Janji Reva: Hera Harus Bahagia

1
114 views
Ilustrasi: Penjor di jalanan di Denpasar, Bali by Mathias Hariyadi

MELIHAT Hera yang sudah sembuh dari sakitnya, walaupun tubuhnya masih ringkih dan hatinya koyak oleh perlakuan suaminya, Reva berjanji akan membahagiakan adik bungsunya itu.

Di hadapan Bunda Maria, ia menelusuri masa lalunya bersama Hera. Kilas balik yang terasa buram dan menyedihkan.

Reva menempatkan diri sebagai ibu yang telah meninggalkannya. Bayi yang lahir prematur dalam inkubator berkulit biru karena gangguan bilirubin itu menggenggam erat jemari Reva, membuka matanya, dan tersenyum kepadanya. Perawat yang menjaganya melihat keajaiban yang terjadi senja itu. Ia  berteriak kaget penuh syukur.  

Sejak saat itu Reva berjanji akan membahagiakannya. Enam belas tahun dijalaninya dengan kerelaan. Empatinya penuh atas anak yang urip-uripan itu, sudah ada di ujung maut, namun bisa mengelak darinya.

Reva rela mengalah dan bahkan diperkenalkan sebagai babunya, mengurus semua kebutuhannya, mencucikan pakaiannya, bahkan saat dia menstruasi, Semua Reva lakukan dengan ikhlas sebagai sulih ibunya.

***

Budhe.”

“Ada apa Felia?,” Jawab Reva.

Ia tahu pasti ada yang mau diungkapkan anak ini mewakili saudara-saudara lelakinya. Ia selalu dijadikan perantara bila mereka menginginkan sesuatu untuk kebersaman.

Seperti pada libur Natal yang lalu. Caranya persis sama dengan pesan yang hanya satu kata memanggil Reva dengan hanya ”Budhe”.

Jawab Reva juga sama. Ia membatin sebentar lagi akan ada jawaban. ”Tidak apa-apa, hanya kangen saja”.

”Tidak apa-apa, hanya kangen saja.”

Dugaan Reva terbukti dalam hitungan detik. Reva pun menjawab seperti biasanya melanjutkan pesan.

”Bener, hanya kangen? Budhe tahu lho kalau kalian berempat sedang berkumpul.”

Budhe tahu aja.”

”Ayo video call-an saja. Ada apa?” ajak Reva.

Wajah ceria empat keponakan Reva berebut unjuk muka menyapa budhe-nya. Percakapan ceria sore itu  menentukan kesepakatan untuk pergi ke Bali liburan nanti. Berenam dengan tante Hera.

Setiap liburan mereka biasanya dua tiga hari pergi ”berkelana” sambil berziarah. Beberapa perjalanan dilakukan dengan pergi berziarah ke Gua Maria Besokor lewat Semarang, pulangnya menginap di Temanggung lanjut ke Rowoseneng. Kesempatan lain pergi ke Gua Maria Tawangmangu lanjut ke Gua Maria Pereng Salatiga, Gua Maria Kerep Ambarawa, dan Gua Maria Rosa Mustika diakhiri menginap di Salatiga. 

Dua tahun lalu mereka berlima berziarah ke Gua Maria Kaliori di daerah Banyumas pulangnya menelusuri jalan Daendels sepanjang pantai selatan bagian barat Jogjakarta yang landai berlanjut dengan berkelok dan menanjak menuju Gua Maria Tritis di Gunung Kidul dan menginap di penginapan sederhana di Pantai Kukup.

Pernah sekali Deniya ikut bersama mereka, tetapi tidak asyik kata mereka, bahkan anaknya sendiri, Arsenio Perkasa Putra, merasa tidak nyaman pergi dengan mamanya.

”Ribet, sok borjuis,” Minta menginap di  hotel berbintang, makan di restoran mewah, belanja di mall. tidak mau menginap di losmen atau hotel kelas Oyo atau RedDoorz.

Reva membiasakan keempat keponakannya hidup sederhana,  sewa kamar berdekatan sehingga bisa rame-rame berkelakar, makan di pinggir jalan, di warung sederhana atau tenda, wedangan atau angkringan.

Terasa merakyat, karena prinsip mereka makan karena lapar, bukan karena gengsi.  Sejak itu mereka selalu pergi berlima. Reva seperti big bos yang dikawal seorang puteri dengan tiga pangeran berkelana menjelajah dunia. Reno dan Melania, Heru dan Sandrina, dan Heri tentu tidak bisa meninggalkan tugas dan bisnisnya untuk pergi bersama mereka.

Hanya Deniya yang ”pengangguran” yang punya waktu longgar, tetapi anak-anak selalu menolak. Sekali pergi dengan tantenya itu membuat bete kata mereka.

Tahun lalu mereka pergi ke tempat yang banyak wisatanya, ke pegunungan Dieng, menelusuri candi-candi yang tersebar di perbukitan Dieng. Juga pergi ke kawah Sikidang yang membuat napas sesak akibat belerang yang menguar dari perut bumi dan  letupan-letupan dari  kawah-kawah kecil di sekitar kawah Sikidang.

Kenangan foto mereka berlima dengan burung hantu dan elang di lengan masing-masing terasa unik. Felia dan Michael berani dan percaya diri, sedangkan Felix dan Arsenio tampak memberanikan diri dan agak takut mengizinkan lengannya dipakai bertengger burung yang tampak sangar itu.

Menikmati mie ongklok yang klintrek-klintrek khas Wonosobo serta membawa pulang manisan Carika adalah kenangan yang tak terlupakan. Agar nilai ziarah terwujud, pulang dari Dieng mereka singgah di Taman Doa Taroangro. Tempat yang kemungkinan akan mereka kunjungi lagi lain kesempatan.

