Home BERITA Gua Maria Immakulta di Purwodadi, Jateng (4)

Gua Maria Immakulta di Purwodadi, Jateng (4)

0
47 views
Gua Maria Immaculata di Pati, Jateng. (Prihminto)

PERJALANAN kami selanjutnya menuju arah Purwodadi yang lebih datar. Sengaja kami tidak lewat Pati-Purwodadi melalui Sukolilo karena medannya lebih sulit, jalan berkelak-kelok, naik-turun, sempit, dan mesti berbagi dengan banyak truk.

Di Purwodadi kami mampir di Gereja Hati Kudus Yesus dan Gua Maria Immakulata.

Tempat devosi kepada Bunda Maria di Gua Maria Immakulata di Pati. (Prihminto)

Merasakan perbedaan

Nah sekarang apa sih bedanya ‘solo touring’ dengan ‘bersama orang lain’? Jika Anda traveling sendirian, ‘you are on your own’. Segalanya tergantung pada Anda sendiri. Anda bebas berhenti di mana saja, makan apa saja, tidur di mana saja, dengan kecepatan berapa pun, dst., termasuk segala risiko harus Anda tanggung sendiri.

Traveling ‘bersama orang lain’, bisa dalam kendaraan yang sama (entah motor atau mobil), dan jika dengan mobil bisa hanya dua orang, atau lebih dari dua orang. Bisa juga dengan kendaraan yang berbeda, misalnya dalam konvoi.

Jelas saya tidak suka berkonvoi, karena kecepatan kita sangat diatur orang lain, sering hanya kebut-kebutan dan kurang waspada karena mengejar kendaraan lain.

Ada kecenderungan sebagian orang suka pamer mampu berkecepatan tinggi jika berkonvoi. Karena saya tidak suka kebut-kebutan, maka saya tidak suka konvoi.

Ilustrasi – Konvoi kendaraan bermotor by Espos.

Naik motor berboncengan sebenarnya asyik, tapi sering yang diboncengkan sangat kecapekan dan mengantuk. Lebih nyaman dengan mobil, meskipun biaya BBM jelas lebih mahal. Belum lagi jika lewat tol.

Bila lebih dari dua orang semobil, pasti lebih kompleks, karena selera, kebutuhan, dan sifat pribadi jauh lebih banyak. Untuk menentukan tempat makan saja bisa lebih rumit.

Bahkan jika bermobil hanya dengan pasangan saja, urusan menentukan mau makan di mana bisa jadi sumber perselisihan. Belum lagi jika pasangan kita termasuk rewel dan cerewet. Mau menyalip kendaraan lain, bisa dimarahi, tapi jika tidak menyalip lantas dibilang kok lambat banget.

Suka-duka traveling bersama orang lain

Maka, traveling bersama orang lain berarti kesempatan untuk belajar bertoleransi dan ‘ngemong’. Menyopiri seseorang itu tidak selalu mudah.

Maka, traveling bersama orang lain itu juga seperti proses bagaimana menciptakan kebersamaan melalui berbagai dinamika selama perjalanan itu.

Bukankah hal ini pula yang sebenarnya terjadi ketika kita hidup bersama orang lain? Dalam perjalanan waktu, pasti terjadi aneka perselisihan tentang apa saja dengan alasan apa saja, bahkan alasan yang tidak masuk akal.

Namun dalam proses itu pulalah kita belajar untuk menguasai seni menciptakan kegembiraan, kebahagiaan, serta manfaat dari kebersamaan itu.

  • Ada banyak keuntungan jika traveling bersama orang lain.
  • Ada teman untuk ngobrol, meskipun kadang ngobrol lantas berbuntut perselisihan pendapat.
  • Ada yang mengingatkan.
  • Ada yang bisa membantu navigasi.
  • Ada yang membantu membukakan botol minum, membantu membukakan cemilan selama perjalanan, dan masih banyak lagi.

Namun bukankah sejatinya hidup kita juga seperti ‘perjalanan’ itu?

Kita bisa memilih hidup sendiri, melajang dan hidup sendiri, di mana segalanya ‘on your own’. Tapi kita bisa juga memilih hidup bersama orang lain, entah melajang tapi hidup dalam komunitas seperti yang dilakukan oleh para romo, bruder, suster, rahib/rubiah, atau hidup berkeluarga.

Ada banyak toleransi yang harus kita pelajari jika kita mau hidup bersama orang lain, tapi ada juga begitu banyak keindahan dalam kebersamaan.

Dan untungnya, itu semua adalah pilihan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, semua hanya soal pilihan dan ‘kecocokan’.

Marckx 25/07/2026

Baca juga: Nasi Gandul khas Pati, Nasi Pindang Daging Kerbau dari Kudus (3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo