Ditebus

0
346 views
Ilustrasi - Kerja bakti bareng. (Ist)

Selasa 12 September 2023.

  • Bil. 21:4-9;
  • Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38;
  • Flp. 2:6-11;
  • Yoh. 3:13-17

“Berakit rakit kehulu,berenang renang ketepian.Bersakit sakit dahulu,bersenang senang kemudian”

Time will be the witness. Waktu akan menjadi saksi, apakah peribahasa tersebut memang benar atau hanya sebatas pemanis mulut.

“Ternyata setelah kami selamat melalui badai topan kehidupan dan nasib sudah berubah, baru saya memahami makna sesungguhnya,” kata seorang bapak.

“Bahwa berbahagialah orang yang pada masa muda harus kerja keras dan menderita,tapi di hari tua dapat menikmati hidup dalam berkecukupan,” lanjutnya.

“Kalau dulu,hanya untuk makan sebungkus nasi, kami harus berhutang,” kenangnya.

“Belakangan sejak nasib kami berubah. Bahkan kami mulai berani mengundang sanak saudara dan teman teman puluhan orang, untuk makan bersama dan seluruh biaya kami yang menyelesaikannya,” kisahnya dengan penuh syukur.

Untuk mencapai apa yang dia peroleh saat ini, ada jalan derita dan banyak kesulitan yang tak terhitung.

Pada saat digodog dalam kancah kerasnya kehidupan tidak semua kelihatan jelas dan pasti, tidak sedikit derita begitu berat dan mencekam.

Namun semua itu, harus dijalani hingga segalanya jadi lebih baik dan membawa berkat yang tak terkira.

Belakangan setelah badai kehidupan berlalu dan sinar mentari kehidupan bagi kami tampak cerah,saya baru memahami akan arti: “Segala sesuatu akan indah pada waktunya,” katanya

“Kalau dulu, siang malam pikiran tertumpu dan berpikir: “Apalagi yang dapat saya lakukan untuk mengubah nasib?” lanjutnya.

“Tidak ada pengorbanan yang sia-sia jika dilakukan secara tulus dan ikhlas,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Hidup kita menjadi tak berharga karena dosa dan kejahatan kita. Kebebalan hati kita dengan mengambil jalan yang dipenuhi keinginan diri sendiri dan tidak mempedulikan kehendak Allah telah menciptakan kesesatan dalam hidup ini.

Dosa membuat kehidupan kita berada dalam kesia-siaan.

Tapi kini semua telah berubah; kita yang sebelumnya memiliki cara hidup yang sia-sia telah ditebus Tuhan bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan darah Yesus yang mahal, yang tak bernoda dan tak bercacat, sehingga hidup kita menjadi berarti dan bermakna.

Tuhan Yesus telah mengembalikan martabat hidup kita sebagai anak Allah.

Bagaimana dengan diriku?

Sudahkah aku mensyukuri segala pengurbanan Tuhan bagiku dengan setulus hati dan segenap jiwa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here