MENJELANG gelap, kami sampai di Pati dan langsung bisa menikmati masakan khas setempat, yakni Nasi Gandhul. Ternyata ‘taste’-nya agak manis. Tapi layak dicoba.
Karena sudah gelap, kami memutuskan untuk menginap di Pati, di salah satu hotel yang menurut review termasuk terbaik. Hotel relatif baru, kamar berukuran sedang, cuma tidak terlalu kedap suara, sehingga sering terganggu keberisikan dari luar.
Kami mencoba menikmati malam dengan bersantai di sebuah kedai rumah kuno. Hidangan yang tersedia cukup sederhana, tapi menjelang pulang, terasa merinding saat melihat foto tuan dan nyonya yang tampaknya dulu pemilik bangunan zaman Belanda itu.
Karena disediakan breakfast oleh hotel, kami memulai keesokan harinya dengan sarapan, terus berolahraga jalan kaki menuju Gua Maria Immaculata. Lokasinya hanya sekitar 4 km dari titik nol Pati.
Namun ternyata sulit mendapatkan kendaraan online untuk kembali ke hotel dari tempat itu. Bahkan setelah kami berjalan sekitar 1 km menuju kota pun, masih tetap kesulitan. Beruntung ada angkot yang lewat dan kami charter untuk mengantar kembali ke hotel.

Nasi Pindang khas Kudus
Kami menikmati makan siang di Kudus. Menunya bernama nasi pindang Kudus dengan daging kerbau. Konon secara tradisional, masyarakat setempat tidak menglonsumsi daging sapi sebagai penghormatan terhadap penduduk Kudus sebelumnya yang dulunya mayoritas beragama Hindu.
Sayang kami tidak mendapatkan sate kerbau. Taste Pindang Kerbau ini terasa lebih pas bagi kami, dan terasa khas karena ada sayur daun melinjonya.

Baca juga: Batik Gedhog produksi Klerek, kulineran di Tuban Jatim (2)












































