Hening dan Tenang Supaya Tetap Waras

0
334 views
Ilustrasi: Keheningan di Taman Doa Gua St. Maria Lourdes Kupang, NTT. (Titch Tv/Mathias Hariyadi)

Sabtu 3 Februari 2024

  • 1 Raja-Raja 3:4-13.
  • Mzm 119:9-14.
  • Markus 6:30-34.

KONDISI terkini perpolitikan di tanahair memberi tantangan dan cobaan yang membuat pikiran kita menjadi kacau dan terkadang sulit untuk tetap waras. Perubahan dalam gerak dan manuver, baik yang diinginkan maupun tidak diinginkan, dapat menimbulkan stres.

Kecemasan terhadap hilangnya kedamaian yang disebabkan oleh pudarnya harmonisasi nilai dan etika telah mengguncang keseimbangan mental. Namun, dengan mengadopsi beberapa sikap positif, kita dapat menjaga keseimbangan mental kita, bahkan ketika segalanya terasa berantakan.

Salah satu kunci utama agar pikiran tetap waras adalah memiliki sikap bersyukur. Berani pergi mencari tempat yang sunyi dan tenang untuk berdiam memandang kebaikan Tuhan di dalam hati, pikiran dan perasaan.

Meskipun keadaan mungkin berada dalam kondisi sulit, melihat hal-hal positif dan mensyukuri apa yang kita miliki dapat membantu mengurangi tekanan mental.

Fokus pada hal-hal kecil yang membuat kita bahagia, seperti kesehatan, keluarga, atau momen-momen kecil yang penuh makna, dapat mengubah perspektif kita dan membuat pikiran tetap sehat.

“Yang terjadi dalam hidupku sering kali tidak berjalan sesuai rencana,” kata seorang bapak. “Dalam situasi tersebut saya saat ini, saya hanya berusaha beradaptasi dengan perubahan dan menerima kenyataan bahwa tidak semuanya dapat saya kendalikan,” lanjutnya.

“Dengan memahami bahwa hidup sering kali tidak sesuai rencana, saya merasa dapat mengurangi stres dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi perubahan dengan lebih tenang,” paparnya.

“Mimpiku terhadap anak kandas, yang sulung mogok, hingga tidak menyelesaikan studinya, adiknya akan pergi ikut suaminya yang berbeda keyakinan,” urainya.

“Saya menentang sikap mereka namun percuma, mereka tidak mau tahu dengan harapan kami orang tuanya,” lanjutnya.

“Terlalu pahit dan sedih jika aku melihat semuanya ini, namun kemudian aku berusaha melihat situasi dengan pandangan positif,” tegasnya.

“Sikap itu dapat mengubah energi dan membangun ketahanan mentalku,”

“Meskipun terdapat tantangan, aku percaya bahwa setiap masalah, Tuhan Yesus memiliki solusinya,” sambungnya.

“Dalam keheningan saya merasa dituntun untuk memfokuskan diri pada solusi daripada masalah itu sendiri hingga dapat membantu saya menjaga pikiran tetap waras dalam menghadapi kehidupan yang sulit,” ujarnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Lalu Ia berkata kepada mereka: Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika. Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.”

Yesus meninggalkan kenyamanan dan menerima kehadiran banyak orang. Mereka yang datang kepada-Nya merasakan berkat.

Sebagai pengikut Yesus, bersediakah kita meneladani Dia meninggalkan kenyamanan untuk memedulikan sesama yang membutuhkan?

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku hanya mengejar keinginan diriku sendiri tanpa mempedulikan kebutuhan sesama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here