat-alat yang ada. Ruang ini dipakai juga untuk lahan bermain dengan menggunakan benda-benda yang disediakan di ruangan.

Lalu juga kolam renang untuk berlatih pernafasan, olah raga, rekreasi dan relaksasi.

Bahkan anak-anak berkebutuhan khusus ini pun ikut dilatih melakukan kegiatan di kolam renang. Ketekunan dan kesabaran para Suster PMY dalam mengampu karya kemanusiaan ini menjadi kata kucinya. (Dok. SLB G-AB Helen Keller Indonesia)

32 anak binaan

Saat ini, jumlah siswa berjumlah 32 anak. Terdiri dari 15 anak laki-laki dan 17 anak perempuan.

Mereka dibagi menjadi tiga kategori tingkatan usia.

  • Usia dini untuk calon siswa berusia dibawah 5 tahun (belum bersekolah, masih tinggal di rumah, pihak sekolah mengunjungi ke rumah sebagai awal pengenalan sebelum memasuki masa sekolah atau precare).
  • Usia sekolah untuk siswa berusia 6 tahun sampai dengan 17 tahun.
  • Usia transisi untuk siswa berusia 17 sampai dengan 20 tahun.

Selain pembagian kelompok binaan berdasarkan usia dan jenis disabilitasnya, juga dibagi menurut tingkatan kelas SD dan SMP.

Ketika siswa telah menyelesaikan pendidikannya atau lulus secara akademis, mereka memperoleh ijazah dari Pemerintah-Kemendikbudnas dan Surat Tanda Tamat Belajar bagi anak dalam kategori MDVI (Multiple Disabilities and Visual Impairment).

Ditangani suster biarawati PMY

Kegiatan persekolahan dan asrama sehari-hari di sini ditangani langsung oleh para suster PMY. Semuanya berkarya di SLB G-AB Helen Keller Indonesia.

Mereka adalah:

  • Sr. Patricia PMY yang menjalani fungsi sebagai Ketua Yayasan Dena Upakara Cabang Yogyakarta.
  • Sr. Stanisla PMY membantu manajemen yayasan.
  • Sr. Yosefa PMY sebagai guru.
Anak-anak berkebutuhan khusus ini harus tetap dibina dan dilatih untuk memiliki semangat mandiri, mampu mengerjakan hal-hal elementer dalam hidup sehari-hari sebagai manusia bermartabat. Inilah karya kemanusiaan yang diampu oleh para suster biarawati PMY melalui Sekolah Luar Biasa (SLB) G-AB Helen Keller Indonesia di Yogyakarta. (Dok. SLB-HKI)

12 guru

Para suster itu dibantu oleh 12 orang guru yang mengajar di kelas. Juga ada satu orang guru yang mengajar tari dan satu orang guru yang mengajar menggambar.

Sistem asrama

Karena sekolah ini menerapkan sistim asrama -tempat para siswa tinggal selama bersekolah- maka kegiatan sehari-hari di asrama sudah dimulai sejak awal hari.

Mulai bangun pagi sampai jelang tidur di malam hari hingga pagi lagi,  seluruh aktivitas itu berjalan dengan selalu didampingi oleh 10 pembina; terdiri dari dua bapak dan delapan ibu asrama.

Dengan lingkungan sekolah sekaligus asrama, maka proses pembelajaran menjadi lebih efektif, baik untuk pengembangan pengetahuan, komunikasi, binadiri, kemandirian anak-anak.

Tentunya juga membantu orangtua atau keluarga yang rumahnya berada di luar kota Yogyakarta atau luar Pulau Jawa.

Metodologi pembelajaran

Metodologi pengajaran dasar menggunakan pedoman kurikulum bagi siswa dengan ketunaan ganda atau MDVI dan deafblind.

Dengan strukrur kurikulum  meliputi area bekerja, komunikasi dan sosialisasi, binadiri yang masing-masing disertai dengan standar kompetensi yaitu kompetensi dasar dan indikator.

Penerapan kurikulum didasarkan atas proses identifikasi dan assessment pada masing-masing anak.

Juga menggunakan metode MMR (Metodologi Maternal Reflektif).

