In Memoriam Pastor Melki Tore MSC: Ke Bali Bawa “Selendang Biru”, Pulangnya Bawa Piala (2)

0
356 views
Almarhum Pastor Yohanes Melki Tore MSC (kanan) bersama Kelompok Grup Selbi dari Komunitas Kawanua Katolik (Kawkat) Jakarta. (Dok. Kawkat)

SELENDANG Biru. Itu nama judul sebuah lagu. Juga sering disebut dengan nama singkatnya: Selbi.

Dengan dan melalui Selbi inilah, Komunitas Kawanua Katolik (Kawkat) Jakarta lalu erat dipertautkan dengan almarhum Pastor Yohanes Melki Tore (1960-2021). Karena berkat kepedulian dan keseriusan pastor Tarekat MSC kelahiran Tomohon di Sulut inilah, pamor Komunitas Kawkat Jakarta ikut terangkat. Muncul ke permukaan.

Terlebih karena berkat Selbi, Komunitas Kawkat Jakarta berhasil memboyong piala kejuaraan dalam sebuah festival lomba senandung Selbi di Bali. Dan lagi-lagi berkat keseriusan Pastor Melki Tore MSC ini pula, Komunitas Kawkat Jakarta bisa menjadi juara pertama dalam gelaran Festival Lomba Selbi di Bali.

Nama resmi ajang lomba itu adalah “Festival Mapalus Bali 2017”. Tentang hal ini, Debbie LS Motulo, anggota Komunitas Kawkat Jakarta dan peserta ajang lomba punya kenangan manis akan almarhum Pastor Melki Tore MSC.

“Kumpul dekat ta pe tampa dudu,” kata Debbie menirukan omongan almarhum Pastor Melki di Bali tahun 2017 silam.

Artinya, “Semua tas kumpulkan saja dekat tempat duduk saya.”

Kalimat ini menjadi berarti bagi segenap ibu-ibu kelompok tari “Selbi” yang sebentar lagi harus naik panggung untuk pentas. Menari Selendang Biru di ajang festival lomba itu.

Rupanya, kalimat itu mengesan bagi Debbie LS Motulo. Kalau tak ada Pastor Melki Tore MSC di deretan kursi penonton saat ajang lomba menyanyi Selbi itu berlangsung, maka bisa saja penampilan Grup Selbi dari Kawkat Jakarta menjadi tidak semenarik dan secantik yang pernah bisa mereka tampilkan di Bali.

Tak fokus. Tak tenang. Lantaran, jangan-jangan tas-tas dan bawaan barang berharga mereka bisa digaet maling yang menyaru jadi penonton.

Ya, mana mungkin boleh membawa tas cangklong naik ke atas panggung, ketika semua harus fokus menyanyi.

“Itu paling mengesankan bagi kami akan sosok almarhum Pastor Melki Tore MSC,” kenang Debbie LS Motulo, Ketua Selbi Maesaan Kawkat.

Lumayan repot. Itu sudah pasti. Karena saat itu ada 28 anggota Grup Selbi dari Kawkat Jakarta ikut serta. Dan semuanya akan naik ke atas pentas bersama.

Komunitas Kawanua Katolik (Kawkat) Jakarta berhasil menjadi juara dalam lomba senandung “Selendang Biru” alias “Selbi” di Bali tahun 2017. (Michelle Wondal)

Tak ada kompromi

Soal disiplin diri dalam berlatih, nah Pastor Melki Tore MSC tak kenal kata “menyerah” dan “patah arang”. Latihan terus-menerus. Tanpa henti. Juga tanpa Lelah.

“Selama kami berlatih menari dan menyanyi Selendang Biru untuk keperluan ajang lomba, maka semua diminta fokus dan disiplin. Kata beliau saat itu, ‘Salah sadiki dapa veto’ Artinya, siapa salah -walaupun cuma kecil, maka kena hukuman: dimarahi habis-habisan,” kenang Debbie.

Saking tertibnya membawa diri dan melatih para anggota Selbi Maesaan Kawkat agar selalu fokus dan disiplin, ada anggota yang menangis lantaran kena hukuman “veto”.

Selendang Biru itu lagu khas daerah. Karena itu, kata Pastor Melki saat itu, pengucapan lafal kata-kata bahasa daerah itu harus tepat.

“Kalau belum berhasil mengucapkan kata-kata bahasa daerah itu secara tepat dan benar, maka akan disuruh mengulang-ulang. Pokoknya sampai benar-benar pas dan bisa,” kata Debbie LS Motulo menjawab Sesawi.Net, Rabu 22 September 2021.

Menurut Michelle Wondal, latihan maraton itu bisa berlangsung seharian.

“Kalau sudah kecapean, maka ibu-ibu itu jadi tidak lagi fokus. Tapi almarhum Pastor Melki tak mau peduli. Harus tetap fokus menyanyi dan menari. Justu karena harus latihan dan latihan secara tertib dan serius itu, Kelompok Maesaan Selbi Jakarta berhasil menang dan menjuarai lomba,” kenang Michelle.

Hasilnya membuat semua orang berbangga hati. Bagus dan juga menang jadi juara pertama di ajang lomba.

Menurut dia, ini bukan soal latihan fisik dan suara semata. Juga latihan olah mental. Karena latihan menyanyi dan lomba itu berlangsung selama berjam-jam lamanya.

Pastor Melki dan Pak John Pioh melatih lagu yang sebagian berbahasa Tombulu. Sedangkan ibu-ibu “Selbi” tidak semua tahu dan mengerti bahasa Tombulu. “Untuk gerakan dan koreografinya, itu job bagiannya Pak Franky Boseke,” terang Michelle.

Almarhum Pastor Yohanes Melki Tore MSC bersama anak yang ikut dalam rombongan perjalanan. (Michelle Wondal)

Sentuhan manusiawi

Yang menarik, tandas Michelle, saat ajang lomba itu berlangsung, almarhum Pastor Melki Tore MSC menunjukkan perhatiannya yang optimal dan luar biasa kepada semua anggota.

“Bukan hanya tas-tas milik ibu-ibu yang tampil di atas panggung itu dia jaga, tapi juga anak-anak mereka ikut diawasi dan dijagai Pastor Melki.”

Sentuhan manusiawi itu kuat pada sosok almarhum Pastor Melki. “Anak-anak bisa terlelap dalam tidurnya di atas pangkuan beliau saat kami bersama-sama dalam perjalanan dengan bus,” kenang Debbie LS Motulo.

Selbi tidak hanya tampil di Bali, saat lomba. Tapi juga tampil setiap kali ada acara manggung di Gereja Damai Kristus Paroki Kampung Duri, Jakarta Barat.

“Hampir setiap ada acara di Paroki Kampung Duri, Pastor Melki Tore MSC selalu minta Selbi bisa ikut tampil naik pentas. Pastor sungguh bangga mau tunjukin Selbi itu ke umatnya di sana,” kenang Michelle.

“Kalau pun, Selbi tidak bisa tampil naik pentas, paling tidak kami akan diundang hadir meramaikan acara itu di balik layar,” tambahnya (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here