***

Alphard sudah dikirim menjemput keempat anak yang akan bertualang ke Bali. Perjalanan ke Bali akan disopiri oleh Michael bergantian dengan Felix. Mereka berdua sudah memiliki SIM A yang diperoleh secara resmi dan sesuai aturan. Bahkan Felix, saat libur, sudah beberapa kali membawa mobil untuk mengantar penumpang yang menyewa mobil bapaknya.

Pukul 09.00 mobil sudah penuh, menjemput Reva dan Hera. Michael duduk di belakang kemudi, Reva menjadi navigator, di tengah ada Hera dan Felia, dan di belakang Felix dan Arsenio.

Mobilnya lebih dari nyaman dibanding perjalanan mereka yang lalu-lalu. Arem-arem berbalut telur dadar dengan isian sambal goreng ati sudah disiapkan Melania untuk makan siang dan camilan di perjalanan, selain sosis solo, dan keripik paru.

Mete gurih buatan ibunya Michael juga tersedia dalam stoples tupperware besar. Selain itu berbotol-botol jamu kunir asem dan beras kencur sebagai persediaan minum selama perjalanan tertata rapi dalam dos, selain air mineral tentunya.

Perjalanan paling jauh yang akan mereka tempuh sudah lebih dari nyaman karena adanya jalan tol Trans Jawa. Tol Probolinggo belum tersambung sampai Banyuwangi, sehingga harus melewati jalan arteri untuk sampai ke Ketapang.

Berkali-kali Felix mengusulkan menggantikan jadi sopir, tetapi Michael merasa pede pegang mobil  keren katanya. Menjelang sore dengan gerimis mobil memasuki taman nasional Baluran. Ada nuansa magis melewati hutan dengan monyet berseliweran di sepanjang jalan, selanjutnya perjalanan menyisiri pantai utara. 

Tampak Felia sudah akrab dengan tantenya dengan berbagi headset mendengarkan musik berdua. Kelihatannya selera musik mereka  sama. Juga saat mereka berdebat soal oppa-oppa Korea yang Reva benar-benar tidak tahu. Senja jatuh saat mobil memasuki pelabuhan penyeberangan Ketapang.

Antrian cukup panjang. Perjalanan yang hanya satu jam menjadi dua jam karena Bali termasuk WITA. Pukul 20.00 mobil keluar pelabuhan Gilimanuk. Mobil tidak meluncur ke selatan menuju ke Denpasar melainkan ke utara menuju Singaraja.

Dengan bantuan google maps perjalanan menjadi lancar. Sebelum tengah malam mereka telah memasuki hotel tua sederhana. Dalam dua kamar mereka beristirahat. Pagi-pagi mereka harus meninggalkan hotel karena akan melihat lumba-lumba yang berenangberiringan menghiasi Pantai Marina.

Lanjut sarapan siobak babi Khe Lok, masakan babi aneka bagian tubuh babi dengan saus coklat. Siangnya mereka berziarah ke Gua Maria Air Sanih. Tempat yang begitu sejuk untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Malamnya mengikuti misa di gereja Santo Paulus Singaraja.  Pagi harinya mereka meluncur ke selatan melewati danau Buyan lanjut ke danau  Bedugul. Mereka berhenti beberapa kali untuk menikmati makanan khas Bali yang tidak bisa leluasa dinikmati di Jawa dan berfoto penuh gaya.

Hari itu mereka menginap di hotel sederhana dengan pemesanan secara daring, RedDoorz  di  Jimbaran. Paginya mengunjungi Garuda Wisnu Kencana dan berlanjut ke pantai Pandawa. Berbelanja cepat-cepat di Joger dan Krisna agar tidak kemalaman sampai Palasari. Mereka akan menginap di susteran Palasari dan esoknya mengikuti misa di Gereja Hati Kudus Yesus Palasari yang sangat eksotik sebelum meluncur pulang. Kali ini Felix yang mengemudikan mobil. Reva tetap sebagai navigator.

Kegembiraan dan keceriaan tergambar apik dalam HP masing-masing. Tingkah kocak berebut posisi foto terlukis dengan kocak. Gelak Hera yang terselip di antara anak-anak saat bermain air dan mencari batu di Pantai Pandawa atau saat berfoto membuat Reva lega.

Kelegaan yang hanya bisa dinikmati sesaat.

***

Mereka sebetulnya masih ingin berlibur dua tiga hari lagi, tetapi Reno dan juga Suster Ignas mengirim pesan agar mereka cepat pulang. Menjelang siang mereka keluar dari pelabuhan Ketapang, mobil mengarah ke selatan menuju Banyuwangi untuk mencari nasi tempong.

Nasi hangat, sayuran, tahu, tempe, ikan asin, dan ayam goreng diguyur dengan sambal cabai dan tomat membuat mereka berenam kepedasan. Makanan khas Bayuwangi yang murah meriah dan membuat mulut huhah huhah, menggugah keringat mengucur deras.

Dalam perjalanan berhenti membeli ikan asap, mampir di karamba Kerapu hanya untuk berfoto,  dan mengabadikan 0 km Panarukan. Tugu itu mengingatkan pada pelajaran Sejarah, pembangunan  Jalan Pos 1000 km dari Anyer sampai Panarukan.

Bahagia beberapa hari itu hanya bertahan beberapa jam kemudian. Begitu turun dari mobil Hera, sudah dijemput polisi.

Ada apa ini?

Tangis Hera seakan menghapuskan kebahagiaan yang  barusan mereka rengkuh dan tak bisa lama berlabuh.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here