Metodologi ini dikembangkan sesuai dengan ketunaan atau kebutuhan siswa, yaitu cara penyampaian atau komunikasi yang digunakan saat pembelajaran dengan cara:

  • Untuk anak deafblind, berkomunikasi hand to hand (isyarat jari yang dirabakan), bahasa isyarat, dan Braille (untuk tulis menulis);
  • Untuk anak tunarungu dan tunawicara plus low vision, anak dengan hambatan intelektual menggunakan bahasa isyarat
  • Untuk anak low vision, tunarungu dan tunawicara dengan intelektual baik,  menggunakan cara demonstrasi untuk menerangkan materi pembelajaran dan juga menggunakan bahasa isyarat

Proses belajar-mengajar

Sebelum masa pandemi, proses belajar mengajar seperti sekolah pada umumnya dengan jadwal sebagai berikut:

Pk. 07.15(doa bersama)
Pk. 07.30 – pk. 09.30Percakapan (bahasa atau komunikasi sesuai situasi, kondisi siswa)
Pk. 09.30 – pk. 10.00Istirahat/minum
Pk. 10.00 – pk. 11.00Pembelajaran atau kegiatan lain sesuai dengan jadwal kelas
Pk. 11.00 – pk. 11.15Istirahat
Pk. 11.15 – pk. 12.30melanjutkan kegiatan pembelajaran
Pk. 12.30sekolah usai
Jadwal acara harian di sekolah dan di asrama Sekolah Luar Biasa G-AB Helen Keller Indonesia (SLB G-AB HKI) yang berlokasi di kawasan Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

Dampak pandemi

Selama pandemic Covid-19, mulai tanggal 23 Maret 2020, kegiatan sekolah dan asrama ditutup. Semua anak kini masih tinggal di rumah keluarga masing-masing.

Saat pandemi mulai agak mereda, maka dilakukan kegiatan yang bisa membantu anak untuk berkegiatan. Yaitu, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring dan juga luring.

Juga dengan melakukan kunjungan ke rumah anak, dengan catatan daerahnya zona hijau dan berada di wilayah Yogyakarta atau di luar Yogyakarta yang terjangkau dalam waktu sehari.

Inilah panorama sketsa singkat kegiatan di Sekolah Luar Biasa AG-B Helen Keller Indonesia di Yogyakarta sebelum masa pandemi. (Dok SLB Helen Keller Indonesia)
Akhirnya masa pandemi Covid-19 memaksa para suster biarawati PMY melaksanakan kegiatan pembinaan dan pendidikan dengan menyesuaikan keadaan: kunjungan dan lainnya. (Dok SLB Helen Keller Indonesia)

Harapan ke depan

Harapan ke depan sebagai berikut. Semoga SLB G-AB Helen Keller Indonesia dapat mempunyai tempat khusus untuk mewujudkan program transisi.

Tempat tersebut untuk mempersiapkan anak berkebutuhan khusus ganda yang memiliki kemandirian dalam binadiri, serta memiliki keterampilan tangan sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Ini penting sebagai bekal hidup selanjutnya. Atau saat mereka kembali ke rumah keluarga masing-masing.

Keterampilan yang dimaksud dan yang sedang direncanakan adalah bisa melakukan kegiatan menanam sayuran, beternak ikan dan ayam.

Tentu saja juga keterampilan-keterampilan lain yang sudah dipelajari sebelumnya saat mereka belajar di SLB G-AB Helen Keller Indonesia atau kelas sebelumnya.

Buku baru bertitel “Sapaan Senyap” menandai perayaan 25 tahun keberadaan Sekolah Luar Biasa B-AG Helen Keller Indonsia (SLB Helen Keller Indonesia)

Buku “Sapaan Senyap”

Dalam rangka pesta perak, SLB G-AB Helen Keller Indonesia akan menerbitkan buku berjudul Sapaan Senyap.

Buku iniberisi kumpulan cerita mini dan puisi, karya Suster PMY, guru, bapak dan ibu asrama dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus ganda.

Berikut informasi pemesanan buku Sapaan Senyap.

PS: Artikel ini diolah berdasarkan narasi dan wawancara dengan Sr. Patricia PMY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here